“Kenapa harus buru-buru pulang? Bulan madu kok cuma mak-nyuk.” Maksud Dian, kenapa bulan madu keponakannya hanya sebentar saja. Arga yang tidak paham menoleh, menatap bertanya sang istri dengan kening yang sudah memunculkan beberapa lipatan halus. Tara tersenyum. “Maklum, Bude. Besok masih ada acara di tempat mas Arga. Aku tidak boleh capek-cepak. Harus nyiapin tenaga buat berdiri setidaknya dua jam lagi.” Tara kemudian mendesah. “Kolega papa mas Arga banyak, jadi harus ada pesta lagi buat mereka.” Tara menjelaskan. “Ya sudah lah. Memang begitu kalau nikah sama anak pengusaha. Kemarin saja tamu papa kamu sebanyak itu.” Tara membenarkan apa yang Dian sampaikan dengan anggukan kepala. “Bikin kita tidak punya waktu ngobrol.” “Bude bisa datang kapan saja ke Jakarta. Ajak Mas sama Mbak.”