Jam menunjukkan pukul lima sore. Lampu-lampu ballroom mulai menyala terang, membuat sorotan utama di atas lantai dansa yang kini mulai sepi. Sebagian besar tamu sudah pulang, kerabat yang sudah lanjut usia, keluarga dengan anak kecil, kolega bisnis yang hanya datang untuk formalitas. Yang tersisa hanya anak-anak muda, teman kuliah Eric yang masih asyik mengobrol di meja panjang, dan beberapa sahabat Vania yang duduk melingkar di sudut ruangan. Vania duduk di kursi dekat jendela, kebaya putih gadingnya masih melekat sempurna, tapi sepatu hak tingginya sudah dilepas di bawah meja. Kaki kirinya bergoyang pelan, menikmati kebebasan setelah berjam-jam berdiri. Winda, sahabatnya sejak SMA, duduk di sebelahnya dengan gaun biru laut. Tangannya menggenggam gelas jus, matanya menatap Vania denga

