“Terima kasih, Dok,” gumam Celia. Setelah keluar ruangan, Celia menyusuri lorong menuju apotek sambil membaca resepnya. Antasida, sukralfat, dan suplemen yang namanya terlalu panjang untuk dia hafal. Apotek ada di ujung lorong, belok kanan setelah lift. Celia sudah hampir sampai ketika matanya melihat seorang perempuan yang tak asing, berbicara dengan seorang perempuan berseragam perawat. Keduanya berdiri cukup dekat satu sama lain, terlihat akrab, bukan interaksi profesional biasa antara pasien dan tenaga medis. Langkah Celia berhenti. Dia berpikir keras. Celia mengenal wajah itu dari media sosial. Ia masih ingat rasa ingin tahunya setelah mendengar cerita Indira tentang kedatangan tunangan Lucas. “Sierra? Apa yang dia lakukan di sini?” Celia menepi ke sisi lorong, menempatkan diri

