BAB 3

1221 Words
Hari-hari berikutnya berjalan seperti sebuah rutinitas robotik yang mencekik. Setiap pagi, Dara harus meminum segenggam vitamin di bawah pengawasan ketat Rissa. Setiap minggu, ia dibawa ke klinik pribadi milik keluarga Garda, di mana dokter akan memeriksa rahimnya seolah-olah sedang memeriksa kualitas mesin pabrik. Sementara Garda sendiri, dia masihlah tetap menjadi sosok yang asing. Ia hanya mendatangi kamar Dara pada jadwal-jadwal tertentu yang telah ditentukan oleh Rissa. Sebuah penjadwalan "reproduksi" yang begitu mekanis dan dingin. Bagi Garda, tubuh Dara adalah kewajiban sedangkan bagi Rissa, itu adalah investasi dan bagi Dara sendiri, hal itu adalah penghinaan yang berulang pada setiap harinya. Suatu malam, setelah sebuah prosedur pemeriksaan yang melelahkan, Dara berdiri di balkon kamarnya. Ia merasakan angin malam yang bak menusuk-nusuk kulitnya, namun ia tak peduli. Ia sudah ditahap mati rasa. Tinggal di dalam sangkar ini sudah cukup membuatnya merasa kewarasannya dikikis secara paksa. Tiba-tiba saja, sebuah suara yang berat mengejutkan Dara yang tengah tertegun sambil melamun di balkon itu. "Masuk. Udara malam tidak baik untukmu." Itu Garda. Dia berdiri di ambang pintu geser, masih mengenakan kemeja kantor yang lengannya digulung hingga siku. Ini adalah pertama kalinya Garda berbicara padanya di luar urusan "tugas" atau meja makan. Karena selebihnya ia bahkan seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Interaksi bahkan lebih sering dilakukan bersama dengan istri sahnya Garda saja. Dara tidak segera berbalik. Ia tetap mematung dan membiarkan angin malam memainkan helai rambutnya yang kusam. "Apa bedanya, Tuan? Di luar sini dingin, tapi di dalam sana... rasanya malah pengap dan sesak." Dara tersenyum getir. Dia perlakuan seperti barang tanpa jiwa dan ia pun benar-benar memainkan peranan itu dengan cukup baik sekarang. Garda mengernyit keheranan. Karena biasanya, wanita ini hanya akan menunduk dan bergumam "iya". Tidak pernah ada kata darinya maupun Rissa yang terbantahkan. Keberanian Dara yang tenang ini, sungguh terasa asing di indra pendengaran Garda sendiri. Garda pun mulai melangkah maju dan lantas berdiri di ambang pintu balkon. Ia nampak menjaga jarak yang aman, namun cukup dekat untuk melihat betapa kurusnya bahu wanita itu. "Rissa bilang kamu melewatkan makan siangmu hari ini," ucap Garda dengan nada yang masih otoriter, namun tanpa bentakan. "Jangan keras kepala. Kamu tahu resikonya jika kesehatanmu menurun." Dara menghela napas dan perlahan menoleh. Matanya yang sembab menatap Garda dengan sorot yang kosong. "Resikonya adalah... barang pesanan kalian nggak akan cepat datang, terus juga nggak akan lahir dengan sempurna, kan? Jangan khawatir, Tuan. Saya masih tahu tanggung jawab saya sebagai 'tanah sewaan' ini." Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Garda. Untuk pertama kalinya, ia melihat Dara bukan sebagai instrumen biologis, melainkan sebagai manusia yang pelan-pelan tengah melalui proses pembusukan di dalam keheningan. Dara berbalik dan berdiri di sisi Garda sejenak sebelum melewatinya, lalu mengucapkan kata-kata yang cukup membuat Garda menganga. "Ayo, Tuan. Kita selesaikan apa yang harus diselesaikan malam ini. Aku mau cepat tidur juga soalnya," ucap Dara yang kemudian melengos masuk dan naik ke atas tempat tidur, lalu menelungkup di atas ranjang tersebut. Ia sudah seperti sebuah sajian makan malam yang datang sendiri ke meja makan dan itu cukup membuat Garda bertanya-tanya. Sebenarnya, ada apa dengan wanita itu? Kenapa hari ini dia begitu aneh? Dia kelihatan dingin dan juga lebih "pasrah". Tidak perlu sampai ditagih dan dia sudah langsung menyerahkan diri begini. Hal itu pun sedikit banyaknya menyentil pikiran Garda, tetapi cepat-cepat Garda tepis dengan sebuah gelengan kepala. Garda pun segera menggeser pintu balkon hingga tertutup rapat. Dan setelahnya semua gorden pun dirapatkan, lalu kemudian dia pun mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dan pergi ke dalam kamar mandi sebelum akhirnya kembali dengan handuk bermodel kimono warna putih. Garda menghela napas sambil menatap sosok yang masih pada posisi pertama saat terakhir kali ia tinggalkan tadi. Lantas setelahnya, ia dekati tempat tidur itu lalu mulai merayap naik ke atas ranjang, hingga pelan-pelan ke atas tubuh Dara juga. Ia mengecup tepat di tengkuk leher Dara. Hingga Dara sedikit tersentak, karena ia yang hampir saja terlelap tadi. "Sebenarnya, aku sedang malas dan lelah sekali hari ini. Tapi karena katanya hari ini adalah masa ovulasimu, mari kita coba sekarang juga." Garda menelan salivanya lalu membalikkan tubuh Dara dengan gerakan perlahan namun pasti. Saat posisi mereka kini berhadapan serta bertatap muka, Garda sempat tertegun. Ia memandang dalam ke arah wajah Dara yang berada tepat di bawahnya. Di sana, di balik sorot mata yang kosong itu, Dara tampak sedang sekuat tenaga menahan tangisannya agar tidak pecah. Bibirnya bergetar halus, namun tidak ada suara yang keluar dan hanya napas pendek yang tertahan di kerongkongan. Keheningan di kamar itu terasa semakin pekat. Garda, yang biasanya melakukan ini dengan efisiensi seorang pria yang sedang menunaikan tugas, tiba-tiba merasa tangannya kaku. Air bening yang menggenang di pelupuk mata Dara seolah menjadi cermin yang memantulkan sisi monster dalam dirinya. "Jangan melihatku seperti itu," bisik Garda rendah, suaranya parau. Ada secercah kegelisahan yang menyelinap di antara nada otoriternya. Dara tidak menjawab. Ia justru memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata akhirnya lolos dan jatuh membasahi bantal. Ia seolah sedang mencoba memisahkan jiwa dari raga agar rasa sakit dan penghinaan ini tidak benar-benar menyentuh kesadarannya. Melihat reaksi itu, ego Garda terusik. Alih-alih berhenti, ia justru merasa perlu menegaskan dominasinya. Mungkin untuk menutupi rasa bersalah yang mulai merayap. Ia merunduk, meniadakan jarak, dan membisikkan kalimat yang dingin tepat di telinga Dara. "Ingat, Dara. Semakin cepat ini membuahkan hasil, semakin cepat pula kamu bebas dari pengapnya rumah ini." Kalimat itu adalah pengingat sekaligus racun. Dara hanya bisa mencengkeram sprei di bawahnya hingga jemarinya memutih. Di dalam kepalanya, ia terus merapal doa yang sama setiap malam. Semoga ini yang terakhir. Semoga rahimnya segera memberikan apa yang mereka inginkan, agar ia bisa mengambil kembali sisa-sisa harga diri yang telah hancur berkeping-keping di atas ranjang yang mewah, namun terasa seperti altar pengorbanan ini. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, rutinitas mekanis itu kembali berlanjut. Dingin, tanpa cinta, dan penuh dengan keputusasaan yang disembunyikan di balik dinding-dinding bisu. Lalu keesokan paginya, seperti biasa Dara sudah tidak lagi melihat laki-laki yang semalam menyentuhnya. Ia sendirian di atas ranjang yang terasa dingin ini dengan tubuh yang lesu dan pikiran yang semakin tidak menentu. Beberapa hari kemudian, Garda pulang lebih awal dari biasanya. Suasana rumah sedang sepi karena Rissa sedang pergi ke luar kota untuk urusan yayasannya. Saat melewati lorong menuju kamarnya, ia mendengar suara isak tangis yang tertahan dari balik pintu kamar Dara yang sedikit terbuka. Berniat untuk menegur karena tidak ingin Dara stres, Garda justru terpaku di ambang pintu. Ia melihat Dara sedang duduk di lantai, bersimpuh di depan sebuah kotak kayu tua yang usang. Di tangannya ada sebuah syal rajutan tangan yang sudah mulai pudar warnanya. Ia memeluk syal itu dengan sangat erat, seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang luas. "Ibu... Dara kangen," bisik wanita itu lirih. Isaknya begitu dalam, jenis tangisan yang lahir dari kesepian yang sudah mencapai puncaknya. "Dara takut, Bu. Dara takut setelah ini Dara nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dara dijual, Bu... Dara cuma sewaan." Garda membeku. Ia baru teringat dari berkas yang dibacanya dulu bahwa Dara kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan dan terpaksa menandatangani kontrak ini untuk melunasi hutang medis dan biaya pemakaman yang telah menumpuk. Selama ini, Garda melihat Dara sebagai wanita yang "setuju" ditukar dengan uang. Namun melihatnya sekarang, melihat dia yang begitu rapuh sambil menciumi bau syal peninggalan ibunya sebagai satu-satunya kekuatan, sontak membuat dinding keangkuhan Garda retak sedikit demi sedikit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD