Tak terasa, sudah dua bulan Aleena hidup dalam persembunyiannya, di sebuah tempat yang seolah tak terjangkau oleh siapa pun, terutama anak buah Agastya. Selama itu pula, dia bekerja di warung kelontong milik ibu kos yang sangat baik hati dan begitu pengertian padanya. Untuk sementara, Aleena mencoba mengesampingkan semua kekacauan yang pernah mengguncang hidupnya. Dia menjadi pribadi yang jauh lebih tertutup. Media sosialnya dibiarkan tak terjamah, ponselnya pun telah lama tak aktif. Dia benar-benar menarik diri dari dunia maya dan hiruk-pikuk kehidupan digital, seolah tak peduli jika harus tertinggal dari perkembangan zaman. Pengalaman pahit di masa lalu membuat Aleena menutup diri rapat-rapat. Dia hanya ingin menata ulang hidupnya, memperbaiki luka-luka yang masih menganga. Meski dalam