48. For a Special Day

2006 Words

Sudah banyak hal yang kita lalui, langkah kita pun sudah setujuan. Bagaimana jika kita membicarakan tentang penyatuan? . . "Seperti yang tidak mengenalku saja," ucap Dikara. Daaron mencebik. "Justru Abang kenalnya sosok kamu yang nggak bisa bercanda." "Aku juga manusia. Sama saja. Ada masanya aku nggak serius." Soal membawa Daaron ke pojok rumah, yang diduga akan melaksanakan aksi pertautan bibir di sana, tetapi nyatanya tidak. Lepas menempatkan Daaron di pojok, Dikara kembali ke kursi makan. Apa-apaan coba? Dasar jahat! Pemberi harapan palsu. Padahal Daaron sudah siap untuk diserang dan melakukan aksi nakal diam-diam. "Udah berapa kali coba kamu nge-prank Abang, Ra?" Daaron pun kembali duduk di kursi makan, yang lalu bibi melintas. Dikara mengedik bahu. "Tapi nggak sering, kan?

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD