Dimas melangkah keluar dari kantor dengan langkah berat, napasnya terasa sesak. Wajahnya masih memanas, bukan karena marah kepada siapa pun, tapi karena rasa tak berdaya yang terus menekan dadanya. Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa menghapus bayangan Ayu dari pikirannya—senyumnya, tatapannya, cara ia menatapnya ketika Dimas pulang dari kerja. Cara itu… membuat segalanya terasa ringan, bahkan setelah hari yang panjang dan melelahkan. Setibanya di apartemen Selvi, niat awalnya sederhana: mencari kenyamanan. Sebuah tempat yang seharusnya membuatnya merasa aman, hangat, dan diterima. Namun begitu ia membuka pintu, apartemen itu kosong, sepi dan hampa. Lampu-lampu lembut menyala, sofa rapi, dan aroma teh hangat masih tersisa, tapi Selvi tidak ada. Dimas menatap sekeliling dengan frust

