Setelah sarapan selesai, Vanesa menuju kamarnya untuk mempersiapkan kepergiannya ke Daerah bencana. Ia segera menelpon penanggung jawab penyalur bantuan, lalu mengirimkan sejumlah uang tambahan yang tadi diberikan Papinya. Nena mengikuti Vanesa dan ia duduk disofa sambil mengamati tingkah Vanesa. Nena menghela napasnya melihat tingkah Tantenya ini yang terkadang menurutnya sangat tidak dewasa, karena sering pergi tanpa memberitahu keluarganya. Vanesa bisa membuat semua keluarga kalang kabut, hanya karena tingkah kekanak-kanakan Vanesa.
"Tante sekarang itu Tante jangan memikirkan diri Tante sendiri tapi pikirkan orang-orang yang kahwatir dengan keadaan Tante," ucap Nena.
"Ya ampun keponakan cantik Tante ini sekarang ketus banget, udah dewasa ya sayang..." ucap Vanesa sambil mencubit pipi Nena karena gemas.
"Tante aku itu serius loh Tan..please jangan bertindak konyol dengan mencari Dokter Bumi terus, kalau dia nggak mau muncul dihadapan Tante berarti Tante itu bukan prioritasnya dia, lagian dia juga sesudah tahu kan kalau Tante menyukai dia, kok aku jadi benci banget sama si Bumi itu," ucap Nena.
"Iya dia sudah tahu kok dan Tante ditolak...hmmm....Tante udah nyerah dan Tante pergi ke daerah bencana ini juga bukan karena dia, kalau pun suatu saat ketemu sama dia lagi kayak waktu itu , Tante juga bingung mau bilang apa, yang jelas Tante belum bisa melupakan dia," ucap Vanesa dan ia duduk disamping Nena, lalu memeluk lengan Nena sambil menyandarkan kepalanya dibahu Nena.
"Tante itu cantik banyak kok yang suka sama Tante, bahkan teman-temanku ternyata suka sekali sama Tante. Tante itu Barbie hidup kata mereka Tan, harusnya Tante mendapatkan suami yang sayang sama Tante bukan laki-laki angkuh yang nggak suka sama Tante," ucap Nena.
"Tante udah nyerah kok, baik itu mencari Mas Bumi ataupun mendapatkan lelaki lain, Tante mau jalani hidup Tante dengan baik Nena, menolong orang lain itu kan keinginan Tante sekarang, lagian kan uang keluarga kita banyak kita juga harus bersedekah sebagian dari keuntungan perushaan untuk orang-orang yang membutuhkan," ucap Vanesa.
"Dari dulu kan juga begitu Tan, disalurkan sama pihak yayasan," ucap Nena yang tahu bagianan keluarganya memang selalu mengutamakan bersedekah dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
"Tante kan kerjanya santai, upload video, upload foto hai...hi...gitu dan penggemar Tante kan juga banyak banget Nena, jadi Tante itu bisa juga bekerja jadi relawan disana," ucap Vanesa. "Tapi kalau didaerah bencana Tante nggak ngonten, Tante juga pamit kok sama penggemar Tante kalau Tante sedang liburan privat jadi no ngonten," ucap Vanesa membuat Nena menghela napasnya
"Tan, gimana kalau aku ikut Tante juga ke sana?" Tanya Nena. "Aku juga bisa melakukan pekerjaan relawan sebagai dokter, pasti disana membutuhkan dokter juga kan Tan," ucap Nena.
"Jangan! Tante nggak mau dimarahin Mami kamu, kamu pikir Mami kamu bakalan ngizinin kamu juga? Nggak!" Ucap Vanesa.
"Tante...aku itu kahwatir sama Tante, gimana kalau Tante digangguin orang terus terjadi sesuatu sama Tante. Aku itu kahwatir sama Tante dan aku maunya Tante segera pulang nanti setelah semua urusan disana selesai!" Ucap Nena.
"Iya Nena," ucap Vanesa.
"Aku itu tahu loh Tante sebenarnya itu kesana mau cari tahu apa, Tante pasti cari si Bumi itu, Bumi juga kemungkinan besar juga datang kesana menjadi relawan, Mas Bumi memang sudah pulang dari luar negeri dan memang berada di Indonesia, tapi aku juga nggak tahu dia di Jakarta atau tidak, kemarin aku sempat nanya sama Mbak Dea dan kata Mbak Dea si Bumi waktu itu sempat pulang ke rumah Nenek Kakeknya," ucap Nena.
"Dia nggak ada perasaan sama Tante, jadi Tante juga merasa harus bisa melupakannya meskipun sulit banget. Mungkin kalau Mas Bumi sudah menikah Tante bakalan stop deketin dia dan Tante akan sadar kalau suami orang itu nggak boleh dimiliki," ucap Vanesa dan cepat atau lambat itu pasti akan terjadi.
"Iya Tan semoga Dokter Bumi itu sudah menikah biar Tante sadar diri kalau harga diri itu lebih penting," ucap Nena membuat Vanesa tersenyum. Ia mengerti kekhawatiran keponakannya ini tapi sebenarnya dihati kecilnya, ia ingin sekali bertemu dengan Bumi walaupun itu tidak seperti dulu yang berusaha keras ingin mencari Bumi. Mungkin ia dan Bumi bukan jodoh dan harapannya untuk mendapatkan Bumi sangat tipis. Ia ingat beberapa waktu yang lalu ia bertemu Bumi, namun tatapan Bumi terlihat dingin padanya dan itu membuatnya mundur untuk sekedar menyapa Bumi seperti dulu.
"Tante nggak mau menunggu Mbak Nanaj lahiran dulu?" Tanya Nena.
"Kalau menunggu Nanja lahiran bantuan ke daerah bencana terhambat, sekarang itu mereka sangat membutuhkan makanan pokok, popok anak, s**u, obat-obatan dan suport dari kita Dek. Nanaj pasti ngerti kok dengan keputusan Tante," ucap Vanensa dan ia memang tidak berniat untuk menemui Nanaj hari ini, karena keponakannya itu pasti akan menangis. Kalau sudah menangis Bayu suaminya akan mengatakan banyak hal yang membuatnya pusing.
"'Tante juga nggak pamit sama Mas Seno dan Mbak Alea?" Tanya Nena.
"Pamit kayak yang mau pergi lama, nggak usah paling lama Tante dua minggu disana, pamit sama Seno dan Kaisar hanya akan membuat Tante batal pergi," ucap Vanesa.
"Aku pengen ikut....!" Ucap Nena.
"Kamu bujuk Mami dan Papi kamu nanti kalau diperbolehkan kamu nya usul Tante oke!" Ucap Vanesa membuat Nena menganggukkan kepalanya.
'Berhasil...hehehe...semoga gue menemukan berlian gue disana..." ucap Vanesa yakin jika disana kemungkinan besar ada Bumi.
Jika ke daerah perang tempat Bumi sering datang menjadi relawan, ia tidak akan bisa pergi kesana dan ia ingat saat ia sudah masuk pesawat saat itu tiba-tiba ia ditarik oleh dua orang bodyguard, lalu membawanya pulang. Ia dimarahi habis-habisan oleh keluarganya dan dilarang pergi selama dua minggu. Bahkan Papinya secara berlebihan meminta pskiater untuk menasehatinya dan itu membuatnya sangat kesal. Tidak ada yang salah dengan cinta yang ia rasakan kepada Bumi dan sebagai fans berat Bumi, ia saat itu hanya ingin melihat Bumi sebentar saja.
Melihat rasa cintanya kepada Bumi yang begitu besar, informasi mengenai di mana Bumi berada, berusaha dirahasiakan oleh Dea sepupu Bumi, agar Vanesa tidak berbuat nekat lagi. Vanesa dengan cepat membawa pakaiannya dan tetap saja warna pink akan menjadi warna pakaian kesukaannya dan ia segera mengganti pakaiannya dengan kaos berwarna pink. Tetap saja dengan memakai pakaian biasa pun sosok si Baribie akan tetap terlihat cantik seperti boneka Barbie dan setiap kali orang melihat Vanesa, orang pasti akan mengatakan Vanesa boneka Barbie karena memang secantik itu Vanesa dengan tubuhnya yang bak seorang boneka.
Setelah selesai menyiapkan barang-barangnya, Vanesa segera keluar dari kamarnya dibantu Nena. "Kenapa nggak besok aja si Tan berangkatnya?" Tanya Nena.
"Lebih cepat lebih baik, orang-orang pada butuh bantuan Nena, udah ah...kenapa kamu jadi cengeng gini sih..." ucap Vanesa.
Vanesa mendekati Papinya yang sedang duduk diruang tengah. "Pi Vanesa perginya hari ini aja dari pada besok Pi, sekarang itu kan kejadiannya baru kemarin gitu Pi kalau sekarang perginya kan lebih gimana gitu Pi, lebih cepat lebih baik biar aku juga bisa pulang cepat Pi!" Ucap Vanesa membuat Arif menghela napasnya.
Arif menghubungi salah satu orang kepercayaannya dan ia meminta orang-orangnya itu untuk mengawasi Vanesa. "Kamu jangan merepotkan orang lain Nessa, Papi juga tetap mengawasi kamu dan kamu sudah Papi titip sama ketua yayasan!" Ucap Arif.
"Tetap ya Pi aku nggak mau didentitas aku itu diketahui sama mereka Pi, aku disana benar-benar mau nolongin orang Pi bukan untuk dimanjakan atau apalah..." ucap Vanesa.
"Alesan..." ucap Arif membuat Vanesa mengangkat sebelah alisnya dan ia mendekati Papinya dengan cepat lalu ia mencium pipi Papinya itu.
Vanesa segera pamit kepada Haris, Ningrum dan Nena, ketiganya memang sulit untuk menghentikan Vanesa untuk pergi ke daerah bencana. Apalagi memang disana benar-benar sangat membutuhkan uluran tangan para relawan. Vanesa tersenyum senang dan ia segera masuk kedalam mobil yang telah menjemputnya. Ya...ia juga baru mengenal beberapa relawan lewat grup relawan dan ia berharap ia akan mendapatkan teman yang tulus nantinya.