6. Pernikahan

1537 Words
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA VANIA SALSABILA BINTI FARIS ANWAR DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!" Suara Eric menggema di ruangan yang sunyi. Satu tarikan napas, tanpa jeda, tanpa ragu, seperti orang yang sudah menghafal kalimat itu berkali-kali di kepalanya. Penghulu mengangkat tangannya. "Sah!" Dan diikuti oleh puluhan suara dari tamu undangan. "Sah!" "Sah!" "Sah!" Vania menunduk. Matanya terpejam, kedua telapak tangannya terbuka di pangkuan, seolah menangkap berkah yang turun dari langit. Dadanya berdebar, karena bahagia yang bercampur lega. Akhirnya. Semua keraguan, semua kegelisahan, semua bisikan Dastan di telinganya, kini tertutup oleh satu kata, sah. Di sebelahnya, Eric juga menunduk. Tapi matanya tidak terpejam. Tatapannya kosong, menembus meja kaca di depan penghulu, ke suatu tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun. Di barisan keluarga, Disya mengusap sudut matanya dengan tisu. Air mata mengalir di pipi yang mulai keriput. Tangan kanannya memegang erat tangan keponakannya, Shana, seolah butuh sesuatu untuk berpijak. Putra sulungnya menikah. Suaminya tidak ada di sini untuk melihat. Tapi Disya tetap tersenyum, meskipun senyumnya bergetar. Rini dan Faris duduk bersebelahan. Rini menekan bibirnya, menahan tangis haru. Faris menggenggam tangan istrinya, jempolnya mengusap punggung tangan Rini pelan. Keduanya berucap syukur karena acara ijab qobulnya berjalan lancar tanpa kendala. Tapi di sudut lain ruangan, kursi yang seharusnya diduduki Dastan kosong. Hanya ada dekorasi bunga dan kertas undangan di atasnya. Penghuninya tidak hadir. Akad nikah selesai. Suasana berubah dari khidmat menjadi ramai. Sesi foto keluarga inti dimulai, Vania dan Eric duduk di pelaminan, Disya di sisi Eric, Rini dan Faris di sisi Vania. Lampu kilat berkedip-kedip. Fotografer meminta mereka tersenyum. Eric tersenyum. Vania tersenyum. Tapi senyum Eric tidak sampai ke mata. Setelah sesi foto, tamu undangan mulai berdatangan ke pelaminan. Jabat tangan, peluk cium, ucapan selamat. Vania menerima semuanya dengan senyum ramah, meskipun jari-jarinya mulai pegal karena terlalu banyak digenggam. Kebaya putih gading yang dikenakannya terasa sempurna. Sulaman di d**a berkilau setiap kali lampu ruangan menyorotnya. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan melati segar yang harumnya masih tercium. Di sampingnya, Eric berdiri tegak dengan jas hitam dan kemeja putih. Posturnya tegap, bahunya bidang, wajahnya tampan, tapi ada jarak. Jarak yang bahkan kebaya putih gading dan jas hitam mahal tidak bisa menutupinya. "Dastan mana, Sha?" Disya menoleh pada Shana, keponakannya yang berdiri di dekat pelaminan. Wajah Disya mulai menunjukkan kekhawatiran. Shana mengerjap, lalu memindai ruangan. Matanya bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lain, semua kerabat, semua teman, semua kenalan. Tidak ada Dastan. "Dari akad tadi, Tante belum lihat Dastan, lho." Suara Disya mulai cemas. "Kemana dia ya?" "Biar aku telepon aja, Tan." Shana menarik ponsel dari saku gaunnya. "Oh, ya sudah, cepat, Sha, suruh ke sini." Disya menepuk lengan Shana. Shana turun dari pelaminan, berjalan ke sudut ruangan yang lebih sepi. Jari-jarinya menekan nama Dastan di kontak. Vania menoleh ke samping. Bibirnya bergerak pelan, hanya cukup untuk Eric dengar. "Aku gak lihat adik kamu." Eric tidak menoleh. Matanya tetap lurus ke depan, ke arah tamu-tamu yang tidak begitu ia kenali. Kerabat jauh ibunya, kolega bisnis ayahnya yang dulu, beberapa teman kuliah yang diundang karena alasan formalitas. "Biarkan saja." Suaranya datar. "Bukankah tanpa dia, acaranya lebih baik?" Vania tersenyum tipis. Senyum yang tidak yakin. "Tapi dia beneran gak hadir di acara sakral kakaknya?" "Tidak apa-apa." Eric mengalihkan berat badannya ke kaki kanan. "Bukan masalah." Vania menatap suaminya. Pria yang baru saja sah menjadi miliknya. Dan untuk pertama kalinya, Vania melihat sesuatu di matanya, bukan cinta. Bukan kehangatan. Tapi kelelahan. Dan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang Vania tidak bisa pahami. Di sudut ruangan, Shana masih menunggu. Ponselnya berdering di telinga, dan di seberang sana, tidak ada jawaban. Jari Shana mulai mengetuk-ngetuk pelan di lengan kirinya. Hampir menutup panggilan, tapi suara berat di seberang sana mengejutkannya. "Halo?" Suara berat itu keluar dari speaker. Shana mendengus. "Dastan! Di mana?" Matanya memindai ruangan lagi, lalu kembali ke pelaminan, ke Vania yang tersenyum, ke Eric yang berdiri diam. "Di rumah, baru bangun. Kenapa, bawel?" Suara Dastan terdengar malas, seperti orang yang baru saja diganggu tidurnya. Shana mendengus. "Eric nikah, lho, kenapa masih di rumah. Tante nyariin, cepetan ke sini." "Akad nikahnya sudah selesai?" "Ya. Baru saja selesai. Cepat ke sini." "Iya, bawel!" Panggilan berakhir. Shana menatap layar ponselnya, menggeleng-gelengkan kepala. "Aneh, kakaknya nikah bukannya jadi saksi malah tidur!" Ia misuh-misuh sendiri. Dia melangkah kembali ke pelaminan, mendekati Disya, dan berbisik. "Tante, Dastan bilang dia baru bangun. Katanya mau ke sini sekarang." Disya menghela napas lega, tapi dahinya tetap berkerut. "Astaga, anak itu. Kakaknya nikah, masih saja seperti itu." Vania tidak mendengar sisanya. Matanya tertuju ke pintu ruangan, seolah menunggu seseorang masuk. Tapi Dastan tidak muncul. Dan di pelaminan, Eric masih berdiri tegak dengan senyum di bibirnya, senyum yang tidak pernah sampai ke mata. *** Pintu ballroom terbuka di pertengahan acara. Dastan melangkah masuk dengan santai, tanpa jas, hanya kemeja putih lengan panjang yang tidak dimasukkan sempurna ke celana kain hitam. Rambutnya sedikit berantakan, seperti baru saja keluar dari kamar mandi tanpa sempat menyisir. Beberapa tamu menoleh. Beberapa menyapanya. Dastan membalas dengan senyum tipis, tangannya terangkat setengah memberi salam pada kerabat yang dikenalnya. Matanya bergerak cepat memindai ruangan, mencari satu sosok. Ibunya. Disya sudah menatapnya dari kejauhan. Tangannya bertolak di pinggang, ekspresi wajahnya campuran antara lega dan kesal. Dastan mendekat. Langkahnya pelan, tidak terburu-buru. "Mama." Disya memukul lengan Dastan. Tidak keras, tapi tegas. "Kenapa tidak hadir saat akad?" omelnya, suaranya sedikit meninggi. Dastan tertawa kecil. Tangannya mengusap lengan yang baru dipukul, meskipun tidak terasa sakit. "Mama tau aku pulang jam empat pagi tadi." "Kamu ini," Disya menggeleng-gelengkan kepala. "Kakaknya nikah malah tidak hadir. Mama malu sama keluarga Vania." "Tapi acaranya lancar, kan?" Dastan tidak menunggu jawaban. Matanya sudah bergerak meninggalkan wajah ibunya, melintasi meja-meja, dan berhenti di pelaminan. Di sana, Vania dan Eric berdiri bersebelahan. Vania tersenyum pada seorang tamu yang mengucapkan selamat. Eric di sampingnya, mengobrol? Tidak. Eric hanya berdiri, bibirnya terkatup, sesekali mengangguk. Tapi Vania yang berbicara. Vania yang tersenyum. Vania yang menjalankan peran sebagai pengantin baru yang bahagia. Dastan menatap Vania. Matanya menyusuri wajahnya, kebaya putih gadingnya, sanggul dengan hiasan melati. "Kamu adalah pengantin wanita tercantik, Vania. Sayangnya kamu menikahi orang yang salah." "Beri ucapan selamat untuk kakakmu dulu, sana!" Suara Disya memotong lamunan Dastan. Dastan berkedip. Lalu tersenyum. "Oke." Dia bangkit dari kursi tempat dia duduk sebentar di dekat ibunya, dan melangkah menuju pelaminan. Jaraknya tidak jauh, tapi Dastan sengaja berjalan pelan, menikmati setiap detik sebelum dia berdiri di hadapan mereka. Vania melihatnya lebih dulu. Jari-jarinya menekan lengan Eric pelan, cukup untuk menarik perhatian suaminya. "Adikmu," bisiknya. Eric menoleh. Wajahnya berubah hanya dalam sepersekian detik dari datar menjadi sedikit tegang. Tapi itu hilang cepat. Digantikan oleh ekspresi kosong yang biasa dia kenakan. Dastan berhenti di depan mereka. Jarak hanya satu meter. "Selamat." Satu kata itu keluar dari mulut Dastan dengan datar. Kaku. Seperti sedang berjabat tangan dengan orang asing di ruang sidang, bukan mengucapkan selamat pada kakak kandungnya sendiri. Dastan tersenyum. Tangannya terulur, berjabat dengan Eric. Genggaman mereka singkat, kurang dari dua detik, lalu dilepas. Lalu Dastan berbalik pada Vania. Tangannya terulur lagi. Vania ragu, tapi akhirnya menjabatnya. Telapak tangan Dastan hangat, sedikit lebih besar dari tangannya, dan genggamannya terasa lama, lebih lama dari seharusnya. Dastan tersenyum. Senyum yang bagi Vania sangat menakutkan. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding. "Senang akhirnya kita bisa menjadi satu keluarga, Vania." Suaranya pelan, hanya cukup untuk Vania dan Eric dengar. Senyum tipis tapi penuh arti, seperti orang yang mengatakan sesuatu tapi menyimpan seribu makna di baliknya. Vania tidak membalas. Bibirnya terkatup rapat. Matanya menatap Dastan tanpa berkedip, tapi tangannya sudah menarik diri dari genggaman itu secepat mungkin. Dastan tidak mempermasalahkan. Dia hanya tersenyum, lalu berbalik. Langkahnya menjauh dari pelaminan. Tidak kembali ke ibunya yang sedang ditemani Tante dan Om-nya. Tidak bergabung dengan kerabat lain. Dastan berjalan ke sudut ruangan, di mana meja bar berdiri dengan deretan botol berkilau di belakangnya. Dia duduk di kursi tinggi. Siku kirinya bertumpu pada meja bar, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan kayu. "Whiskey," katanya pada bartender. Bartender mengangguk, berbalik, meraih botol dan gelas. Es batu dimasukkan, cairan keemasan dituang. Gelas itu meluncur ke hadapan Dastan. Dastan mengambilnya. Meneguk dalam-dalam sampai cairan itu membakar kerongkongannya. Dia menutup mata sejenak, menikmati sensasi panas yang menyebar di dadanya. Lalu membuka mata. Dan menatap pelaminan. Vania. Kebaya putih gading. Melati di rambut. Senyum yang dia berikan pada tamu lain, pada suaminya, pada semua orang di ruangan itu. Dastan meneguk lagi. Kali ini lebih pelan. "Aku sudah peringatkan kamu, Vania," bisiknya di antara dentingan gelas yang dipegangnya. "Tapi kamu benar-benar tidak mau mendengarnya." Di pelaminan, Vania tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan seorang tamu. Tangannya menyentuh lengan Eric, gestur intim yang terlihat alami. Dastan menatap. Lalu menggelengkan kepala pelan. Jarinya memutar gelas di atas meja bar, membentuk lingkaran basah di atas kayu. "Eric b******n," bisiknya, suaranya semakin pelan, seperti untuk dirinya sendiri. "Bisa-bisanya kau jadikan anak gadis orang sebagai tameng untuk menutupi hubungan kotormu." Dastan mengangkat gelasnya lagi. Menenggak habis isinya. Di belakangnya, musik mulai dimainkan. Tamu mulai bergerak ke lantai dansa. Vania dan Eric turun dari pelaminan, memulai tarian pertama mereka sebagai suami istri. Dastan menatap mereka dari kejauhan. Dan tersenyum. Senyum yang tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihat, karena Dastan sudah membalikkan kursinya, membelakangi pelaminan, dan memesan satu gelas lagi. Biarkan dia mabuk untuk hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD