Saat ini Vanesa telah sampai di Bandara dan memang mereka akan kesana melalui pesawat dan nanti mereka akan dikumpulkan disebuah tempat untuk membagi daerah mana yang akan mereka datangi. Semua orang terkejut melihat sosok cantik Barbie ini yang menjadi relawan dan sebagian dari mereka menatap Vanesa dengan tatapan sinis karena menganggap Vanesa pasti akan merepotkan mereka.
Pesawat yang membawa mereka akhirnya sampai di daerah bencana dan di kota ini memang tidak terkena bencana, namun didaerah kabupaten yang akan mereka tuju nanti pasti akan terlihat dampak dari bencana. Seorang perempuan mendekati Vanesa dan ia adalah ketua Tim yang telah dibagi di grup relawan. Saat ini mereka dikumpulkan bersama timnya dan permpuan ini telihat prustasi melihat sosok cantik Vanesa. Dari penampilan Vanesa, ia bisa menduga Vanesa adalah anak orang kaya apalagi ia mencari media sosial Vanesa dan telihat Vanesa adalah seorang konten kreator.
"Nama saya Fitri, saya adalah ketua tim kalian," ucapnya.
Vanesa tahu jika Fitri ini pasti berasal dari Bagaskara grup dan semua tim adalah relawan berasal dari perusahaan keluarganya. Namun melihat Fitri terlihat tidak suka padanya berarti Fitri tidak tahu kalau ia adalah anak dari Arif Bagaskara dan Tante dari Senopati Arya Bagaskara. Vanesa tetap tersenyum, meskipun ia tahu mereka pasti tidak menyukainya. Seperti biasa semua orang akan salah paham padanya hanya dengan melihat penampilannya.
"Kalian tahu semenjak kalian memutuskan untuk menjadi tim relawan, kalian harus bersikap mandiri dan kita disana menolong orang bukan untuk merepotkan orang!" Ucap Fitri membuat Vanesa lagi-lagi tersenyum. Ucapan Fitri memang memang benar, namun tatapan mereka semua kepadanya membuat Vanesa merasa, jika mereka saat ini sedang membicarakannya. "Kalau kalian merasa perjalanan kita ini berat sebelum kita berangkat ke daerah bencana, lebih baik kalian pulang ke Jakarta sekarang juga mumpung saat ini kita masih berada di Bandara!" Ucap Fitri.
Mereka yang merupakan teman satu Tim Vanesa melihat kearah Vanesa membuat Vanesa mengangkat sebelah alisnya, namun ia memilih untuk diam. 'Apa gue terlihat kayak anak Mami benera ya? pada hal aku kan hanya anak Papi, selama ini aku juga hidup mandiri nggak terlalu manja kok sama Mbak Ningrum,' batin Vanesa.
Mereka pun saling mengenalkan diri merka, perempuan berkaca mata dan memakai behel di giginya itu bernama Icha dan ia terlihat seperti seorang kutu buku yang sangat cekatan dalam bekerja. Lelaki dengan wajah manisnya dan rambutnya yang bela tengah berponi itu bernama Hamid dan ia merupakan tim lapangan yang memang alih dalam urusan perlengkapan. Laki-laki yang telihat rapi dengan rambut gondrong itu bernama Ican. Dua orang perempuan lainnya bernama Santy dan Tyas, satu laki-laki tampan bernama Edo wajahnya campuran antara Indonesia dan wajah Arab yang khas.
Tentu saja dari segi penampilan Vanesa yang paling cantik dalam tim ini dan ia juga terlihat kaya raya, itu yang membuat mereka ragu dengan kehadiran Vanesa. "Hmmm...kenapa kalian melihat aku seperti itu? Tenang saja aku nggak akan kok menyusahkan kalian!" Ucap Vanesa. "Aku juga pernah kok jadi relawan dan ini bukan pertama kalinya aku jadi relawan," ucap Vanesa membuat sosok Icha tersenyum dan ia merasa Vanesa adalah sosok yang baik.
Mereka segera melanjutkan perjalanan ke kampung dua yang jaraknya cukup jauh dan memang menjadi tempat bencana yang katanya sulit diakses jalanya. Vanesa memang ingin kesana dan ia meminta pihak penyelenggara pergerakkan ini secara diam-diam untuk mengaturnya agar bisa satu tim dengan orang-orang yang akan pergi kesana. Vanesa dan timnya ini membawa bantuan yang cukup banyak untuk para korban bencana.
Mobil tiba-tiba berhenti dan itu membuat mereka melihat kearah mobil lainnya yang berada didepan mereka yang juga berhenti. Edo dan Ican segera turun dari mobil dan keduanya mendekati kerumunan, lalu menanyakan apa yang sedang terjadi. Tak butuh lama keduanya segera mendekati mereka "Jalan putus," ucap Ican.
"Kita diminta untuk berhenti dulu kebetulan ada posko didepan dan katanya sekitar satu jam lagi jalan baru bisa kita lewati kalau lumpurnya berhasil disingkirkan!" Ucap Edo dan ia meminta rekan-rekannya untuk segera turun dari mobil.
Vanesa turun dari mobil dan saat ia keluar dari mobil beberapa orang terpukau melihatnya, membuat teman-teman satu timnya menghela napasnya. Mereka pun mengatakan jika Vanesa adalah seorang princess yang turun ke Bumi untuk mengamati bencana. Apalagi sosok Shanty dan Tyas memang terlihat tidak menyukainya.
"Hey...kamu yakin ngga bakalan ngerepotin orang lain? Cewek manja kayak kamu ini pasti akan sangat merepotkan," ucap Tyas.
"Iya...Disini bukan ajang tebar pesona, kecantikan kamu nggak berguna disini!" Ucap Shanty membuat Icha menghela napasnya.
"Kalian ini apa-apaan sih...jangan bicara begitu!" Kesal Icha.
"Loh...kenyataannya kan begitu, lihat penampilannya yang cantik bak ratu, mana cocok dengan pekerjaan kita, dia jangan-jangan cari sensasi lewat kontennya, agar mendapatkan banyak keuntungan," ucap Tyas yang masih mengira jika Vanesa hanya ingin membuat konten.
"Lagian kamu bekerja diperusahaan apa? Maksud gue anak perusahaan Bagaskara yang mana?" Tanya Shanty.
"Nggak penting gue dari perushaan mana yang jelas gue ini relawan dan gue tahu kok segala resiko yang menimpa relawan saat bertugas, kalau pun gue terlahir cantik dan telihat kaya, itu namanya keberuntungan," ucap Vanesa.
Tyas mengepalkan tangannya dan ia merasa sangat kesal kepada Vanesa, sebenarnya sebagai seorang perempuan ia sangat iri kepada Vanesa karena Vanesa sangatlah cantik. "Udah ayo kita bergabung di posko, itu Mas Ican udah manggil kita agar kita kesana!" Ucap Icha.
"Yaudah ayo!" Ucap Vanesa dan ia melangkahkan kakinya lebih dulu membuat Icha segera mengikutinya.
Mereka saat ini telah berkumpul di posko dan disana ternyata juga banyak relawan yang sedang menunggu, agar mereka bisa melewati jalan ini dan beberapa dari mereka sepertinya adalah tim medis. "Ya hujan lagi....gimana kita bisa masuk sedangkan lumpur saja baru bisa disingkirkan sedikit, gimana kalau banjir lagi," ucap salah satu dari relawan dengan suaranya yang bergetar.
Edo bediri membuat Fitri menarik tangan Ed0 "Mau kemana Do?" Tanya Fitri.
"Gue mau nolongin mereka," ucap Edoeliaht beberapa orang sedang sibuk menyingkirkan lumpur dan juga beberapa pohon yang menghalangi jalan.
"Bahayo Do apalagi sekarang hujan!" Ucap Fitri. Jalan yang akan mereka lalu bukan hanya berlumpur tapi juga telah rusak parah.
"Lebih bahaya lagi mereka yang sekarang ada didalam sana Fit," ucap Edo membuat Fitri melepaskan tangan Edo. Terlihat dengan jelas Fitri menyukai Edo membuat Vanesa menarik sudut bibirnya dan sepertinya perjalanannya ini akan semakin menarik saat ini.
"Kamu kenapa tersenyum gitu, kamu kira lucu?" Tanya Fitri dingin membuat Vanesa menghela napasnya. Ternyata Fitri salah paham padanya dan itu membuatnya memilih untuk diam.
"Wah ganteng banget..." ucap Tyas tiba-tiba dan ia menatap sosok lelaki tampan yang berada dibelakang Vanesa.
"Iya, mana cool gila," ucap Santy membuat Vanesa menolehkan kepalanya dan ia melihat sosok tampan yang saat ini sedang mengulung kemejanya. Jantung Vanesa berdetak dengan kencang dan ternyata dugaannya benar; sosok tampan itu saat ini ikut berpartisipasi menjadi relawan. Dokter yang sangat hebat dan berdedikasi tinggi itu saat ini berada dibelakangnya. Vanesa merasa sangat senang namun ia bingung bagaimana menghadapi sosok tampan itu sementara saat ini ia ingin sekali memeluknya. Sudah empat tahun lebih ia merasakan cinta yang saat mendalam kepada sosok itu dan sekarang apa ia bisa mendapatkan hatinya. Entalah sekarang fokusnya jadi relawan dan bukan untuk mendekati Bumi, meskipun menurutnya tidak ada salahnya jika ia bisa mendekati Bumi.
"Nes...Kamu pasti jadi pasangan yang sangat serasi banget, kalau kamu bisa sama itu cowok ganteng yang ada dibelakang kamu. Sama-sama cantik dan ganteng," ucap Icha.
Vanesa tersenyum tentu saja ia sangat setuju dengan ucapan Icha hingga ia memeluk lengan Icha. "Ingat ya kita bantuin orang bukan sibuk menarik perhatian orang!" Ucap Fitri dingin dan ia tidak suka melihat tingkah Vanesa yang pasti akan menarik banyak pria untuk menyukainya.
"Iya gue tahu kok, tapi nggak ada salahnya kan fisik gue yang cantik ini hingga menarik perhatian orang lain, tapi tetap ya gue bukan perayu lelaki, kalau itu yang lo khawatirkan," ucap Vanesa karena tatapan Fitri terlihat merendahkannya membuat Icha menahan tawanya. Fitri memang ketua tim mereka tapi seharusnya Fitri bisa menghargai mereka dan tidak berkata kasar, apalagi sejak tadi ia sengaja mencari masalah dengan Vanesa.
Terdengar suara bergemuruh membuat terdengar kegaduhan dan meminta terdengar teriakan dari mereka untuk segera menyingkir. "Keluar dari sini cepat, semuanya ada air bah..." teriaknya membuat mereka semua berdiri dan Vanesa menggendong tas ranselnya lalu ia segera keluar dari posko bersama Icha. Beberapa orang berteriak meminta mereka untuk naik keatas dan Vanesa melihat Icha telihat kesulitan hingga ia menarik tangan Icha.
"Jangan ragu ayo kita bisa mendaki!" Ucap Vanesa dan untung saja ia mempersiapkan dirinya dengan sangat baik dengan memakai sepatu khusus untuk mendaki dan sepatu ini dirancang khusus untuk pergi ke tempat yang susah dilewati.
"Nes...aku takut ketinggian..." ucap Icha membuat Vanesa menghela napasnya.
"Jangan takut kamu bisa!" Ucap Vanesa dan ini hanya awal perjalanan mereka dan pasti akan banyak rintangan kedepannya.