“Lo mau bunuh gue? Brengsekk!” kedua mata Hellen yang masih berembun itu melebar. Tangannya mendorong lengan Putra yang menyentuh kaki. “Pergi! Lo pergi! Jauhi gue!” Hellen mangambil bantal, memukulkan bantal itu ke kepala Putra berkali-kali. Tak tahan juga, akhirnya Putra beranjak, berdiri dan merebut bantal itu. “Hell, dengerin gue dulu!” ia pun berteriak, membuat amukan Hellen berhenti. “Lo tau, tai! Sekarang hidup gue udah hancur. Lo liat mama papa gue? Mereka mau cerai. Dan sekarang lo kasih solusi buat gugurin?” Hellen geleng kepala. “Sebenernya lo manusia bukan, sih?” “Hell, kita masih muda. Sekarang baru ujian semester, dan ujian akhir sisa beberapa bulan lagi. Kalo lo hamil sekarang, itu artinya lo bakalan di keluarin dari sekolahan.” Kedua mata Hellen menatap Putra makin leb

