9

2444 Words
Setelah menyimpan blush on di rak meja kerjanya, Gerald dengan sigap bersandar di kursi kedudukan nya dengan santai. Seakan tak mau membuat Icha berbangga hati dan percaya diri kalau dirinya akan menyambut kedatangan wanita itu. Ia harus terlihat santai senatural mungkin. Icha melangkahkan kakinya kedalam, dan ingin terburu-buru menanyakan apa ada sesuatu yang disembunyikan pak CEO darinya perihal wawancara nya yang sebagai digagalkan. "Saya mau bicara." Ucap Icha sembari memperhatikan banyak memar di wajah Gerald. Gerald menatap balik Icha dan menganggukinya. "Baiklah, kita akan mengobrol disofa." Balas Gerald. Setelah duduk dan memperhatikan wajah Gerald dengan seksama, Icha tanpa sadar wanita memegang pipi dan kening Gerald. "Kenapa bisa begini? Apa bapak habis berantem?" Tanya Icha dengan wajah yang khawatir. Bukan nya apa, Icha yang notabe nya seorang sekretaris Gerald selama tiga tahun tak mungkin melupakan pekerjaan nya. Salah satunya dalam menjaga CEO. Gerald menaikan alisnya, awalnya memang dirinya ingin bersikap stay cool dan tidak perduli. Tapi melihat Icha yang panik dan menyebutnya habis berantem bukan nya wanita ini sedang sengaja mencari perhatian padanya. Baiklah Gerald suka ini, Gerald juga suka blush on yang membantu keadaan saat ini. Sudah begini juga, toh Gerald akan mengambil kesempatan dalam kesempitan kali ini. Gerald meraih tangan Icha yang berada di pipinya. "Saya lapar, bisa tolong ambilin cookies dimeja dan Suapin?" Tanya Gerald dengan manja. Terlalu kasihan melihat Gerald yang wajahnya merah-merah, membuat Icha jadi Iba dan mulai menuruti perkataan mantan bosnya itu.  "Oiya, saya mau tanya baik-baik. Apa bapak benar mengenal pemilik perusahaan dimana saya diwawancara. Saya dengan dihari wawancara saya bapak datang menemui pemiliknya?" Tanya Icha sembari menyuapi Gerald yang sedang pura-pura kesakitan. Gerald membuang mukanya, lalu mulai mengarang cerita. "Ah hari itu kamu juga sedang wawancara? Saya bahkan gak tahu kalau kamu wawancara disana. Dia itu sahabat baik saya Icha yang baru pulang dari Amerika sejak empat tahun lalu, kamu sudah pasti belum mengenal nya."' Elak Gerald. Pertama kalinya dia bohong dengan seorang perempuan untuk kepentingan hatinya. "Oh begitu." Ujar Icha menerima jawaban Gerald dengan lapang d**a. "Yasudah, saya sudah harus pulang." Ujar Icha ingin meminta izin untuk pamit. Gerald menahan tangan Icha sebelum wanita itu beranjak untuk berdiri dari sofa. Lalu menarik dua jari Icha yang tadi nya dibuat wanita itu untuk memegang cookies dan dimasukkan nya kedalam mulut pria itu dengan tangan nya. "Masih ada sisa remahan nya." Ujar Gerald dengan polosnya. "Sayang, aku haus nih." Ujar Gerald kepada sang istri dengan manja seperti biasa. Icha tanpa mengeluh ataupun menjawab lebih dulu rengekan Gerald, wanita itu dengan sigap mengambil air mineral untuk sang suami. Setelah memberikan segelas air, Icha kembali membaca majalah dengan konsentrasi tanpa memperdulikan Gerald yang sedang mengkode untuk dimanja malam ini. Gerald memperhatikan sang istri yang cantiknya semakin hari semakin bertambah, begitupun perhatian wanita itu padanya tak pernah luntur apalagi punah hingga saat ini. Icha masih Icha yang dulu, wanita yang pengertian padanya walau dirinya kadang kala sering menyakiti wanita itu. "Laper sayang." Bisik Gerald sembari memeluk perut Icha manja. Icha mulai menutup majalah yang saat ini dibacanya. Melirik sang suami yang sepertinya tengah butuh perhatian nya malam ini. Tangan wanita itu mulai membelai lembut rambut sang suami. "Mau makan apa malam ini? Mau aku masakin atau makan diluar, Hm?" Tanya Icha memanjakan sang suami. "Kalau kamu capek kita bisa makan diluar, tapi kalau tidak lelah tolong masaki aku pasta." Ujar Gerald sembari tersenyum manja. "Baiklah, aku akan memasaknya. Tapi sampai kapan kamu mau lepasin pelukan mu?" Tanya Icha meledek sang suami. Gerald mengangguk. "Ya baiklah." Ujarnya setelah itu mulai melepaskan pelukan nya pada tubuh Icha. Setelah menunggu Icha memasak kurang lebih setengah jam, harum makanan sudah tercium lezat dihidung Gerald saat ini yang sedang menonton TV. "Sayang sudah jadi, ayo ke dapur." Teriak Icha dari dapur. Gerald dengan sigap bangun dan buru-buru kelantai bawah menghampiri sang istri. "Cium dulu sebelum aku makan." Pinta Gerald pada Icha. Icha menurutinya dan mengecup perlahan bibir Gerald. "Kurang sayang." Ucap Gerald setelah itu mulai menarik tekuk Icha lebih dalam agar lidah nya bisa masuk kedalam mulut wanita itu. "Ngghhh... makan dulu ger, nanti dingin pastanyah." Lenguh Icha memperingati sang suami. Gerald melepas ciuman nya setelah mengakhiri nya dengan tiga kali kecupan ringan di bibir sang istri. Lalu mulai melahap cepat pasta bikinan istri kesayangan nya. "Ah, aku semakin mencintaimu." Ujar Gerald sembari menatap penuh kearah sang istri yang saat ini tengah menungguinya makan hingga selesai. "Aku cuci piring sendiri saja, kamu naik keatas duluan dan istirahat." Ucap Gerald yang melihat sang istri mulai kelelahan. Icha tak menolak dan mengangguk setuju. Wanita itu mulai tertidur setelah selesai merapihkan beberapa barang yang berada pada tubuh nya, seperti berganti baju dan membasuh muka. Wanita itu mulai terlelap dalam tidurnya. Di pertengahan malam Icha bisa merasakan sesuatu yang menggesek tubuh bagian belakang nya, dan ia tebak ini pasti kerjaan suaminya yang burung nya terbangun ditengah malam. Saat ini Icha tengah berada didalam sebuah cafe kesukaan nya yang menyediakan sebuah kopi dan cake kesukaan nya sedari dulu. Memang dulu dirinya hanya bisa melihat cake ini dari luar karena tak memiliki uang saat itu, tapi karena berhasil bekerja bersama perusahaan milik bosnya Gerald ia jadi bisa membeli cake dan kopi ini kapan saja. "Tunggu! Apa aku barusan memikirkan pak Gerald lagi?" Tanya Icha pada dirinya sendiri. Icha menghela napasnya, tak sangka otak dan pikiran nya hanya dipenuhi manusia aneh itu. Ia jadi teringat ancaman Gerald yang tak mau pindah dari kontarakan sebelum wanita itu kembali lagi menjadi sekretarisnya. Ting! Ponsel Icha menampilkan satu pesan dari seorang yang sedari dulu dihindarinya. Penagih hutang. "Saya masih menunggu lima ratus juta lagi, kalau terlalu lama membayar bunga nya akan semakin bertambah." Kurang lebih begitulah isi pesan nya. Jangan tanya berapa hutang yang dilakukan ibunya dulu dengan sang ayah, jumlah nya bahkan lebih dari satu miliyar. Dirinya bahkan belum berhasil melunasi hutang orang tuanya saat tiga tahu bekerja pada Gerald. Enam ratus juta sudah ia bayarkan pada penagih utang itu, tapi bunganya bahkan bertambah begitu pesatnya. Apa ia harus menerima pekerjaan itu lagi? Lagi juga mencari pekerjaan itu tidaklah mudah sama sekali. Tidak seharusnya juga ia sok jual mahal, Icha harus tahu diri. Pandangan nya teralihkan pada seorang wanita cantik dipinggir dekat jendela cafe ini, Icha tebak wanita itu pasti memiliki seseorang yang sangat mencintainya. Pintu cafe terbuka menampikan sesosok pria yang selalu dipikirkan Icha akhir-akhir ini, bahkan bukan hanya ia pikirkan tapi ia lihat setiap hari nya. "Pak Gerald?" Gumam Icha sembari mengerutkan keningnya. Pria itu mulai mendekati seorang wanita cantik yang sebelum nya dipuji Icha. Mereka berdua terlihat mengobrol begitu akrab nya. "Apa wanita itu yang selalu menganggu pikiran pak Gerald setiap kali mood nya berubah?" Tanya Icha didalam hatinya. Ia ingat sekali, waktu dirinya bekerja dengan Gerald. Gerald selalu terlihat termenung sendirian ketika baru menjawab sebuah telpon dari seorang wanita. Bahkan pria profesional itu masih sempat meninggalkan rapat penting nya demi menemui wanita itu. Icha dulu hanya bisa memperhatikan nya tanpa tahu nama, wajah, bahkan status keduanya. "Huh, ini bukan urusan ku." Ujar Icha memecahkan pikiran nya kala itu. Dirinya memilih untuk pulang tanpa menyapa kedua orang itu. Ia akan mandi dan membersihkan diri karena Icha bisa menebak nya, Gerald yang akan pulang telat malam ini. Seandainya ia bisa mengunci pintu rapat-rapat agar pria itu tidak bisa masuk kedalam tempatnya, tapi tetap saja selalu gagal seperti yang pernah terjadi sebelum nya. Gerald bisa masuk padahal dirinya tak pernah lupa mengunci pintu, saat ia bertanya Gerald selalu menjawab nya dengan jawaban yang sama. Icha lupa mengunci pintunya, bukankah itu mencurigakan? "Apa aku harus melaporkan nya ke polisi?" Tanya Icha pada dirinya. Icha menggeleng setelah nya. "Kalau aku melaporkan nya ke polisi, bukan dia yang akan ditangkap tapi aku." Jawab Icha untuk dirinya sendiri. Mata Gerald memicing, melihat Icha yang baru saja keluar dari cafe yang sama dengan nya saat ini. "Berani sekali dia tidak menyapaku." Ujar Gerald. "Kenapa?" Tanya wanita cantik disebelahnya yang dibalas gelengan oleh Gerald. Special cerita hans dan nala "Spesial Hans dan Nala" Nala bersenandung didalam satu ruangan yang berstatus sebagai ruang kerja Hans. Tangan nya tak bisa diam untuk tidak merecoki barang-barang disana. Mungkin kalau Hans tahu, pria itu tak akan tinggal diam karena ruang kerja nya yang sangat privasi sedang diacak-acak oleh seorang bocah kecil. "Eh?" Mata Nala membulat ketika melihat foto lama Hans bersama seorang wanita yang sebelum nya pernah dilihatnya. "Hm..kak Icha?" Gumam Nala setelah berhasil mengingatnya. "Wah kak Icha gak berubah, masih cantik saja sampai sekarang." Ujar Nala seperti anak kecil. Nala menghembuskan napasnya berat. "Jadi hubungan kak Hans sama kak Icha bukan main-main." Gumam Nala kembali ketika melihat foto yang menunjukkan Hans sedang mencium pipi Icha. Sedangkan icha disana terlihat terkejut karena matanya melebar saat difoto. Bruk Suara pintu terbuka, dan Nala tak sempat menyembunyikan bahkan merapihkan kembali barang-barang yang sedang di acak-acaknya. "Sedang apa?" Tanya Hans curiga saat lelaki itu memasuki ruang kerjanya dan melihat Nala nampak terkejut. Ekspresi Nala sangat terbaca, bahkan mudah untuk ditebak oleh seorang Hans. "Apa yang kamu sembunyikan dibelakang punggung mu?" Tanya Hans untuk kedua kalinya pada Nala. Nala menggeleng dan menolak tangan hans yang saat ini sedang berusaha untuk mengambil barang yang disembunyikan nya dibelakang tubuh wanita itu. "Nggak ada apa-apa kak Hans!" Ujar Nala panik karena tak mau untuk kesekian kalinya dirinya dimarahi Hans kembali Alana tidak menjawab malah memasang ekspresi kaku dan malu-malu. "Ih om jangan bilang begitu." Bisik Alana dengan wajah memerah padam. Ketika regan menciumi Alana terasa cukup panas rasanya leher Alana saat itu, apakah suhu disini emang panas? Tangan Alana menyentuh kening regan perlahan. "Panas." Gumam Alana. Alana menhentikan ciuman regan dan menangkup pipi pria itu, lalu perasaan nya jadi sedih. "Om sakit lagi, kenapa sering sakit sih akhir-akhir ini?" Tanya Alana khawatir. Regan menggeleng. "Dari tadi memang merasa gak enak badan, tapi gak sadar kalau sampai panas begini." Ucap regan seperti mengadu pada istri. "Alama buatkan teh hangat dulu ya?" Ujar Alana. Sedangkan regan terbaring lemah diatas sofa saat Alana berhasil mengetahui bahwa dirinya sakit. "Mangakanya jangan bandel jadi cowok, kena sakitkan?" Ujar Alana meledek om regan. Regan tertawa kecil dengan wajah pucat. "Kamu belajar ngomong gitu dari siapa?" Tanya regan pada wanita nya. "Gak tahu." Jawab Alana dengan santai. "Pipi om merah, ini minum dulu teh hangat nya. Setela itu Alana kompres." Ujar Alana. Regan mengangguk. "Jangan bandel mangaknya, kalau dibilangin nurut. Seperti nya tadi om tidak sempat makan ya?" Tanya Alana Regan mengangguk. "Karena liburan ini om harus lebih bekerja keras." Ucap regan membalas ucapan Alana. "Om minum obat ya?" Tawar Alana Regan menggelengkan kepalanya. "Sejujurnya om gak suka obat." Ucap regan. Alana mengangguk. "Alana juga gak suka obat, memang nya ada orang yang suka obat pahit?" Tanya Alana menyindir regan. Regan mengangguk lalu menuruti Alana untuk minum obat. "Setelah minum obat om pasti akan merasa mengantuk." Ucap Alana yang akan merasa kesepian karena sebentar lagi regan tertidur. Regan tersenyum sembari mengelus pipi Alana. "Om akan pindah kekasur saja." Pinta regan. Alana mengangguk dan membantu regan. "Sekarang om bisa istirahat dengan nyaman." Ucap Alana. "Kata siapa?" Tanya regan tak setuju dengan ucapan Alana sebelum nya. "Om butuh pelukan kasih sayang biar cepat sembuh, sini om peluk Alana." Ujar regan. "Bolehkan?" Tanya Alana. Regan mengangguki. Akhirnya mereka tiduran dengan saling berpelukan. "Alana cinta om regan." Gumam Alana didalam pelukan hangat regan. "Alana mau cium om boleh gak?" Bisik Alana. Regan mengangguk. "Boleh." Balas regan. Sebelum tidur Alana mengecup bibir regan sejenak, lalu wanita itu pun tertidur pulas. Sedangkan regan masih memikirkan cara nya untuk meminta restu pada calon mertua alias ayah dari Alana juga Ken sahabat nya. Meminta restu Ken saja pasti sulit bagaimana nanti jikalau ia bilang pada orang tua Alana tentang hubungan mereka. Apa regan sudah benar-benar serius dengan Alana? Regan juga bingung dengan itu, ada satu sisi dimana ia merasa benar benar mencintai Alana. Satu sisi lagi ada perasaan ketidakcocokan diantara kedua nya seperti perasaan ragu yang kadang terlintas. Mau tau pada setuju gak regan sama Alana? ARegan menggelengkan kepalanya. "Maksud mu apa?" Tanya regan menggoda balik Alana. "Sedari tadi om regan menciumi Alana terus, Alana jadi geli." Ujar Alana kebingungan. "Apa Alana tidak suka dengan itu?" Tanya regan kembali menggoda Alana. Alana mengangguk. "Suka tapi seperti nya Alana terlalu mengantuk, malam ini Alana ingin tidur cepat." Ujar Alana yang diangguki oleh regan. Regan memeluk tubuh Alana yang kini berada diatas kasur nya, tubuh Alana tergolong ringan walau beberap bagian tubuh nya sudah terlihat matang. "Kalau begitu tidurlah, om akan memeluk mu." Ujar regan pada Alana. Alana memejamkan matanya sembari memeluk Alana erat. "Jangan kebanyakan makan, seperti nya om bisa merasakan perut mu yang mulai membuncit." Goda regan berbisik pada Alana. "Ih om regan!" Kesal Alana sembari mencubit perut keras regan yang berada di pelukan nya. Mata Alana mengerjap-erjap. "Ada apa?" Tanya regan melihat Alana. Alana mengganggukan kepalanya. "Ini nih, Alana kelilipan." Ujar Alana. Regan membuka mata Alana perlahan, lalu meniup nya dengan pelan. "Apa sudah baikan?" Tanya regan pada Alana. Alana menganggukan kepalanya. "Sudah!" Ujar Alana merasa senang. "Bilang apa pada om yang sudah berhasil menyelamatkan mu?" Tanya regan. "Terimakasih om regan." Ucap Alana sembari tersenyum manis. "Lalu, hanya berterimakasih saja?" Tanya regan meminta hal lebih. Alana mengerutkan kening nya, dan bingung apa yang regan ingin kan kembali dari nya. "Memang nya om mau apa lagi?" Tanya Alana. "Hm, apalagi yang kurang ya?" Gumam Regan sembari memanyunkan bibirnya. Alana tertawa kecil saat dia mulai mengetahui apa yang regan inginkan. "Cup!" Regan tersenyum kecil setelah mendapat apa yang diinginkan nya sebelum nya. "Jadi kapan Alana bisa tidur?" Tanya Alana yang kini memanyunkan bibirnya. Regan tertawa. "Baiklah, om sudah izinkan kamu tidur sekarang." Ujar regan sembari mengeloni Alana. Paginya regan tertidur dan melihat Alana yang tidak ada disamping nya. Melihat itu regan pergi menelusuri vila tapi tetap tidak menemukan Alana. Tepat di samping nakas ternyata dirinya menemukan sebuah kertas yang bertuliskan bahwa Alana sudah bangun pagi untuk pergi kepacuan kuda. Melihat itu regan membersihkan tubuh nya dulu dengan mandi dan beberes, setelah itu mulai bersiap menyusul Alana yang berada di pekarangan kuda. Regan melipat kedua tangan nya ke d**a, saat merasa kesal pada pemandangan dihadapan nya. "Alana, turunlah!" Teriak regan pada Alana yang kini sedang memacu kuda bersama seorang pria. Alana tak menghiraukan, malah terlihat senang dan tertawa bahagia. "Apa dia pernah tertawa selebar itu saat dengan ku?" Gumam regan. Perasaan bersalah mulai muncul dibenak regan, apakah dirinya tidak pernah membuat Alana bahagia selama ini. "Om regan!" Panggil Alana dari atas kuda nya. Regan memperhatikan Alana yang masih sama, perasaan nya kini membuatnya kakinya berhasil menjauh dari tempat itu. "Oh, apa yang sedang aku lakukan?" Gumam regan pada dirinya. "Haruskan aku meninggalkan Alana dan melupakannya?" Tanya regan kembali pada dirinya. Dari kejauhan Alana melihat regan yang terlihat menjauh dari nya, Alana pikir regan mau ikut naik kuda bersama nya. Tapi apa yang ia lihat kini tidak seperti apa yang diinginkan nya. "Apa om regan mulai bosan dengan Alana?" Ujar Alana pada dirinya sendiri. Alana turun dari kuda yang ia naiki sebelum nya dengan pria kenalan baru nya pagi ini. "Om regan!" Panggil Alana dari jauh. Regan tak menjawab dan masih setia berjalan menjauhi nya. "Om regan kalau tidak berhenti kita putus!" Ancam Alana membuat regan menhentikan langkah nya. Alana yang melihat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, dirinya segera berlari dan memeluk regan dari belakang. "Apa om marah pada Alana?" Tanya Alana sedih. Regan berusaha melepaskan tangan Alana dari perutnya, lalu pria itu membalikan badan nya seraya menatap mata Alana. Tolong ingetin aku terus ya, buat up cerita ini kadang lupa aku tuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD