Bumi benar-benar nekat, ia menantang maut dan itu membuat semua orang terlihat kahwatir. Vanesa hanya bisa meneteskan air matanya tanpa isakan dan ia benar-benar menahan dirinya untuk tidak ikut campur dengan keputusan Bumi saat ini. Bumi mengikat tubuhnya dengan tali dan ia akan menyeberang bersama Ican menuju rumah yang saat ini berada ditengah-tengah banjir dan rumah itu hanya tinggal atapnya saja karena seluruh bagian dari rumah itu telah terendam air. Diatas atap ada satu orang perempuan dan tiga orang anak yang harus mereka selamatkan secepat mungkin sebelum rumah itu ikut terbawa arus.
Vanesa berdoa didalam hatinya semoga Bumi bisa menyelamatkan mereka dan Buminya itu tidak apa-apa. "Astaga Mas Ican ikut nyebrang?" Tanya Icha panik dan ia mengigit bibirnya. "Gila...bentar...Mas..." teriak Icha dan ia melangkahkan kakinya mendekati Ican diikuti oleh Vanesa. "Mas hiks....hiks..." tangis Icha dan air matanya menetes karena ia sangat kahwatir.
"Cha...kan udah Mas bilang kalau kamu ikut daftar jadi relawan, please jangan larang Mas buat melakukan ini itu Cha!" Pinta Ican dingin dan ia berharap Ica akan mengerti dengan apa yang ia lakukan saat ini.
"Kamu itu yang gila Mas hiks...hiks....kalau kamu mati aku kan nggak jadi nikah Mas... hiks...hiks..." kesal Icha.
"Berarti kita nggak jodoh kalau aku mati," ucap Ican.
Vanesa melihat kearah Bumi hingga matanya dan mata Bumi bertemu. Vanesa segera menghapus air matanya dengan cepat dan ia memilih untuk tidak mengatakan apapun. "Kamu jangan khawatir ya Cha...Mas pasti berhasil menyelamatkan mereka!" Ucap Ican memegang kedua bahu Icha dan ia segera melangkahkan kakinya mendekati Bumi, lalu byur...keduanya berenang dan terlihat berapa kayu besar mendekati mereka membuat semuanya panik dan berteriak agar Ican dan Bumi bisa menyelamatkan dirinya.
"Ada kayu menunduk! Disana juga menghindar!" Teriak Icha dan ia berteriak sambil menangis histeris.
Vanesa menahan dirinya untuk berteriak namun sungguh hatinya tidak sedang baik-baik saja, ia terluka dan ia merasa hidupnya benar-benar akan berakhir, jika ia kehilangan Bumi dengan cara seperti ini.
Vanesa terduduk dan ia menatap kejadian itu dengan tatapan sendu hingga air matanya menetes. Edo memperhatikan Vanesa dan ia terlihat kesal melihat Vanesa memperdulikan Bumi. Saat pertama kali melihat Vanesa, ia telah merasa tertarik melihat seorang perempuan cantik bak Barbie itu mau menjadi seorang relawan menempuh bahaya. Ia juga sedang mencari informasi di perusahaan Bagaskara grup yang mana Vanesa bekerja saat ini. Bisa saja Vanesa berasal dari cabang salah satu perusahaan Bagaskara yang ada diluar kota. Ya...Edo memang tidak tahu jika Vanesa merupakan anak pemilik Bagaskara grup dan ia merupakan putri satu-satunya Arif Bagaskara.
Menjadi seorang relawan perusahaan, mereka mendapatkan gaji tiga kali lipat dari gaji biasanya ketika bekerja normal dan memang Edo sangat menyukai program ini, terlebih lagi program bisanya adalah program pengabdian untuk berkunjung ke tempat terpencil. Namun ketika terjadi bencana ia sama sekali tidak menyangka, ada bidadari cantik yang datang menjadi salah seorang Timnya. Tentu saja kedatangan Vanesa membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda hanya dengan menatap wajah cantik Vanesa.
Tatapan Vanesa sejak tadi tertuju pada Bumi yang sudah tidak telihat dan ia lagi-lagi meneteskan air matanya sedangkan Icha terduduk lemas. "Kalau aku tahu ini akan sangat berbahaya aku akan berusaha melarang dia jadi relawan Nes, Mas Ican melakukan ini hanya untuk mengumpulkan gaji yang bisa menjadi tiga kali lipat kalau kau menjadi relawan," ucap Icha. "Kami akan segera menikah dan hiks...hiks...aku takut itu nggak terjadi," ucap Icha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Gue yakin mereka bisa Cha," ucap Vanesa dan benar saja saat ini terlihat Bumi dan Ican berhasil sampai di rumah itu dan keduanya segera memasang tali lalu mengikatnya di kayu rumah yang sepertinya masih kuat jika menjadi penopang untuk menyeberang.
Obit kembali mengikat tali itu dipohon besar dengan kuat agar sangat kuat menopang ketika mereka menggunakan tali itu dan Bumi segera memasang rol pengait yang memang telah ia bawa ditubuhnya tadi. Ia memasangkan simpul tali ditubuh ibu itu dan seorang anak lalu mendorong sang ibu ke seberang. Meskipun berjalan agak lambat namun dengan pengawasan Ican ibu itu berhasil sampai diseberang dengan bayinya. Dua orang anak lagi saat ini berada di atap dan hanya tinggal Bumi yang masih berada disana. Terlihat gelondongan kayu besar berjumlah tidak sedikit datang dari ujung sana mendekati rumah yang saat ini Bumi pijak atapnya dan itu membuat mereka semua panik.
"Bumi cepat..." teriak Obit. Bumi segera melompat sambil menggendong kedua anak itu, ia akan pastikan kedua anak itu tidak akan terlepas darinya dan ia menyelusuri tali dengan tangannya. Bumi memang telah dilatih menghadapi hal-hal berbahaya seperti ini dan ia merupakan dokter yang sangat terkenal diluar negeri karena kiprahnya yang hebat dalam melakukan operasi darurat. Air semakin tinggi dan ini memang sangat berbahaya jika mereka tidak cepat bertindak. Obit melepaskan tali di pohon dan ia menurunkan tali agar tali itu cepat meluncur. Bumi berhasil menyelamatkan kedua anak itu namun ketika ia menolehkan kepalanya ia melihat rumah itu telah lenyap hingga pohon yang mengikat tali tadi pun tumbang. Ibu yang berhasil diselamatkan itu berlutut sambil menatap rumahnya dan tangisnya pun pecah, ia tidak memiliki rumah lagi membuat suasana menjadi sangat menyedihkan karena keluarga kecil ini terlihat hancur. Rumah tempatnya berlindung dan menjadi kebanggaan keluarganya itu telah benar-benar hancur.
Ibu itu memeluk ketiga anaknya dan menangis histeris. "Kita nggak ada rumah lagi hiks...hiks...kita harus kemana? Ayah kalian juga ibu nggak tahu dimana..." tangisnya. "Tapi Ibu bersyukur kita bisa selamat..." ucapnya dan ia menatap Bumi dan Ican dengan sendu.
"Terimakasih," ucapnya.
Vanesa meneteskan air matanya karena haru sekaligus ia sangat sedih melihat semua ini, ia harus banyak bersyukur karena ia telah diberikan sesuatu yang berlimpah dihidupnya. Ia membantu ibu itu lalu mereka mengantar Ibu itu untuk membuat posko perlindungan.
"Bu...sebaiknya ibu mengikuti kami karena saya dan rekan-rekan saya akan membangun posko darurat sebagai tempat penampungan sementara. Kita akan mencari tempat yang aman!" ucap Bumi.
"Iya Pak....Terimaksih banyak Pak..." ucapnya membuat Bumi menganggukkan kepalanya.
Mereka melanjutkan perjalanan, Bumi membiarkan tubuhnya basa apalagi ibu itu mengatakan kepada mereka jika disekitar rumahnya sudah banyak yang mengungsi dan ia memang menunggu suaminya pulang. Rumah disekitarnya juga tidak ada yang tersisa dan itu membuat mereka semua terkejut karena harusnya rumah dilingkungan itu tadi penduduknya lumayan padat. Terlihat beberapa pemukiman warga yang tidak terkena dampak namun ketika mereka melihat kearah tanah yang menurun pemandangan mengerikan yang terlihat. Rumah-rumah sudah hancur dan sebagian masih utuh tapi masih tergenang air yang memiliki arus yang deras. apalagi dilawan itu pun terjadi longsor, sungguh kemarah alam benar-benar sungguh mengerikan.
Ketika melihat kedatangan Bumi dan rekan-rekannya, para korban telihat histeris, sebagian besar pada perempuan bahkan menangis. "Tolong Pak..." ucap seorang perempuan parubaya yang dengan berani mendekati Bumi dan ia tiba-tiba memeluk Bumi. Bumi menatapnya dengan tatapan sendu dan ia mencoba menenangkan perempuan parubaya itu dengan mengelus pelan punggung perempuan parubaya itu.
"Hiks...hiks...kami nggak ada rumah Pak semua hancur hiks....hiks....untuk makan besok kam8 tidak ada lagi bahan makanannya. Disini kami semua berbagi dan hanya lima rumah ini Pak yang tersisa dan tidak terdampak. Dibawa sana semuanya hancur Pak...warga kami juga banyak yang tertimbun....tolong Kami Pak. Adik ipar saya dan anak-anaknya hiks...hiks...hanyut nggak tahu di mana..." ucapnya meneteskan air matanya.
"Iya, Bu...kita akan berusaha membantu semuanya ya Bu. Kita juga telah membawa bantuan Bu, sekarang kita akan membangun beberapa dapur umum untuk makanan dan kita akan segera menanggulangi semuanya ya Bu!" Ucap Bumi membuat tangis harus dari mereka terdengar.
Air mata Vanesa, Ica dan rekan relawan lainnya menetes, mereka tidak menyangka bencana ini sungguh sangat mencekam. Mereka harus segera bergerak mencari para penduduk yang hilang. Bumi memerintahkan Fitri dan Tyas untuk mendata orang-orang yang ada saat ini, lalu beberapa informasi mengenai keluarga mereka yang belum ditemukan.
Vanesa mendekati Bumi dan ia memberikan tisu kepada Bumi. Ia mengira Bumi akan menolak tisu darinya itu namun tidak, Bumi mengambilnya. "Terimakasih," ucap Bumi. Vanesa tersenyum dan ia menganggukkan kepalannya, hatinya menghangat...sungguh siapapun akan jatuh cinta dengan sosok Bumi. Sama sepertinya yang tidak akan bisa melupakan Bumi, Bumi untuk Nessa harusnya begitu tapi ia tidak bisa memasakkan seseorang untuk menyukainya.