Hujan akhirnya berhenti dan membuat semua para relawan merasa lega, mereka ingin segera bertemu warga yang terkena dampak dari bencana ini. Kawasan ini menjadi terputus apalagi kawasan ini adalah kawasan yang terkena dampak paling parah. Terlihat beberapa orang sedang memasak mie instan untuk makanan mereka sebelum nanti mereka akan masuk kedalam wilayah bercana ini. Jalan yang telah putus akibat banjir besar yang baru saja terjadi membuat mobil kesulitan untuk masuk dan mobilisasi pemberian bantuan menjadi terhambat.
Tim relawan akan dibagi menjadi beberapa tim lagi karena mereka menunggu para aparat untuk membantu membuka akses jalan dan sisanya, akan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Apalagi tim medis tidak bisa menunggu lama ditempat ini karena kemungkinan banyak korban yang membutuhkan pertolongan mereka saat ini.
"Kita semua akan ikut tim medis berjalan kaki dengan membawa makanan dan barang penting lainnya," ucap Fitri membuka pembicaraan kepada mereka.
"Rutenya sangat berat dan kalau diantara kalian ada yang merasa tidak sanggup untuk terjun kelapangan sekarang juga kalian berhenti sampai disini saja!" Ucap Fitri.
"Saya sanggup dan sangat sanggup," ucap Vanesa karena semua mata setuju padanya, ia seperti tertuduh yang akan mengacaukan perjalanan mereka dan tentu saja itu membuatnya kesal. Walaupun penampilannya yang memang seperti perempuan manja tapi tahukan mereka kalau mungkin diantara mereka ia yang tadinya pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Tahukan mereka kalau ia yang ingin hidup mandiri ini telah banyak menjalankan pelatihan agar terlihat kuat dan bisa hidup dialam bebas.
Vanesa menyukai hal yang membuatnya mandiri karena beberapa kali ia dihina secara terang-terangan oleh orang yang memang menghinanya. Menghinanya karena iri kepada Vanesa yang memang sangat cantik dan membuat orang-orang disekitarnya itu menyukainya. "Saya bisa berenang, saya bisa mendaki dan saya yakin tidak akan merepotkan kalian," ucap Vanesa dan ia memang harus menyakinkan mereka semua agar tidak diremehkan oleh mereka.
"Saya tidak percaya sama kamu dan sangat membenci kebohongan," ucap fitri dan ia tidak suka dengan sosok Vanesa apalagi Vanesa menarik perhatian Edo dan rekan-rekannya yang lain.
"Terserah, kalau kamu tidak percaya sama saya. Sebagai ketua tim harusnya kamu tidak meremehkan rekan kerja kamu hanya karena penampilan, saya tidak memakai bedak yang tebal atau bahkan bermakeup, wajah dan penampilan saya, saya rasa normal seperti kalian lalu kenapa kalian semua meragukan saya?" Tanya Vanesa kesal.
"Aku nggak meragukan kamu kok Nes, tadi aja kalau kamu nggak nolongin aku daki bukit aku bisa saja nggak bisa mendaki tadi," ucap Icha.
"Sudah kalau semuanya sudah siap untuk terjun ke lapangan dengan berjalan kaki menempuh medan berat, ya sudah kita harus yakin kita mampu dan bisa! Jangan meragukan teman sendiri!" Ucap Ican.
"Nah kamu lebih cocok jadi ketua Can, harusnya ketua itu modelan gini, nggak anggap rekannya itu remeh dibawah dia hanya karena dia kelihatan cewek manja. Aku itu diciptakan kayak gini juga karena pemberian bukan sengaja atau dioperasi," ucap Vanesa sambil menatap Shanty dan Tyas yang memang mengatakan kepada orang-orang yang kagum dengan penampilannya jika ia melakukan operasi dibeberapa bagian tubuhnya dan juga wajahnya.
"Lain kali kalian berdua tidak perlu menggosipkan saya, semua yang ada pada diri saya ini asli kalaupun operasi memangnya kenapa?" Tanya Vanesa.
Perdebatan Vanesa didengar para tim medis yang akan menjadi satu tim padanya termasuk Bumi yang sejak tadi duduk membelakanginya. "Tujuan saya datang kemari untuk jadi relawan dan bukan untuk menemui seseorang apalagi menggagu orang itu," ucap Vanesa. Meskipun ia berbohong kalau salah satu alasannya memang ingin bertemu Bumi, tapi ia punya harga diri.
Fitri mengepalkan tangannya apalagi ia melihat Edo tersenyum kagum pada Vanesa dan ini membuatnya sangat kesal. "Mas Bumi..." ucap Fitri.
Bumi mengalihkan pandangannya melihat kearah fitri lalu ia berdiri. Tadi Fitri memang telah berkoordinasi kepada Bumi untuk menyerahkan Timnya ini kepada Bumi karena ketua Tim yang sebenarnya di desa dua memang adalah Bumi. "Ya..." ucap Bumi.
"Tim saya akan bergabung dengan Tim Mas Buki dan sekarang saya bukan ketua Tim lagi, saya juga meminta rekan-rekan saya untuk berkoordinasi kepada Mas Bumi," ucap Fitri.
Semua mata tertuju kepada Bumi yang memang selalu terlihat tampan diberbagai kesempatan. Vanesa berusaha keras agar tidak menunjukkan wajahnya yang dulu selalu menunjukkan ekspresi sukanya kepada Bumi. "Oke semuanya, maaf jika saya mengganggu kalian semua, silahkan menikmati makanan kalian karena setelah ini kita akan segera menempuh perjalanan cukup jauh. Mulai sekarang saya adalah ketua Tim kalian dan saya harap kita semua bisa bekerja sama," ucap Bumi membuat mereka semua menganggukkan kepalanya.
Semua orang tersenyum dan bagi mereka Bumi benar-benar sangat cocok menjadi ketua tim mereka apalagi sederet pengalaman Bumi dibidang relawan sangat menganggukkan. Bumi bahkan sering kali mewakili para tim medis dalam misi kemanusiaan dan ia menjadi legenda dalam menangani operasi cepat. Ia diundang banyak rumah sakit baik dalam negeri atau luar negeri untuk bekerja dengan mereka jamu Bumi selalu menolaknya karena ia memang ingin pulang jika waktunya nanti sudah tepat. Ya....ia akan pulang menatap di Indonesia setelah semua misi yang ia jalani selesai. Bahkan ia telah berjanji kepada keluarganya agar mereka tidak khawatir lagi pada dirinya.
Perjalanan segera dilakukan dan bahan makanan pun diangkut oleh mereka secara manual, memang tidak banyak namun mampu membuat para korban bertahan untuk satu hari atau dua harian. Vanesa terlihat tidak gentar dan ia ikut membawa barang-barang ditangannya selain tas yang selalu ada dipunggungnya. Ia menatap punggung Bumi yang begitu tegap dan baginya Buki memang laki-laki yang begitu menganggukan bahkan menyilaukan baginya, dulunya untuknya mendapatkan seorang Bumi. Maka dari itu Vanesa menyatakan jika kali ini adalah usaha terakhirnya untuk bertemu Bumi dan hari ini ia akan menyudahi tingkahnya yang menyebalkan, dengan mencoba mendekati Bumi.
Beberapa menit kemudian mereka memasuki kawasan hutan, jalan mulai terasa sangat licin bahkan diantara mereka ada yang jatuh, hal ini dikarenakan mereka memakai sepatu yang kurang tepat untuk pergi ke medan berat seperti ini. Vanesa telah mempersiapkan semuanya dan terbukti ia menjadi lebih unggul dibandingkan para perempuan rekan kerjanya ini. Edi, Ican, Hamid dan beberapa laki-laki lainnya terlihat sangat kagum melihat Senna. Wajah cantik bak Barbie itu ternyata sangat tangguh dan memang fisiknya tidak sesuai dengan kemampuannya.
Vanesa juga selalu membantu Icha ketika Icha terjatuh dan ia memang tidak bersimpati dengan Tytas, Fitri dan Shanty, yang memang sejak awal tidak menyukainya. Tubuh langsingnya itu ternyata memiliki tenaga untuk yang kuat dan saat ini Edo terlihat sangat tertarik kepada Vanesa. "Kalau kamu capek bilang ya Nes!" Ucap Edo mencoba mengajak Vanesa untuk berbincang dengannya.
"Oke," ucap Vanesa.
"Nes aku nggak nyangka kalau kamu yang cantik kayak Barbie ini ternyata kuat juga," ucap Icha.
"Dulu bodohnya aku juga manja tapi karena suka sama seseorang yang salah aku berubah jadi kuat. Orang itu punya hoby yang aneh tapi sialnya aku jatuh cinta sama dia dan mencoba mengikuti hobinya itu agar aku bisa ikut dia," ucap Vanesa pelan agar Edo tidak mendengar ucapannya. Tatapan Vanesa tertuju pada punggung tegap Bumi yang berada didepannya.
Hutan semakin dingin dan semua orang mulai merasakan kedinginan yang menusuk tulang. Bumi menyadari jika mereka harus cepat sampai dan perjalanan ini saja telah menguras tenaga, bisa-bisa bukan mereka yang menolong orang tapi mereka yang akan merepotkan tim yang baru saja datang.
"Lanjutkan perjalanan lima belas menit dan jika kita belum bertemu tanda-tanda pemukiman kita..." ucap Bumi terhenti ketika melihat seorang laki-laki menggendong seorang anak dipunggungnya. Bumi dengan cepat mendekatinya tanpa melanjutkan ucapannya dan apalagi ia ingin melihat kondisi keduanya yang terlihat tidak baik-baik saja.