Agas menatap tajam ke arah mamanya. Dari tatapan mata itu, Lia tau, ada segumpal kecewa yang teramat dalam. Lia memilih mengalihkan tatapan, menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan pelan, dan ia melakukannya berkali-kali. Dia bukan tak mau bicara. Tetapi ini tentang traumanya, tentang kejadian pemerkosaan yang telah di rencanakan oleh Hanum, Irlayka dan Edo padanya. Jika sampai dia membuka mulut, maka bukan hanya itu yang akan ia terima, tetapi juga Agasnya yang akan di lukai. Dan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini hanyalah Agas. Bahkan lelaki yang begitu ia percaya, begitu ia cintai, telah dengan mudah mengkhianati dan memilih meninggalkannya hanya demi harta. “Aku kecewa sama mama.” Ucap Agas dengan suara tertekan dan tertahan. Detik kemudian, kedua mata Agas memerah,

