Aku bukan si manja

1121 Words
Tim mereka pun terpencar karena memang harus menyelamatkan diri dan untung saja mobil berisi bantuan tidak terkena dampak air bah karena memang diprioritaskan ditempat yang cukup tinggi. Hujan semakin deras dan baju mereka pun basah. Vanesa sampai di perbukitan dan tanpa ia sadari saat ini ia berada tepat disamping Bumi. "Kenapa kamu kemari?" Tanya Bumi dan suaranya terdengar sangat dingin membuat Icha yang berada disamping Vanesa menelan ludahnya karena sepertinya Vanesa mengenal laki-laki tampan, yang tadi sedang mereka bicarakan. "Aku jadi tim relawan Mas," ucap Vanesa dan ia terlihat sangat gugup saat ini. Vanesa menatap Bumi dengan nanar dan ia tahu Bumi pasti akan memarahinya. Ia menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini, ia menangis bukan karena apa yang terjadi saat ini atau ia takut dengan keadaan yang sedang ia hadapi, tapi yang ia tangisi ia rindu lelaki ini. "Besok kamu pulang karena tempat ini tempat bermain, Nessa!" Ucapnya dingin. "Aku sedang tidak bermain disini dan kalau kamu khawatir aku akan mengganggu kamu, kamu anggap saja aku bukan siapa-siapa seperti biasanya. Aku juga tahu diri kok, kalau kamu nggak suka kehadiran aku dan aku nggak akan memaksa kamu untuk suka sama aku," ucap Vanesa dingin. Bumi melihat seorang laki-laki hanyut dan itu membuatnya segera turun dengan cepat diikuti beberapa orang lainnya yang ingin membantunya. Bumi mengambil tali dan ia melemparnya kearah laki-laki itu, ambil talinya Pak ayo!" Teriak Bumi. Laki-laki itu segera mengambil tali itu dan ia berusaha melawan arus dan akhirnya ia berhasil melawan arus, lalu menggapai tali itu. Bumi dan beberapa rekannya meminta laki-laki itu agar kuat memegang tali dan semua orang memuji ketangkasan seorang Bumi yang berhasil membantu penyelamatan dengan cekatan ia menarik tali itu bersama rekannya. Laki-laki itu berhasil diselamatkan dan saat ini telah berada ditempat yang aman. Aksi heroik seorang Bumi lagi-lagi membuat Vanesa jatuh cinta dan sulit baginya untuk melupakan Bumi. Mereka membawa laki-laki itu keatas dan Bumi segera memeriksa laki-laki itu. Seorang perempuan cantik mendekati Bumi lalu menyerahkan peralatan medis kepada Bumi. Senyum Vanesa hilang sudah, apalagi perempuan itu terlihat menyukai Bumi dan perempuan itu juga sangat mahir membantu Bumi. Keduanya terlihat sangat serasi, Icha yang berada disamping Vanesa merasa ada sesuatu diantara Vanesa dan Bumi. Vanesa tidak berani mendekati mereka dan ia hanya melihat dari tempatnya bagaimana Bumi memeriksa laki-laki itu. "Di mana anak dan istri saya hiks...hiks...tadi mereka bersama saya," ucapnya dan ia terlihat sangat sedih. "Saya kehilangan mereka hiks...hiks..." tangisnya membuat Bumi menepuk bahu laki-laki itu. "Sekarang pulihkan kondisi Bapak dan kita akan segera mencarinya bersama-sama nanti!" Ucap Bumi. Vanesa merasa sangat sedih dan tanpa ia sadari air matanya menetes namun tanpa isakan, ia sangat sedih melihat laki-laki ini harus kehilangan istri dan anaknya. Bumi meringankan laki-laki itu dibawa ke tempat yang lebih aman apalgi kondisi kesehatannya buruk. Vanesa melangkahkan kakinya mendekati Bumi namun ia menghentikan langkahnya karena sosok perempuan tadi menatapnya dengan tatapan dingin. "Anda bukan tim medis jadi sebaiknya anda jaga jarak dengan dokter Bumi!" Ucapnya membuat Vanesa mengepalkan kedua tangannya. Akan ada banyak orang yang mencoba menghalanginya agar bisa berdekatan dengan Bumi. "Kenapa aku nggak boleh dekat sama Mas Bumi, bagi kamu mungkin dia dokter Bumi tapi bagi saya dia itu Buminya saya!" Ucap Vanesa dan ia tahu perempuan ini pasti hanya rekan kerja Bumi jadi perempuan ini juga tidak pantas melarangnya untuk bertemu Bumi. Wanita ini ingin memukul Vanesa membuat Icha terkejut. "Lebih baik kita kesana saja Nes! Jangan dekatin dia berbahaya!" Ucap Icha membuat Vanesa terkekeh karena Icha mengatakan perempuan ini berbahaya. Vanesa segera melangkahkan kakinya menjauh dari mereka dan ia mengurungkan niatnya untuk mengajak Bumi berbincang. Ternyata keinginannya untuk bertemu Bumi akhirnya bisa ia wujudkan saat ini dan ia juga tidak menyangka jika Bumi benar-benar menjadi seorang relawan disini. Tapi melihat sikap Bumi yang memintanya pulang itu membuatnya kesal, ia memang ingin bertemu dengan Bumi tapi bukan berarti ia akan merepotkan orang-orang disekitarnya. Ia sudah banyak belajar tentang penanggulangan bencana dan ia ingin membantu mereka saat ini, jika ia tidak bisa medis paling ngga ia bisa membantu mereka memasak atau menghibur mereka dengan caranya. Tenyata jalan masih belum bisa dilewati dan keadaan merekapun saat ini semakin memperhatikan, apalagi hujan juga belum reda sejak tadi. Edo dan Ivan mendekati mereka yang sedang berteduh dibawah pohon. "Nes, Icha jangan memencar kita satu tim dan disana kami sudah membangun beberapa tenda, tenda tim kita di tenda ketiga!" Ucap Edo. "Iya," ucap Vanesa dan Ica bersamaan. "Sini biar saya bantu bawakan ransel kamu!" Ucap Edo. "Nggak usah Do, saya masih bisa membawanya!" Ucap Vanesa. Ia melangkahkan kakinya menuju tenda dan ia melewati Bumi yang juga berjalan berlawanan arah dengannya. Bumi benar-benar mengacuhkannya dan itu membuatnya menghela napasnya namun ia juga bersyukur karena ia tidak perlu berdebat dengan Bumi. Selama ini ia memang terus berusaha mengejar Bumi dari ia yang sering kali datang ke rumah sakit mengunjungi Bumi hingga ia yang sering datang ke Apartemen Bumi. Bumi memang sangat dingin padanya dan sepertinya Bumi tidak akan pernah berubah. Ya...paling tidak ia datang ke tempat ini memiliki tujuan lainnya yaitu membantu para korban. Para relawan masih terus berusaha untuk membuka akses jalan dan memang jumlah mereka saat ini hanya dua puluh orang saja. Mereka tergabung dalam relawan Bagaskara dan relawan medis tapi sebentar lagi akan ada aparat yang akan membantu mereka membuka jalan menuju desa dua ini. "Ini ganti baju dulu Ca!" Ucap Vanesa memberikan baju kaos miliknya kepada Icha. "Nggak usah nanti persediaan baju bersih kamu berkurang Nes," ucap Icha. Ia tidak menyangka bajunya yang berada didalam ransel akan basah semua dan memang tasnya tidak tahan air. Nanti kalau kita sudah sampai dikampung dia dan ada waktu menjemur baju, kita bisa menjemurnya, kamu tenang saja ini baju nanti nggak usah dicuci juga nggak apa-apa karena aku punya semprot baju antibakteri jadi nggak usah dicuci bajunya juga nggak apa-apa!" Ucap Vanesa. Tasnya tentu saja tas mahal yang memang telah menemuinya selama ini ke berbagai tempat. Menjadi fans fanatik seorang Bumi membuat hidupnya berubah. Ia bahkan sudah sangat mandiri dengan berpergian seorang diri ke luar kota dan ia juga telah memperkuat fisiknya, agar tidak mudah jatuh sakit seperti dulu. Mereka duduk bersama didalam tenda darurat yang memiliki kapasitas besar dan cukup untuk menampung orang dengan jumlah dua puluh lima orang. Hujan masih sangat deras dan suara petir terdengar, Vanesa menahan dirinya untuk tidak terlihat takut meskipun tangannya saat ini terasa sangat dingin. Ia menghela napasnya dan Bumi terlihat duduk disudut tenda lalu ia memejamkan matanya. Bumi memintanya untuk pulang, tapi ia tidak akan pulang karena niatnya bukan hanya ingin bertemu Bumi, tapi ia memang ingin membantu para korban bencana. Sialnya ia jadi ingin duduk disamping Bumi saat ini, tapi bagaimana ia bisa mendekati Bumi sementara perempuan yang ada didekat Bumi bak seorang penjaga yang akan menerkam siapa saja yang berani mendekati Bumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD