Motor besar itu sudah masuk ke dalam halaman parkiran gedung di mana Puri da Aji bekerja. mereka datang memang sudah agak siuang, jadi parkiran motor pun mulai padat. Beberapa orang agak sinis melihat Puri yang menggonceng mesra pada Aji.
Beberapa wanita yang menyukai Aji pun merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Biasanya Aji datang sendiri atau sesekali ia pergi dnegan wanita cantik bagai model sampul majalah gadis belia. Tapi saat ini? Kenapa Aji bersama denagn rekan kerjanya yang tak begitu cantik dengan tubuh kurus tanpa ada lekukan tubuh yang menonjol.
Aji membantu melepaskan helm Puri dan di leyakkan di motor besar itu lalu menggandeng tangan Puri dengan erat. Aji tak pernah peduli dengan ucapan orang. Aji tak pernah mau ambil pusing dengan semua celotehan tak penting oarang kepada dirinya.
"Mas ... Pada sinis tuh lihat Puri. Emang kayaknya kita gak cocok deh," ucap Puri dengan asal.
Aji hanya melirik Puri dan mentap jalan yang akan di lewati lalu masuk lobby dan menunggu antrian lift. Tangan Aji masih terus menggenggam tanga Puri erat tanpa sedetik pun di lepas.
Aji paling tidak suka jika Puri merendahkan dirinya sendiri san tidak pernah percaya pada dirinya sendiri. Lebih baik diam dati pada berkomentar pada hal yang tak berfaedah malah menyulut emosi. Tahu kan? Kalau perempuan itu lebih senang memnacing, memjcu dan menyulut. Kalau di iyakan malah marah. Kalau di tidakkan di kira gak peka. Serba salah menjadi seorang lelaki.
Uhuk ...
Suara batuk dari arah belakang Aji dan Puri.
"Pagi Pak Aji ...." sapa beberap wanita yang berada di divisi lain yang mengidolakan Aji sebagai salah satu pria terganteng di gedung ini.
Puri hanya diam dan tak bicara laku menatap ke depan lagi menunggu pintu lift terbuka.
"Pagi," jawab Aji dengan ramah dan tetap dingin.
"Pak ... Bawa lem ya?" tanya seorang gadis pada Aji.
"Lem? Gak. Untuk apa?" tanya Aji pelan.
"Itu tangannya nempel terus di tangannya Mbak Puri," tanya gadis itu dengan senyum penuh arti.
Aji menatap ke bawah dan mengangkat tangannya yang masih menggenggam erat tangan Puri dan menunjukkan pada anak -anak magang divisi lain itu.
"Ini? Namanya juga cinta? Selalu nempel dong," ucap Aji santai membuat semua para gadis yang ada di sana berteriak keras secara serempak. Puri hanya menatap Aji yang mengedipkan satu matanya pada Puri dan memberikan senyum manis untuk istrinya itu.
"Pak Aji? Ada hubungan sama Mbak puri?" tanya seorang gadis lain dari arah belakangyang penasaran.
"Kalian ini kepo sekali sih. Bekerja yang baik dan benar. Tanpa harus memikirkan urusan orang lain," tegas Aji pada bawahannya yang selalu kepo itu.
Semua anak gadis itu terdiam dan tak bicara. Mereka hanya saling menatap satu sama lain dengan teman lainnya yang merasa pagi ini menjadi hari patah hati sedunia dan mode mereka menjadi terjun bebas. Ingin rasanya pulang dan pergi dari sana agar tak melihat keindahan yang tak seharusnya mereka lihat yang hanya membuat mereka panas dan cemburu saja.
***
Di dalam lift sangat padat. Semua orang ingin masuk ke dalam dan tidak ketinggalan untuk segera naik ke atas.
Aji dan Puri sudah masuk dan berdiri di belakang. Kali ini Puri sengaja berdiri di depan Aji dan tangan Aji memeluk pinggang Puri dneganlembut. Semua orang yang ada di dalam lift itu hanya melirik dan menatap iri. Tak pernah melihat Aji dengan seorang wanita atau teman sekantor dan berlaku mesra.
Benar -benar pagi yang membuat mode semua karyawan menjadi emosi dan iri.