Chapter : 19

1277 Words

Seraphina menatap rumah kecil di ujung jalan desa dengan d**a berdebar. Hujan semalam masih meninggalkan sisa basah di atap genteng, dan tanah di halaman beraroma tanah basah yang segar. Ia menuruni bus terakhir dengan langkah cepat, sambil menggenggam tas kecil dengan erat. Begitu sampai di halaman, matanya langsung menangkap sosok ibunya yang sedang membungkuk, memetik rumput liar. “Bu…!” Seraphina berlari tanpa bisa menahan diri. Ia melompat, memeluk ibunya erat, menempelkan wajahnya ke bahu yang familiar. Air matanya jatuh begitu saja. Ibunya terkejut, tangannya berhenti memetik rumput liar. “Seraphina?! Nak, kenapa kau menangis?” Ia menatap putrinya, raut wajahnya campur aduk antara kaget dan bingung. “Kau pulang begitu saja? Kenapa tidak bilang pada Ibu?” Seraphina melepas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD