LC 9

615 Words

Gadis itu tetap diam. Barat menunduk sekali lagi, mencium pipi Reya sekilas. Lalu menjauh perlahan. "Ayo. Kita keluar. Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Reya hanya mengangguk. Napasnya masih tidak teratur. Tapi ia mengikuti langkah pria itu yang kini berjalan menuju pintu, lalu membuka kunci. Saat mereka melangkah keluar, para staf sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang terlalu peduli. Tapi hanya Reya yang tahu, bahwa satu langkah barusan. bisa jadi mengubah hidupnya selamanya. Perjalanan di dalam mobil berlangsung hening. Mesin menderu pelan, menyusuri jalanan ibukota yang padat. Dari balik jendela, lampu-lampu kota berganti seperti kilasan mimpi yang tak sempat dimaknai. Reya duduk di samping, memeluk tasnya erat-erat. Tangannya menggenggam resletin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD