Mendongak, menatap wajah Agas yang tentu lebih tinggi darinya. Kedua mata Lia yang ujungnya sudah mulai terlihat bergaris itu, menyipit. Sampai kedua alis bertaut. Diam dengan wajah yang masih terlihat begitu biasa, tanpa ekspresi apa pun. Sengaja, Lia tak mengatakan apa-apa, hanya menanti Agas kembali berbicara untuk menjelaskan kalimat yang tadi. Hingga menit berlalu, tak ada yang memulai bicara. Agas terlihat bingung, menatap kelain arah, melepaskan lengan Lia yang ada di cekalan. Tangannya bergerak, mengacak rambut untuk melampiaskan rasa yang jadi sedikit grogi. Sangat takut jika mamanya kecewa. Walau dari awal dia memang tak terlalu mempedulikan perasaan Lia yang selalu sibuk dengan diri sendiri. “Gas, bisa jelaskan lebih lengkap?” pintanya, sama sekali tak beralih tatap. Agas men

