Bab 4

998 Words
Dokter Lucas terkejut ketika Indira tiba-tiba saja meraih tangannya. Ia tidak menyangka artis cantik itu akan senekat itu menyentuhnya. Wajah sensual itu terlihat mengiba, seolah memaksanya melakukan sesuatu yang tak seharusnya. Keringat mulai merembes di pelipisnya. Rasa pening di kepalanya, menjelaskan betapa ia menahan diri untuk tetap berada pada jalurnya. Ia harus tetap profesional dan memegang sumpah jabatannya. “Bu Indira, sementara ini peralatan kami masih terbatas,” sahut dokter itu senetral mungkin, “kembalilah besok. Saya akan usahakan semuanya —” “Dokter juga merasa jijik?” Potong Indira. Lelaki muda itu menghela napas. “Bukan begitu.” “Lalu apa? Bukankah dokter bisa melakukan pengobatan dengan alat apapun, asal penyakit ini tidak menyiksaku.” Dokter Lucas menelan ludahnya. Satu-satunya benda yang bisa menyentuh bagian terdalamnya saat ini, hanyalah miliknya sendiri. Memikirkan hal terlarang ini membuat jakunnya bergerak dengan sensual di mata Indira. Sepanjang perjalanan karirnya sebagai dokter, Lucas belum pernah sekalipun merasa kikuk menghadapi pasiennya, baik pria maupun wanita. Mereka hanya terlihat seperti seonggok daging bernyawa, dengan masalah infeksi, bakteri, maupun jamur. Ia tak pernah merasakan debaran perasaan pada siapapun sebelumnya. Tapi kali ini, Indira datang seperti angin yang menggetarkan hatinya, membangkitkan gairahnya sebagai seorang lelaki. Dan memaksanya untuk mendobrak benteng yang dibangunnya. Lucas baru saja membuka tutup.kemasan salep, ketika suara ketukan terdengar di pintu ruang prakteknya. Ketukan itu semakin kencang, seolah mendesak agar pintu segera terbuka. “Dokter! Dokter!” Suara maskulin di balik pintu itu membuat Indira segera mengatupkan kedua pahanya. Ia menggesekkan kedua kakinya saat merapat, untuk meredakan sensasi gatal dan panas yang menyiksanya. “Datanglah besok. Aku akan resepkan beberapa obat untuk kamu minum,” ucapnya tanpa melirik sedikitpun pada Indira. Tangannya bergerak cepat menorehkan goresan pada kertas resep di atas mejanya. “Rahasiakan kedatanganku,” ucap Indira, “sekali ada gosip yang muncul, aku pastikan klinik ini akan tutup selamanya.” Dokter Lucas menarik sudut bibirnya dan tersenyum canggung. “Tentu saja. Privacy setiap pasien adalah prioritas.” Indira memakai kacamata hitamnya dan menutup separuh wajahnya dengan masker sebelum melangkah keluar. Malam itu rasa gatal semakin menjadi. Dengan gelisah, ia menatap suaminya yang masih duduk tenang menghadapi laptopnya. Beberapa bulan terakhir, Marcell terlihat semakin dingin. Ia bahkan semakin enggan menyentuh Indira. Seperti yang terjadi kemarin, semua karena inisiatif Indira. Indira mengetuk pintu ruang kerjanya. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri suaminya. Ia meletakkan kedua tangannya tepat di bahunya dan mulai memijatnya dengan lembut. Marcell mendengus kesal. “Kenapa? Gatal lagi?” “Cell,” panggilnya dengan lembut, “kamu nggak keberatan kalo aku melakukan pengobatan ke dokter, kan?” Marcell langsung memukul meja di hadapannya. “Coba kamu pikir! Istri seorang pemilik perusahaan farmasi terkena penyakit kelamin! Kamu mau namaku rusak, hah!” “Tapi Cell, aku —” “Dokter mana di kota ini yang nggak kenal sama Marcell Handara.” Indira langsung menghentikan pijatannya di bahu suaminya. Ia tahu, tak ada gunanya berdebat dengan lelaki yang tak peduli padanya. “Indi!” Suara tegas itu menghentikan langkah Indira. Ia memutar tubuhnya dengan wajah tanpa ekspresi. “Aku nggak bisa terus melayani kebutuhanmu,” ucap lelaki itu dengan pandangan yang tak lepas dari layar laptopnya, “... aku akan cari seorang asisten yang bisa melayani kebutuhan biologismu untuk mengatasi penyakit itu.” Jantung Indira seakan berhenti berdetak. “Seorang asisten! Jadi … Marcell, kamu lebih suka aku bercinta dengan lelaki lain. Apa kamu sudah nggak punya perasaan apapun buat aku?” batinnya. Tak mendengar jawaban dari istrinya, Marcell pun mengangkat kepalanya. Matanya menatap wajah sendu istrinya. “Kenapa? Bukannya seharusnya kamu senang?” “Nggak ada suami yang akan memberikan istrinya kepada lelaki lain. Aku nggak bisa memahamimu,” jawab Indira dengan getir. Ia merasa terhina dengan ucapan suaminya. Marcell berdiri dari kursinya. Ia melangkah mendekati Indira dan merengkuh si pemilik tubuh ramping itu dalam pelukannya. “Itu karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin kamu menderita hanya karena ketidakmampuanku memuaskanmu,” balas Marcell, “kamu tahu kan, perusahaan kita sedang laju. Aku harus fokus agar proyek-proyek kita bisa sukses dan mencapai nilai yang maksimal. Kita nggak perlu munafik, semua butuh uang. Aku harap kamu mau mengerti.” Indira menggigit bibirnya. Ia tahu dengan pasti, Marcell sedang memanipulasi perasaannya. Ia tahu bahwa suaminya bahkan merasa jijik untuk berhubungan dengannya. Tapi … ide mencarikan seorang asisten! Baginya itu adalah hal tergila! Keesokan harinya …. Celia mengulaskan sentuhan akhir di bibir Indira saat Erik melangkah mendekatinya. Senyuman nakal terlihat di bibirnya. Lelaki itu membungkuk dan mendekatkan bibirnya di telinga Indira. “Hari ini, adalah hari bahagiaku. Apa … kamu sudah siapkan hadiah buatku?” bisiknya. Indira membalas senyuman itu. “Tentu saja, aku akan siapkan seratus biji kondom buat kamu habiskan malam ini. Ah … sekalian sama lima banci kaleng di perempatan jalan seruni. Mereka pasti bisa memuaskanmu.” Celia langsung tertawa mendengar jawaban sahabatnya. Apalagi saat melihat wajah Erik yang memerah karena malu. “Indi! Kamu —” Baru saja Erik mengangkat tangannya untuk memukul Indira, Celia sudah mengabadikan dengan ponselnya. Erik segera menurunkan tangannya. “Hapus foto itu!” Perintahnya pada Celia. Celia melipat tangannya, bersedekap di d**a. “Asal kamu nggak ngerusak karyaku,” cicitnya dengan kesal. Mau tak mau lelaki itu pun pergi menjauh. Indira menyilangkan kakinya. Tubuhnya mulai bergerak gelisah. Sentuhan Erik, membuat rasa gatal itu kembali muncul. Ia meremas gaunnya kuat. “Indy, kamu nggak papa?” tanya Celia saat melihat perubahan di wajah sahabatnya. “Penyakitmu … kambuh lagi?” tebaknya. Indira mengangguk dengan gugupnya. Gegas ia berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Untung saja lobby hotel tempat lokasi syutingnya saat itu tidak terlalu ramai. Dengan gugup, ia berjalan sambil meraba isi tasnya, mencari benda getar yang selama ini membantu mengatasi masalahnya. Namun tangannya tak menemukan benda itu. Langkahnya terhuyung. Bagaimana ia bisa mengatasi masalahnya tanpa benda itu! Seharusnya Marcell bisa membantunya. Tapi … ia tidak mungkin mengganggu suami yang jelas-jelas hendak memberikannya pada lelaki lain. Tubuhnya mulai gemetar saat rasa itu semakin menggila. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika melihat sosok yang dikenalnya berdiri tepat di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD