Hening. Reya menatap lantai. Tangannya sudah ditarik kembali, disembunyikan di balik punggung. Napasnya sedikit tercekat. Hari baru saja dimulai. Tapi dalam d**a Reya sudah terasa penuh ketakutan. "Silahkan kembali ke tempat duduk kamu." "Baik, terima kasih pak." Reya kembali ke meja kerja. Memulai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Barat mulai untuk membaca dokumen-dokumen, meneliti detail, lalu ia bersandar di kursinya. Matanya tak lepas dari pantulan kaca ruangannya yang mengarah ke luar. Di sana, gadis itu duduk. Sibuk merapikan meja yang akan menajdi meja kerjanya. Tapi bukan itu yang membuat pikirannya terusik. Ada yang lebih mengganggu dari sekadar pekerjaan. "Kenapa wanginya selalu ganggu ?" gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri. "Wangi apa? Musk? Vanila?" B

