28~Gengsi

1231 Words

“Sore Ci,” sapa Arif ketika melihat gadis itu berada di dapur. Hari itu, Arif kembali pulang lebih cepat. Deswita belum kembali karena masih ada kegiatan yang dilakukan di luar, jadi Arif bisa bicara bebas dengan Suci. “Kamu ngapain lagi ngubek-ngubek dapur sore-sore begini? Nggak capek?” “Aku bikin tahu isi. Baru selesai.” Suci menyambut kedatangan Arif dengan senyum kecil. Berusaha terlihat biasa-biasa saja, meski jantungnya mendadak berdetak cepat tanpa aba-aba. “Mas kenapa pulang sore lagi?” Arif mengangguk-angguk, lalu duduk pada stool bar. Ia meletakkan tas laptopnya di kitchen island, beserta sebuah tas spunbond berwarna hitam dengan nama merek toko ternama. “Mau nemani kamu, biar nggak sendirian ngadapin Ibu Negara.” Suci terkekeh pelan sambil memindahkan gorengan tahu isi terak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD