Bab 6

1525 Words
Imperium Tower menjulang di hadapanku seperti monolit baja dan kaca, menembus awan sore. Ia bukan sekadar gedung; ia adalah simbol keangkuhan finansial, tempat di mana keputusan miliaran dolar dibuat dan hidup banyak orang dihancurkan seperti hidupku yang dulu. Di balik setelan jaket hitamku, jantungku berdetak dengan irama yang tenang, irama seorang operator yang siap menghadapi medan perang. Undangan palsu yang kubuat atas nama Direktur Non-Eksekutif yang sakit-sakitan, Arya Dirgantara terasa dingin di tanganku. Ini adalah kunci yang kubangun dari kebohongan dan pengetahuan masa lalu. Aku memarkir mobil rental di area parkir VVIP, bertingkah seolah-olah tempat ini adalah halaman belakangku sendiri. Langkah pertama dalam menipu adalah menipu dirimu sendiri agar percaya pada kebohongan itu. Pintu otomatis lobi utama terbuka, menyambutku ke dalam kuil kekayaan. Lantai marmer mengkilap mencerminkan diriku sosok yang terlihat tenang, tetapi di dalamnya, aku adalah api yang membara. Puluhan eksekutif berjas mahal berlalu-lalang, membawa kartu identitas berlogo Imperium yang sah. Aku merasa seperti mata-mata yang berada 10.000 mil di belakang garis musuh. Aku berjalan menuju meja registrasi utama Puncak Inovasi. Tiga pria keamanan berbaju serba hitam, dengan alat komunikasi yang tersembunyi, berdiri di sana. Mereka bukan sekadar penjaga pintu; mereka adalah filter yang dirancang untuk menjaga kemurnian lingkaran elit ini. Salah satu petugas keamanan, yang memiliki postur tubuh seperti atlet dan mata yang tajam seperti elang, menyambutku. Namanya tersemat di lencananya: Herman. Herman adalah ujian pertamaku. "Selamat malam, Nona. Bolehkah saya lihat undangan Anda dan kartu identitas?" tanya Herman dengan nada datar, suaranya terlatih untuk menunjukkan keramahan yang dingin. Aku menyerahkan undangan palsu itu, menjaga tanganku tetap stabil. "Tentu. Saya Yura, mewakili Bapak Arya Dirgantara. Dia berhalangan hadir di menit terakhir, jadi saya datang sebagai perwakilan CEO Ascend." Herman mengambil kartu itu. Matanya langsung tertuju pada nama 'Arya Dirgantara' di bawah akses eksklusif, lalu beralih ke kartu namaku yang minimalis. Aku tahu ia sedang memproses diskrepansi itu: seorang perwakilan muda yang tidak terdaftar, menggantikan seorang direktur tua yang jarang muncul. Herman mengambil pemindai QR dan mengarahkannya ke undangan. Suara bip yang kuantisipasi terdengar. Herman mengerutkan kening. Itu bukan suara persetujuan, juga bukan suara penolakan total. Itu adalah suara peringatan. "Nona Yura," Herman mengangkat matanya, tatapannya menembus. "Sistem kami menunjukkan bahwa undangan ini terdaftar atas nama Bapak Arya. Tetapi kode aksesnya... tidak terhubung dengan transfer izin resmi. Ada catatan bahwa undangan ini belum diaktivasi oleh pemilik aslinya." Aku menarik napas dalam. Ini adalah momen kritis. Jika aku panik, permainan berakhir. Aku harus bersikap seperti seorang eksekutif sejati yang terbiasa dengan kegagalan teknologi yang remeh-temeh. "Ah, itu masalah teknis di sisi kami, Herman," kataku, memajukan sedikit langkah, memaksanya untuk mendongak sedikit kepadaku. Aku tidak meninggikan suara, tetapi memberinya ketegasan yang mematikan. "Pak Arya mengalami masalah pada sistem enkripsi pribadinya. Kami menghubungi divisi IT Imperium Group pagi ini, mereka berjanji akan memberikan otorisasi manual." Herman tidak bergeming. "Kami tidak menerima instruksi manual semacam itu, Nona. Prosedur standar Imperium adalah otorisasi digital penuh, terutama untuk Puncak Inovasi." Aku memaksakan senyum tipis, menyamarkannya dengan rasa frustrasi profesional. "Herman, coba Anda pikirkan. Apakah Anda benar-benar percaya bahwa Direktur Non-Eksekutif Imperium Group akan menyia-nyiakan slot VVIP yang mahal karena masalah sinkronisasi cloud? Kami sudah melakukan perjalanan jauh untuk pertemuan ini. Ini adalah masalah mendesak yang harus diselesaikan di tingkat pimpinan Anda, bukan di pos pemeriksaan dasar." Aku menggunakan istilah teknis ('sinkronisasi cloud') dan istilah korporat ('tingkat pimpinan') untuk menunjukkan bahwa aku berada di level yang berbeda, bahwa masalah ini berada di atas gajinya. Herman mengambil radio komunikasinya, ragu-ragu. Aku tahu aku telah menanamkan benih keraguan. Petugas keamanan dilatih untuk mengikuti aturan, tetapi mereka juga dilatih untuk tidak membuat marah orang-orang yang mungkin memiliki kekuasaan besar. Ia menatap kartu namaku lagi: Yura, CEO Ascend. Nama yang belum dikenal, tetapi diwakili oleh tiket Arya Dirgantara. Logika Herman berteriak bahwa ini salah, tetapi insting profesionalnya memperingatkan bahwa ini mungkin benar. "Saya harus menghubungi atasan saya, Nona Yura," katanya akhirnya. "Silakan," kataku, menyilangkan tangan, menatapnya lurus. "Tetapi saya harap Anda tahu bahwa jika Anda menunda saya, dan saya melewatkan slot presentasi informal dengan salah satu investor malaikat di lantai 80, saya akan memastikan Pak Arya tahu betapa efisiennya keamanan Imperium dalam menghalangi kesepakatan bernilai jutaan dolar." Itu adalah ancaman yang terselubung. Aku tidak mengancamnya secara pribadi, tetapi mengancam kinerja profesionalnya di mata atasan yang lebih tinggi. Herman, setelah jeda yang terasa seperti selamanya, meletakkan radio itu kembali. Aku melihat gejolak internalnya—pertempuran antara protokol dan pragmatisme. "Baiklah, Nona Yura. Saya akan memasukkan Anda ke dalam daftar tamu sebagai 'Perwakilan Khusus dengan Otorisasi Tertunda'," Herman mengambil kartu akses tamu sementara yang sangat mendasar. "Anda harus menggunakan lift layanan non-eksekutif di sudut. Lantai acara adalah 88. Setelah Anda mencapai Lantai 88, Anda harus mendaftar ulang di Meja Pendaftaran Utama di sana." Aku mengambil kartu itu, terasa berat di tanganku simbol kemenangan kecil. "Terima kasih, Herman. Anda membuat keputusan yang bijak. Saya menghargai efisiensi Anda." Aku memberinya senyum yang sama dinginnya dengan mataku, lalu berbalik dan berjalan menuju lift layanan yang ia tunjuk. Saat aku berjalan, aku menyadari filosofi di balik kemenangan ini: keamanan Imperium Group terlalu fokus pada teknologi dan kekuasaan yang mapan, sehingga mereka gagal melihat ancaman yang datang dari nol. Mereka berpikir hanya orang-orang berkuasa yang bisa menembus; mereka tidak mengantisipasi seorang wanita yang berbekal memori masa lalu dan keberanian. Aku telah menipu sistem, bukan dengan meretas kode QR, tetapi dengan meretas psikologi Herman. Lift layanan terasa jauh lebih sunyi dan polos dibandingkan lift utama yang dihiasi lampu kristal. Di lift ini, aku bisa melepaskan sedikit ketegangan. Lantai acara, 88. Itu adalah rumah kaca raksasa di puncak menara, tempat para elit bersosialisasi di tengah pemandangan kota. Tempat di mana Leo pernah membawaku, menjanjikan masa depan yang ternyata hanyalah ilusi. Aku tiba di Lantai 88. Pintu lift terbuka ke lorong yang masih sepi. Aku harus melewati serangkaian lorong mewah sebelum mencapai aula utama tempat Puncak Inovasi berlangsung. Lorong ini terasa seperti zona penyangga, dan aku sadar Herman telah mengalihkan aku ke rute yang lebih sulit untuk diawasi. Aku melihat peta lantai darurat di dinding. Meja Pendaftaran Utama ada di sebelah timur. Di sana, aku akan bertemu dengan tingkat keamanan yang berbeda lagi. Saat aku melangkah, aku merasakan pandangan yang mengikuti. Itu bukan mata manusia, tetapi kamera keamanan yang sangat kecil yang tertanam di bingkai pintu. Herman mungkin mengizinkanku lewat, tetapi sistemnya pasti telah memicu peringatan halus. Aku memeriksa jam tangan. Waktu kritis. Aku hanya punya 30 menit sebelum acara utama Rian Aksara dimulai. Aku tidak bisa membuang waktu untuk mendaftar ulang di meja utama. Aku harus memotong jalan. Aku melihat pintu ganda bertuliskan "Hanya Staf Layanan VIP". Jika aku mengambil rute staf, aku akan menghindari pendaftaran ulang dan langsung menuju area dapur katering, yang kemungkinan besar terhubung ke aula utama. Itu berbahaya, tetapi cepat. Aku menyentuh pegangan pintu, menarik napas, dan teringat akan kilas balik mengerikan (2 menit) saat aku dipecat dari sebuah perusahaan setelah kebangkrutan, mengingat penghinaan karena dianggap 'tidak layak' untuk berada di lingkaran mereka. Penghinaan itu sekarang menjadi bahan bakarku. Aku mendorong pintu itu. Aku berada di belakang layar, di antara para pelayan yang sibuk. Bau makanan mewah, suara dentingan piring, dan langkah kaki tergesa-gesa. Tidak ada yang memperhatikan seorang wanita berjas hitam. Aku berjalan dengan tujuan, seperti staf manajemen yang sedang terburu-buru. Aku berhasil. Aku memotong jalan, melewati dapur katering, dan menemukan pintu samping yang mengarah ke aula utama acara. Aku menarik napas panjang, menenangkan pikiran. Langkah kakiku membawaku keluar dari kegelapan layanan menuju cahaya lampu sorot dan gemerlap gaun. Di hadapanku, ratusan orang penting dunia bisnis berkumpul. Di ujung aula, sebuah podium besar dihiasi logo Imperium Group. Dan di sana, berdiri di atas panggung, adalah sosok yang menjadi targetku, pusat dari semua kekuasaan di ruangan ini. Rian Aksara. Si Kucing Hitam. Ia baru saja menyelesaikan pidatonya, tatapannya menyapu kerumunan dengan otoritas yang tak terbantahkan. Matanya dingin, memancarkan kecerdasan yang kejam. Ia dikelilingi oleh para pengawalnya yang berpostur tegak, dan para CEO yang berbondong-bondong mendekat untuk menjabat tangannya. Aku berdiri di pinggir, mengamati mangsaku. Herman hanya memberiku akses ke perimeter. Sekarang, aku harus memaksa Rian Aksara untuk melihatku, di tengah lautan kekuasaan ini. Rian turun dari podium, ia mengambil segelas kopi yang disiapkan oleh asistennya. Aku menyadari satu hal yang vital: untuk bicara dengan pria seperti dia, seorang Yura yang tidak dikenal tidak akan pernah mendapatkan janji temu. Aku harus menciptakan peristiwa yang tidak mungkin ia abaikan. Aku melihat ke bawah ke tangan kiriku, yang memegang segelas kopi panas yang baru saja kucuri dari troli katering. Aku tersenyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan. Ini adalah waktunya untuk melaksanakan rencana tabrakan. Aku hanya punya waktu beberapa detik sebelum Rian menghilang dalam kerumunan investor. Aku harus mendekat, harus memaksa kontak fisik. Aku mulai bergerak ke arah Rian, menembus kerumunan. Jaraknya hanya lima meter. Tiga meter. Dua meter. Tiba-tiba, sebuah suara tajam terdengar melalui alat komunikasi Herman di telingaku (yang entah bagaimana aku bisa mendengarnya karena aku sangat dekat dengan area keamanan utama). "Perhatian! Semua personel keamanan Lantai 88. Seseorang dengan akses tertunda terdeteksi di zona VIP. Kunci target. Saya ulangi, kunci target!" Jantungku melonjak. Aku telah terdeteksi. Aku tidak punya waktu lagi. Aku berlari, memangkas jarak yang tersisa. Aku harus berhadapan dengan Rian sekarang juga, sebelum pengawal Herman atau yang lain menangkapku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD