Plak! Suara tamparan menggema di kamar hotel yang sunyi. Vania mundur, dadanya naik turun, tangannya masih terangkat di udara, telapak tangannya terasa panas dan berdenyut. Di hadapannya, Dastan menoleh pelan, pipinya memerah bekas tamparan. Dia tidak marah. Dastan justru tersenyum tipis. Seperti orang yang baru saja menerima sesuatu yang sudah dia duga. Bibirnya yang baru saja menempel di bibir Vania kini melengkung membentuk senyum yang membuat Vania ingin menamparnya sekali lagi. "Kurang ajar kamu! Keluar!" teriak Vania, suaranya pecah di tengah-tengah, tangannya menunjuk ke pintu. Dastan mengangkat satu alis. "Kalau kamu kesepian, hubungi aku, Kakak ipar." Dia berbalik. Langkahnya santai menuju pintu, seolah tidak baru saja mencium iparnya sendiri di malam pertama pernikahan kak

