Kamu pulang

1155 Words
Laki-laki ini sebenarnya berasal dari desa dua, ia salah satu korban yang berhasil selamat dan berusaha keluar untuk mencari bantuan. "Bapak tidak apa-apa?" Tanya Bumi. "Anak saya demam dan saya memang ingin mencari batuan agar anak saya bisa selamat," ucapnya. "Saya dokter Pak, kemarikan anak Bapak!" Ucap ?Bumi membantu Bapak itu membaringkan tubuh anaknya yang berusia lima tahun, seoarang bocah cantik berumur lima tahun ini terlihat sangat pucat. Bumi segera memeriksanya, ia menghela napasnya anak ini kedinginan dan harus segera dihangatkan apalagi anak ini tadi pasti sempat tenggelam. Bumi memeriksanya dengan cermat dan ia memberikan obat yang disuntikan ke tubuh anak itu. "Ada yang punya baju hangat?" Tanya Bumi membuat semua orang saling berpandangan. "Ada," ucap Vanesa dan ia mengeluarkan jaket pack yang yang ada didalam tasnya dan ia juga memberikan sleeping bagnya kepada Bumi. "Biar cepat hangat nanti Bapak sama anaknya udah ganti baju yang nggak basah tidur saja didalam sleeping bag ini beberapa jam gitu," ucap Vanesa. "Kita cari tempat yang bisa membuat tenda dulu dan lihat kondisi tanahnya ketika membuat tenda, kalau semuanya aman dan kalian bangun satu tenda pengungsi!" Ucap Bumi membuat beberapa orang lelaki segera bergerak menurut perintah Bumi. Vanesa tersenyum karena Bumi mengambil jaket dan sleeping bag miliknya. Lelaki tampan ini memang idaman para perempuan dan jika sedang bekerja seperti ini ketampanan Bumi meningkat seratus persen. Shanty dan Tyas terlihat tidak suka dengan sosok Bumi, sama halnya dengan dokter perempuan yang sejak tadi mengikuti Bumi. Vanesa menghela napasnya karena ia telah menyia-nyiakan otaknya yang memang cerdas sejak kecil. Jika saja dulu ia memilih belajar kedokteran daripada ekonomi tentu saja ia akan menjadi dokter yang berguna untuk banyak orang. Dulu ia tergila-gila dengan bisnis dan ingin menjadi seorang pembisnis yang dikenal banyak orang. Tapi setelah ia menyelsaikan kuliahnya ia memang menjalani beberapa bisnis dan berhasil, namun ternyata sekarang ia dalam masa bosan. Bisnis yang sudah maju bisa ia tinggalkan dengan pengelolaan manajemen yang baik yang telah ia atur. Untuk sekarang ia akan fokus untuk mencari kebahagiaannya dan ternyata berkeliling daerah hingga mencoba banyak hal baru membuat semangat hidupnya bangkit. Beberapa dari mereka memilki sleeping bag namun mereka tidak ada yang mau mengeluarkannya dan kebaikan Vanesa sungguh luar biasa membuat beberapa orang kagum padanya. Bumi tidak mengajak Vanesa berbincang, itu membuat Vanesa kesal dan ia memilih untuk menjauh dari mereka saat ini. Edo dan Ical telah menemukan tempat yang aman untuk renda dan ia mendirikan tenda pertama yang merupakan posko sementara sampai ia bisa menemukan posko yang layak nantinya. Bumi juga menanyakan kepada laki-laki ini letak desa dua dan ternyata laki-laki berasal dari desa dua. "Jadi Bapak memutuskan untuk pergi keluar desa karena ingin meminta bantuan?" Tanya Bumi. Sambil memberikan makanan kepada Bapak dan anak perempuan yang sedang dipeluk Bapak ini. Anak perempuan itu telah berangsur pulih dan ia sedang berbaring didalam sleeping bad dan tadi memang anak itu telah mengganti pakaiannya dengan pakaian kering milik relawan. "Iya Pak, anak saya tenggelam dan rumah saya hanyut, sekarang saya masih mencari istri dan dua orang anak laki-laki saya tapi yang terpenting untuk saat ini anak perempuan saat ini segera pulih," ucapnya dengan suara bergetar. "Bagaimana kondisi Desa dua Pak?" Tanya Bumi. "Air besar tiba-tiba datang dan membawa banyak kayu dan juga beberapa kawasan tanah juga longsor, Desa kamu tenggelam Pak...tolong berikan kami bantuan!" Pinta Bapak itu menatap Bumi dengan penuh harap. "Saya dan rekan-rekan saya, tidak bisa menunda perjalanan ini," ucap Bumi. "Tapi beberapa rekan saya akan tinggal disini sampai bantuan datang, sekitar satu jam akan ada tim yang datang Pak dan aparat keamanan juga sedang membersihkan jalan utama masuk ke Desa untuk penyaluran bantuan," ucap Bumi. "Iya kamu mohon segera dibangun Desa kami terisolasi dan saya kesini nekat menyeberang karena memang anak saya ini kondisinya tadi sangat buruk," ucapnya. "Sebenarnya kamu sudah dua harian Pak dan hari ini hari ketiga Pak, air tidak surut dan terjadi longsor di beberapa kawasan Desa," ucapnya membuat mereka semua yang mendengar ucapan Bapak ini sangat prihatin. "Oke Pak kamu harus segera bergerak dan pergi ke Desa sekarang juga!" Ucap Bumi. Bumi tiba-tiba menarik tangan Vanesa membuat semua orang terkejut. "Kamu tinggal disini saja didalam sangat berbahaya!" Ucap Bumi dengan nada memerintah. "Nggak bisa Mas, aku juga mau masuk dan ikut ke Desa!" Ucap Vanesa. "Nessa kamu tidak tahu apa yang terjadi didalam sana dan Mas ingin kamu tetap disini dan besok akan ada orang yang akan menjemput kamu, kamu pulang ke Jakarta!" Ucap Bumi. "Nggak mau Mas...aku mau ikut please! Aku nggak akan ngerepotin kamu Mas!" Pinta Vanesa dengan tatapan memohon. "Alasan aku datang kemari itu pengen menolong orang-orang, buktinya aku cukup tangguh kan Mas? Aku bisa melewati hutan dan mendaki, aku bisa lebih tangguh dari perempuan yang ada disini!" Ucap Vanesa dengan suaranya yang pelan, karena ia tidak mau orang-orang mendengar perdebatannya dengan Bumi. Bumi telah berusaha mengacuhkan Vanesa agar Vanesa marah padanya lalu segera pergi dari tempat ini tapi tetap saja Vanesa sangat keras kepala. "Aku tahu kamu takut kalau aku kayak dulu sering ngerepotin kamu Mas, aku sekarang bukan Vanesa yang dulu ngejar-ngejar kamu hanya karena pengen jadi istri kamu. Aku sekarang hidup demi diri aku sendiri kok dan aku sudah banyak belajar dari masalalu yang ditinggalkan begitu saja bahkan ditolak mentah-mentah sama kamu. Kamu pikir hanya kamu saja cowok didunia ini? Banyak kok cowok yang udah ngelamar aku, tanya saja sama Papiku," ucap Vanesa kesal dengan sosok Bumi. "Kamu pulang!" Ucap Bumi dan ia menatap Vanesa dengan tajam. "Enggak, aku nggak mau pulang, aku mau disini lagian siapa kamu Mas memerintahkan aku untuk pulang, kamu nggak ada hak Mas. Papi saja mengizinkan aku kok agar aku ikut kemari," ucap Vanesa. Bumi mengepalkan kedua tangannya dan ia menatap Vanesa dengan kesal. "Nggak usah marah-marah sama aku, aku memang bukan dokter tapi aku akan menghibur korban bencana dengan caraku sendiri Mas, kamu nggak usah khawatir kalau aku bakalan ngerepotin kamu!" Ucap Vanesa kesal. Vanesa menghempaskan tangannya dan ia melangkahkan kakinya menjauh dari Bumi, membuat Bumi menghela napasnya. Ia benar-benar terkejut ketika Arif Bagaskara menghubunginya dan memberitahu jika Vanesa ada didalam rombongan relawan. Ia akhirnya mengubah timnya yang harusnya menuju desa satu di posko utama menunggu pasien datang dari para relawan lainnya. Tapi sekarang ia langsung terjun kelapangan dan pergi ke daerah yang paling parah hanya karena Vanesa. Beberapa tahun tidak bertemu, ternyata Vanesa bukan semakin dewasa tapi Vanesa menjelma menjadi perempuan yang ingin terlihat kuat. Tentu saja sebagai salah satu alasan Vanesa berubah ia merasa harus segera membawa Vanesa ke tempat yang lebih aman. Tapi Vanesa yang keras kepala seperti ini bisa saja akan melakukan hal berbahaya jika ia memaksanya pulang. "Sebenaranya kenapa kamu seperti ini?" Tanya Bumi. "Apa yang kamu inginkan dari saya agar kamu berhenti melakukan hal yang berbahaya!" Ucap Bumi dingin. "Kamu sudah tahu kan jawabnya dan nggak usah aku jelasin, tapi aku sekrang itu sudah paham posisi aku jadi kamu nggak perlu khawatir tentang aku nggak perlu!" Ucap Vanesa. Mendengar ucapan Bumi yang seperti ini kepadanya membuatnya sangat emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD