Udara di apartemen studiolah terasa berbeda. Bukan lagi udara tipis yang menyesakkan seperti enam bulan lalu, melainkan udara yang mengandung bau kopi mahal, kertas arsitek baru, dan, yang paling penting, aroma angka-angka yang terus bertambah.
Enam bulan telah berlalu dengan kecepatan yang tidak wajar. Aku tidak hanya menunggu; aku berburu. Setiap jam, setiap menit, aku memantau pergerakan saham ‘sleepers’ itu, menjual sebagian kecil di puncaknya dan berinvestasi kembali secara strategis, menggunakan fluktuasi pasar yang kuketahui dengan pasti akan terjadi. Itu adalah permainan yang brutal dan membuatku lelah secara mental, tetapi hasilnya tidak bisa disangkal.
Di layar monitor terbaruku, sebuah angka bersinar terang, sebuah monumen bagi kesabaranku: $503,127. Ini adalah jumlah yang mustahil untuk dikumpulkan dalam waktu singkat tanpa koneksi atau warisan. Ini adalah bukti bahwa pengetahuan adalah mata uang terkuat di dunia ini.
Aku menatap saldo itu, bukan dengan euforia, tetapi dengan kepuasan dingin. Ini bukan akhir. Ini baru tiket masuk ke permainan sesungguhnya.
Aku memanggil Jefri, broker finansial kecil yang kupekerjakan untuk menangani transaksi harian Ascend perusahaan yang baru eksis di kertas. Jefri adalah pria yang kompeten, tetapi matanya selalu menunjukkan ketakutan dan kebingungan setiap kali ia melihat laporan keuanganku. Ia tidak tahu bagaimana seorang wanita yang memulai dengan $5,000 bisa mencapai setengah juta dolar hanya dengan empat saham yang dipilih secara acak.
"Selamat siang, Yura. Saya sudah memproses penarikan sebagian profit seperti yang Anda minta," suara Jefri terdengar hati-hati melalui telepon.
"Saya harus mengatakan, ini adalah... keajaiban. Bahkan, ini melampaui statistik keajaiban."
Aku berjalan menuju jendela, kini mengenakan setelan kasual bisnis yang tajam, bukan lagi kaus usang yang dulu kupakai. "Jefri, saya mempekerjakan Anda untuk efisiensi, bukan untuk analisis teologis. Apakah dana $10,000 sudah ditransfer ke rekening operasional Ascend?"
Jefri berdeham. "Sudah, Yura. Tapi... jika boleh saya bertanya, apa langkah selanjutnya? Dengan modal sebesar ini, Anda bisa mulai mendirikan perusahaan R&D yang terjamin, jauh dari mata-mata korporat. Anda bisa tetap anonim dan membangun Ascend perlahan."
Aku berhenti. Itu adalah saran yang logis, saran yang akan diambil oleh Yura yang lama. Yura yang takut dan mencari keamanan. Tetapi keamanan bukanlah tujuan. Kehancuran adalah tujuannya, dan kehancuran membutuhkan visibilitas.
"Anonimitas adalah kemewahan yang tidak bisa saya beli, Jefri," jawabku, suaraku rendah.
"Kecepatan adalah keunggulanku, dan kecepatan membutuhkan perhatian. Kita telah selesai bermain sebagai entitas hantu di pasar saham. Sekarang, Ascend harus terlahir kembali sebagai ancaman nyata."
"Ancaman nyata membutuhkan pendanaan Series A yang sangat besar, Yura. Itu membutuhkan investor institusional, yang berarti Anda harus keluar dari bayangan. Anda harus 'muncul'." Jefri terdengar tegang.
"Tepat sekali. Di mana 'kemunculan' terbaik terjadi minggu depan?"
Ada jeda panjang di telepon. "Yura, Anda belum memiliki produk fisik. Hanya cetak biru. Investor besar tidak akan melirik Anda. Mereka hanya tertarik pada 'darah biru' atau pendiri yang sudah mapan."
"Saya tahu aturan permainannya, Jefri. Beri saya nama acara di mana semua hiu itu berkumpul. Di mana Leo akan mengirim mata-matanya. Di mana Rian Aksara akan berada."
Jefri mendesah, menyerah pada keputusanku yang tak terhindarkan. "Acara tahunan 'Puncak Inovasi' yang diselenggarakan Imperium Group. Itu adalah liga yang berbeda, Yura. Bukan sekadar investor malaikat biasa. Itu adalah pertemuan para CEO, bankir investasi, dan pemilik dana abadi. Undangan sangat ketat. Tanpa rekomendasi dari pemegang saham Imperium atau perusahaan yang baru saja IPO, Anda bahkan tidak bisa mendekati liftnya."
Aku merasakan adrenalin yang familiar. Hambatan. Tepat seperti yang kubutuhkan.
"Imperium Group. Itu berarti Rian Aksara adalah tuan rumahnya," gumamku, lebih kepada diri sendiri. "Sempurna."
Aku mengakhiri panggilan dengan Jefri, yang berjanji akan mencari tahu siapa saja yang memiliki akses ke acara itu, meskipun ia tahu ia tidak akan bisa mendapatkan satu pun undangan untukku. Aku membuang ponselku ke sofa dan berjalan ke meja, tempat aku sekarang menyimpan semua laporan pasar dan analisis pesaing, termasuk Innovatech.
Aku mencari arsip lama di laptopku bukan arsip keuanganku, tetapi arsip berita yang kukumpulkan di kehidupan lama.
Aku menemukan artikel lama yang kuingat dengan baik, bertanggal tepat enam bulan dari sekarang: 'Liputan Puncak Inovasi Imperium Group: Di Mana Kesepakatan Jutaan Dibuat'.
(Kilas Balik - 45 Detik)
Aku ingat membaca artikel itu di kehidupan lama, saat aku baru saja dipecat dan berjuang untuk membayar sewa. Aku melihat foto-foto glamor para CEO, termasuk Leo yang tersenyum lebar di samping seorang menteri. Artikel itu memuji kesuksesan Innovatech dalam mendapatkan pendanaan besar di acara tersebut. Namun, di baris kecil di bagian bawah, ada kisah tentang perusahaan kecil bernama 'Vanguard Solutions' yang tiba-tiba kehilangan semua investornya setelah acara itu. Kemudian, di kehidupan lama, terungkap bahwa di acara itulah Innovatech telah menyebarkan rumor palsu dan merusak reputasi Vanguard. Puncak Inovasi bukan hanya tempat kesuksesan; itu adalah arena pembantaian yang elegan. Aku bersumpah, saat itu, bahwa tempat seperti itu selalu menjadi tempat pengkhianatan terjadi.
Aku mematikan layar, menatap bayanganku di monitor gelap. Puncak Inovasi. Tempat di mana Leo mengukuhkan kekuasaannya. Tempat di mana ia mulai menyempurnakan seni pengkhianatan korporatnya.
"Kau tidak akan menghancurkanku kali ini, Leo," bisikku.
"Aku akan menggunakan arena itu untuk mengakhiri permainanmu."
Aku duduk di depan printer, mencetak cetak biru logo gunung es Ascend elegan di atas, mematikan di bawah di atas kertas matte tebal. Aku perlu menanamkan identitas ini ke dalam diriku. Aku harus mulai berpikir, bertindak, dan berbicara seperti CEO yang akan datang.
Aku mengambil jaket hitam yang baru kubeli jaket yang terasa berat dan mahal, sangat berbeda dari pakaian kantorku yang polos dulu. Perubahan ini lebih dari sekadar penampilan; itu adalah baju zirah.
Aku menyadari bahwa masalahnya bukan bagaimana mendapatkan undangan. Masalahnya adalah mengapa mereka harus mengundangku. Dan jawabannya adalah: mereka tidak akan melakukannya. Mereka tidak melihatku. Aku tidak termasuk. Jadi, aku harus memaksa jalanku masuk.
Aku mengeluarkan laptopku lagi, membuka program desain grafis yang dulu kukenal dengan baik. Aku dulu adalah spesialis IT, dan itu berarti aku tahu cara memanipulasi data visual.
Pikiranku kembali pada apa yang dikatakan Jefri: Undangan sangat ketat, dikirimkan melalui kode QR yang terenkripsi dan terhubung ke daftar tamu utama.
"Kode QR, ya?" Aku menyeringai tipis.
"Sistem yang sempurna adalah sistem yang paling rapuh."
Aku menghabiskan dua jam berikutnya, bukan merancang teknologi Hyper-Cloud, tetapi merancang kebohongan yang sempurna. Aku mencari contoh undangan Puncak Inovasi tahun lalu yang bocor di media sosial semua detail visual, jenis kertas, dan formatnya.
Aku perlu mengaitkan diriku dengan seseorang yang punya kredibilitas, tetapi yang tidak akan pernah hadir. Seseorang yang memiliki undangan resmi yang mungkin dibatalkan atau tidak terpakai. Aku mulai mencari daftar para eksekutif Imperium Group yang tidak berada di garis depan.
Aku menemukan nama yang sempurna: Bapak Arya Dirgantara, seorang Direktur Non-Eksekutif di divisi properti Imperium Group. Pria tua yang jarang muncul di acara teknologi dan dikenal sakit-sakitan.
Aku memanipulasi file undangan yang kutemukan, mengganti nama dan jabatan, tetapi meninggalkan kode QR yang tampak valid. Aku bahkan membuat kartu nama baru untuk diriku, sangat minimalis, hanya: Yura, CEO Ascend.
Saat fajar mulai menyingsing, printerku mengeluarkan selembar kertas tebal dengan tinta timbul yang tampak otentik. Undangan Puncak Inovasi Imperium Group. Di bagian bawah tertulis: Akses Eksklusif. Arya Dirgantara.
Aku mengambil undangan palsu itu, merasakan ketebalannya. Ini adalah pelanggaran etika dan mungkin pelanggaran hukum jika ketahuan. Aku menatap logo gunung es yang tersembunyi di sudut kartu namaku.
Integritas adalah kemewahan. Kecepatan adalah kebutuhan.
Aku ingat kata-kata Jefri: "Anda harus muncul."
Aku membalik undangan itu di tanganku. Ini bukan lagi tentang negosiasi atau mencari jalan masuk yang aman. Ini tentang penaklukan. Aku harus menipu sistem ini, memasuki lingkaran elit ini, dan memaksa Rian Aksara untuk melihatku, dan yang paling penting, memaksa Leo untuk merasakan kehadiranku.
"Semua orang yang sukses menipu sistem pada awalnya," kataku pada diri sendiri, membenarkan tindakanku.
"Aku hanya memastikan bahwa aku menipu dengan kecerdasan, bukan dengan kebohongan yang ceroboh."
Aku menyimpan undangan palsu itu di dalam dompet baruku. Puncak Inovasi Imperium Group akan diselenggarakan tiga hari lagi. Tiga hari untuk menjadi Bidadari di Lantai Seratus, bahkan jika aku harus menyusup melalui pintu belakang.
Aku mengambil kunci mobil rental bukan mobil mewah, tetapi cukup layak untuk tidak menarik perhatian buruk dan keluar dari apartemen. Sudah waktunya untuk mematangkan rencanaku untuk ‘bertabrakan’ dengan Si Kucing Hitam, Rian Aksara.