Takut kehilangan

1345 Words
Bumi yang biasanya cuek, angkuh dan sombong itu tiba-tiba menanyakan padanya apa yang ia inginkan darinya, membuat Vanesa benar-benar kesal. Sejak dulu Bumi tahu apa yang ia inginkan tapi Bumi seolah buta dan tidak berperasaan sehingga menanyakan hal ini padanya. Sudah jelas kalau ia ingin menjadi kekasih Bumi dan berharap dijadikan istri oleh Bumi, tapi itu dulu karena hatinya saat ini tiba-tiba merasa sakit, hanya karena ucapan Bumi yang berpura-pura tidak mengetahui perasaannya. 'Jadi selama ini dia nggak tahu perasaan aku, astaga Nessa cinta kamu benar-benar nggak dianggap atau mungkin nggak ada nilainya dimatanya, harga diri kamu di mana Nessa di mana...' lirih Vanesa dan ia memilih untuk diam, lalu merenungi apa yang telah terjadi padanya saat ini. Jujur saja ia bukan hanya sedih tapi ia juga sangat kecewa tapi sekarang ia tidak boleh terlihat patah hati karena sakitnya. "Ada apa?" Tanya Icha dan ia sebenarnya penasaran dengan hubungan Bumi dan Vanesa saat ini, tapi ia tidak ingin memaksa Vanesa mengatakan sesuatu jika Vanesa tidak mau. "Hanya marah dan kesal, tapi sekarang itu tidak penting, yang terpenting kita bisa membantu para korban bencana ini secepatnya," ucap Vanessa dan ia tersenyum kepada Icha. "Iya," ucap Icha tersenyum. Vanesa mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi keluarganya namun ternyata sinyal sudah terputus. "Disini Sinyal benar-benar terputus, hanya di Bandara tapi ada sinyal," ucap Icha melihat Vanesa mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya. "Iya," ucap Vanesa. Beberapa menit kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan dan Bumi gagal membuat Vanesa pulang. Saat ini Vanesa menghela napasnya dan sejujurnya ia tidak suka dengan perdebatan yang terjadi diantara ia dan Bumi. Melanjutkan perjalanan ini adalah keinginannya dan saat ini jalan yang mereka lewati sangat terjal. "Hati-hati terpeleset!" Ucap Edo yang tiba-tiba memegang lengan Vanesa. "Iya," ucap Vanesa dan ia dibantu Edo untuk menuruni tebing, Edo pun juga membantu rekannya yang lain, namun ketika telah sampai dibawah sosok Fitri tiba-tiba mendekati Vanesa, lalu sengaja menabrak tubuh Vanesa hingga Vanesa terjatuh. Lutut Vanesa terasa sakit dan pipinya mengenai tanah berlumpur kuning. "Kalau jalan pakek mata, dasar Barbie manja," ucap Fitri membuat Icha membuka mulutnya dan ia kesal dengan ucapan Fitri. "Hey....kamu yang sengaja mendorong Nessa, kalau ada cctv disini semua akan jelas tahu siapa penjahatnya," ucap Icha. "Tega benget sih sama rekan sendiri bersikap jahat kayak gini..." ucap Icha murka, ia menatap sinis Tyas dan Santy yang tertawa dan bukannya membantu Vanesa. Icha membantu Vanesa untuk segera bediri dan ia membersihkan lumpur tanah kuning yang membebani wajah Vanesa. "Aku nggak apa-apa," ucap Vanesa dan ia segera bediri. "Ada apa?" Tanya Edo terkejut melihat wajah Vanesa dan ia ingin membantu Vanesa membersihkan wajahnya, membuat Vanesa memundurkan langkahnya. "Tidak usah!" Ucap Vanesa dan ia menatap Fitri dengan dingin. "Mbak Fitri yang terhormat, saya tidak pernah mengganggu Mbak Fitri, kita disini untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah dan saya harap Mbak Fitri tahu batasannya Mbak!" Ucap Vanesa dingin. "Kalau urusan pribadi saya harap Mbak Fitri segera menyelesaikannya, saya tidak tahu apa salah saya dan saya harap Mbak memberitahukan kesalahan saya!" Ucap Vanesa membuat Fitri mengepalkan kedua tangannya dan ia melangkahkan kakinya menjauh dari Vanesa. "Kamu nggak apa-apa?" Tanya Edo. "Nggak apa-apa...hmmm terimakasih," ucap Vanesa dan ia segera melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan. "Nes...sini aku bantu membersihkan wajah kamu!" Ucap Icha. "Nggak usah Cha nanti saja yang penting kita bisa cepat sampai ke Desa dan kita tidak ketinggalan rombongan kita ini!" Ucap Vanesa melihat Bumi dan rekan relawan lainnya telah berada didepan. "Iya Nes," ucap Ica. Hujan kembali turun tapi mereka tidak berniat untuk mengentikan langkah kaki mereka hingga mereka terkejut ketika melihat pemandangan air yang begitu deras yang membawa banyak barang-barang warga yang hanyut bahkan kayu-kayu besar yang menghantam apapun yang menghalanginya. Volume air yang sangat deras ini menandakan banjir besar masih terus berlangsung. "Kita harus hati-hati dan jalan sedikit menjauh dari air!" Ucap Bumi yang khawatir air tiba-tiba datang dengan jumlah yang sangat besar. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan dan terlihat berbeda relawan sangat terpukul melihat keadaan ini karena mereka mengkhawatirkan keadaan desa dua. "Apakah masih ada yang selama..." lirih Icha dan ia terisak membuat Vanesa menghela napasnya. "Kita harus optimis dan pasti masih banyak yang selamat," ucap Vanesa dengan suaranya yang rendah. Melihat keadaan ini mereka membayangkan banyak sekali warga yang terdampak atau bahkan hanyut dalam arus yang sangat deras ini. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa rumah papan hanyut dan itu pemandangan yang menakutkan bagi mereka. Harapan mereka saat ini, semua penduduk selamat dan ini membuat semangat mereka semua membara, agar bisa segera sampai. Hutan, jalanan yang sangat terjal telah mereka lewati dan tiba-tiba terlihat beberapa warga yang berteriak memanggil mereka. Rumah yang terendam itu diatas atap rumah masih ada orang dan itu membuat suasana semakin mencekam. Disana juga satu bayi dan dua orang anak yang terlihat menggigil lalu mereka terlihat sangat ketakutan. "Tolong..." ucap mereka. Mereka terjebak tidak bisa keluar, apalagi disekeliling mereka adalah air. Sepertinya beberapa rumah disekitar mereka sudah hanyut dan yang tersisa hanya rumah ini. Bumi memanggil beberapa laki-laki dan mereka segera berdiskusi dengan cepat. "Arus sangat deras dan bisa saja rumah itu pun akan segera hanyut," ucap Bumi. Ia mengambil HT dan berharap masih bisa menghubungi aparat yang memang sedang menyusul mereka. Bumi mengambil peralatan yang telah dibawa rekan kerjanya Obit dan sejak tadi Obit memang memilih diam karena ia memikirkan barang bawaan yang ia bawa sangat banyak tapi semua itu sangat penting. "Tali Bit!" Ucap Bumi. "Kamu jangan gila Bumi, gue tahu isi otak lo, jangan bilang lo mau nyebrang kesana….” Ucap Obit dingin. "Hanya ini yang bisa kita lakukan kalau tidak ibu dan ketiga anaknya itu bisa mati," ucap Bumi. "Bumi, kita ini bukan para militer, kita ini tim medis. Kita tunggu beberapa menit lagi dan nanti biarkan mereka yang terlatih yang kesana!" Ucap Obit. Ical mendekati Bumi. "Saya mengerti rencana penyelamatan yang ingin dilakukan Dokter Bumi," ucap Ical. “Kalau kita menunda menyelamatkan mereka, mereka tidak akan selamat,” ucap Ical. “Posisi tanah itu sudah tidak kuat menahan bangunan dan rumah itu akan segera hanyut,” ucap Bumi. “Jadi apa kamu siap membantu saya?" Tanya Bumi menepuk bahu Ical. "Tentu saja saya siap!” Ucap Ical dan ia bersungguh-sungguh untuk menolong mereka. Vanesa menggigit bibirnya dan jantungnya berdetak dengan kencang, ia merasa tidak rela melihat Bumi menempuh bahaya, tapi ia tidak bisa melarang Bumi. Inilah sosok Bumi yang tidak takut bahaya dan memang hidupnya menginginkan kebebasan. Jika ia melarang Bumi, ia pasti akan membuat Bumi marah besar padanya. Vanesa meneteskan air matanya dan ia segera menghapusnya dengan cepat. "Ada apa Nes?" Tanya Icha lagi. "Hmmm...mungkin kamu belum mempercayai aku sebagai teman kamu tapi Nes, aku ingin jadi teman kamu. Kalau tadi kamu tidak membantu aku mungkin aku sudah terluka," ucap Icha. "Aku hanya sedih, sedih melihat dia mempertaruhkan nyawanya demi orang lain tapi aku juga bangga, sebenarnya yang aku sedihkan karena aku khawatir," ucap Vanesa. "Aku khawatir sama dia, aku takut terjadi sesuatu sama dia,” ucap Vanesa menatap Bumi dengan tatapan sendu. "Kamu ada hubungan apa sama Pak Dokter?" Bisik Icha karena pasti semua orang ingin tahu hubungan apa diantara Vanesa dan Bumi, mengingat tadi Dokter Bumi menarik tangan Vanesa lalu keduanya berbicara berdua saja. "Mas Bumi itu sepupunya istri keponakanku dan hmmm...aku jujur saja sama kamu Cha karena aku sudah menganggap kamu itu teman aku Cha," ucap Vanesa. "Mas Bumi orang yang aku cintai Cha, tapi hanya aku yang mencintai dia, dia tidak ya...cintaku itu bertepuk sebelah tangan , Ca," ucap Vanesa. "Kalian pasangan serasi kok, kamu cantik dan baik. Jujur saja kecantikan kamu ini membuat para perempuan iri Nes," jujur Icha. “Tapi aku nggak yakin kalau Pak Dokter tidak ada perasaan sama kamu, kamu cantik, kamu baik dan kamu itu orang yang sangat menyenangkan. "Ih...kamu bisa aja Cha," ucap Vanesa tersenyum malu. "Gue serius kok..." ucap Icha dan memang ia berbicara sejujur. Ia juga tahu jika tadi Fitri sengaja mendorong Vanesa dengan tubuhnya, agar jatuh karena ia cemburu kepada Vanesa. Fitri memang menyukai Edo dan kemungkinan besar Fitri menyukai Edo sejak keduanya bekerja di perusahaan yang sama. Jadi ketika Edo mendaftar menjadi relawan mewakili perusahaannya, Fitri juga ikut karena ia tidak ingin berpisah dari Edo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD