Bab 5

1077 Words
Indira menegakkan tubuhnya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun. Terutama pada lelaki b******k yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Lelaki yang membuatnya terpaksa menikah cepat dengan Marcell, suaminya, hanya karena enggan saling bertatap muka. “Indira Cantika. Putri kesayanganku.” Ada senyum mengejek di sudut bibirnya. Indira bergeming di tempatnya. Ia tetap menahan gelitik yang mengganggu di bawah sana. Lelaki di hadapannya tak boleh tau sedikitpun tentang penyakit yang menjadi kelemahannya saat ini. “Jangan sekali-kali menyebut aku putrimu! Kamu sama sekali nggak pantas buat jadi papaku. Papaku sudah meninggal. Dan kamu … cuma lelaki b******k yang merayu mamaku buat recehan.” Lelaki itu mendecak seolah mengungkapkan kekagumannya. “Kamu … seharusnya berterima kasih padaku. Aku satu-satunya orang yang mau merawat dan menjaga janda tua seperti mama kamu. Cuma aku yang mau menyia nyiakan masa mudaku untuk perempuan yang bahkan tak bisa memuaskan laki-laki.” Indira mendecih, lagi-lagi ia mendengar kalimat penuh manipulasi semacam ini. “Kamu sudah mendapatkan kompensasinya, kan? Bukankah kamu memang mengincar hartanya? Aku tahu, kata-kata cintamu itu semua palsu, kan?” “Belum. Dia nggak kasih aku apapun.” Lelaki itu melangkah perlahan mendekati Indira. Perlahan ia membungkuk, mendekatkan bibirnya di telinga Indira. “Bagaimana kalau … sekarang kamu yang berikan kompensasinya. Menikmati tubuh artis cantik seperti kamu beberapa kali, sepertinya cukup.” Aroma parfum maskulin itu begitu pekat. Wangi itu membuat tubuhnya perlahan menghangat. Rasa aneh itu semakin kuat, menggelitik, panas dan terasa gatal. Tapi Indira segera meremas bagian bawah gaunnya, sengaja mencubit pahanya, menciptakan rasa sakit agar rasa tak nyaman itu teralihkan. Sementara tangan kanannya terangkat dan mendarat dengan kekuatan penuh di pipi ayah tirinya. “Jangan kurang ajar!” Teriaknya sebelum melangkah lebih cepat ke arah kamar mandi di sudut lobi. Napasnya terengah menahan emosi. Bagaimana mungkin ibunya bisa jatuh cinta pada pria sebrengsek Doan Valentino. Lelaki yang bahkan tidak bisa dibandingkan seujung kukupun dengan mendiang ayah kandung Indira. “Ah! Sial. Dia sudah membuang waktuku!” Karena gugup, tanpa sengaja ia menabrak seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya goyah karena high heels yang dipakainya. Ia hampir saja jatuh, seandainya tangan kekar itu tidak segera menangkapnya. Mata Indira membulat saat menyadari sosok lelaki yang sedang mendekapnya. Lelaki yang dikenalnya dalam jas putih dan wajah dinginnya. “Dokter Lucas?” Hatinya setengah bersorak, seolah menemukan seseorang yang bisa menyelamatkan nyawanya saat ini. “Dokter, tolong bantu aku,” pinta Indira. Lucas melepaskan tangannya dari pinggang Indira. Rasa canggung membuat tubuhnya terasa kaku dan lidahnya mendadak kelu. Tapi Indira justru menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Ruangan beraroma melati itu sepi, dengan kaca besar di atas wastafel areanya. Indira menelan ludahnya. “Penyakitku kambuh, aku tidak membawa alatku,” cicit Indira, “dan … aku tak punya waktu. Syuting akan segera dimulai.” Lucas terdiam. Ia tidak ingin menodai sumpah kerjanya. Ia harus tetap menjaga profesionalitas yang bertahun-tahun digenggamnya dengan kuat. “Dokter. Tolong aku. Dengan cara apapun.” Lucas menelan ludahnya, membuat jakunnya bergerak naik turun dengan sensual. Pemandangan yang membuat sensasi di tubuh Indira semakin tak tertahankan lagi. “Maaf, aku hanya bisa membantumu di klinik.” “Tapi ini darurat! Apa kamu mau biarkan aku mati karena malu di sini?” kesal Indira. “Aku tidak bisa membantumu.” Lelaki itu berbalik dan hendak keluar dari kamar mandi. Namun Indira meraih tangannya, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. Indira melangkah dan berdiri tepat di hadapannya. “Bagaimana kalau ini bukan tentang pekerjaanmu sebagai dokterku.” Tanpa menunggu jawaban, perempuan cantik itu berjingkat, sepasang tangannya melingkar di tengkuk dokter bertubuh jangkung itu. Ia mendekatkan bibirnya dan menghapus jarak di antara keduanya dengan sebuah ciuman. Indira melumat bibirnya dengan penuh hasrat. Napas mereka beradu, jantungnya berdebar dengan kencang. Jika suaminya hendak memberikannya pada pria lain hanya karena jijik, kenapa tidak ia sendiri yang memilih dengan siapa ia akan berhubungan. Lucas menarik tangan yang melingkar di tengkuknya. Wajahnya tetap sedingin es, walau hatinya sempat ragu. Sebagai seorang lelaki, ia tidak bisa berbohong. Ia juga tertarik secara fisik pada artis papan atas itu. Tapi bagaimana ia bisa menghadapi pasien-pasiennya nanti jika ia memelihara perasaan yang tak seharusnya ini. “Aku tidak mau merusak rumah tangga pasienku. Aku tidak mau merusak masa depan siapapun,” ucap lelaki itu dengan tegas. Indira merapatkan tubuhnya, tangannya menyentuh d**a bidang lelaki di hadapannya. Ia dapat merasakan kerasnya otot yang membalut tubuhnya. Dan sentuhannya berhenti ketika tubuhnya mengenali sesuatu yang menyentuh perutnya di bawah sana. “Dokter, aku tak punya waktu,” desis Indira, “jika dokter tidak bersedia menolongku mengatasi penyakit ini … terpaksa aku —” Ada pergulatan di hati Lucas. Profesionalisme dan perasaannya. Indira menggigit bibirnya dengan gelisah. Ia menyilangkan kedua kakinya seolah dengan begitu dapat mengurangi sensasi aneh di tubuhnya. Lucas mengepalkan tangannya saat melihat gerakan sensual perempuan di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, ia memutar tubuh Indira hingga menghadap ke cermin. “Maafkan aku,” lirihnya sebelum tangannya mulai bergerak dengan liar menyentuh tubuh Indira. Logikanya tak lagi sejalan dengan gerakan tubuhnya. Napasnya memburu, jantungnya berdebar dengan kencang saat bibirnya menyentuh setiap inci kulit lembut artis cantik yang juga adalah pasiennya. “Indi … kamu yakin menginginkan ini?” tanya Lucas sekali lagi, “belum terlambat kalau kamu mau pergi.” Hembusan napas yang menyentuh tengkuk Indira, membuat sensasi yang dirasakannya semakin menguat. “Aku menginginkannya,” lirih Indira terbalut dalam desahan napasnya. Lucas mengangkat gaunnya, menyentuh kulit paha yang tersembunyi di baliknya. Lembut dan terasa begitu kenyal. Sentuhan lembut yang merayap menuju bagian intinya, membuat Indira menahan napas saking gugupnya. Ia menggigit bibirnya, menahan diri agar tidak mengucapkan keinginannya. Ia dapat merasakan jemari itu saat menarik turun segitiga berenda yang sudah setengah basah. Ia merasakan dengan jelas sesuatu yang keras itu menyentuh pantatnya. “Setelah aku melakukannya, maka tak akan ada jalan untuk kembali,” ucap dokter Lucas seolah mengingatkan diri sendiri, “aku tak akan pernah melepaskanmu, Indi. Tak peduli siapapun suami kamu.” Indira menghela napas saat merasakan jemari itu menyentuh kelembutannya. Jemari yang membuat tubuhnya gemetar karena sensasi yang diciptakannya. Lucas benar-benar tidak merasa jijik pada tubuhnya. Penyakit itu seolah sama sekali tak berarti apapun baginya. Indira mendesah pelan. Rasa itu seperti menjalar di tubuhnya. “Dokter … tolong. Sentuh aku lebih dalam,” pintanya dengan suara serak. Lucas menelan salivanya. Rasa sesak di bagian bawah tubuhnya membuat kepalanya terasa pening. Ia menarik sabuk yang melingkar di pinggangnya dengan satu tangan bebasnya. “Aku harap kamu nggak akan pernah menyesal, Indira Cantika.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD