Garda tidak lantas masuk ke dalam kamar itu. Ia memilih mundur, namun langkahnya tidak lagi seringan biasanya. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Bayangan Dara yang memeluk syal itu terus membekas di dalam pikirannya dan membuatnya terjaga bahkan hingga pukul empat pagi.
"Kamu mau kemana?" tanya Garda kepada istrinya yang sudah berdandan pagi-pagi buta, saat Garda yang baru memejamkan matanya sesaat setelah ia yang kesulitan untuk tidur semalaman.
"Oh, Mas Garda udah bangun? Eum... Yang aku bilang tempo hari. Gala amal di Surabaya, Mas. Masa Mas lupa? Ya... sebenarnya juga acara dilangsungkannya besok. Tapi aku ingin berangkat lebih awal. Soalnya, aku juga sekalian reuni dengan teman-teman semasa kuliah di sana dulu. Mungkin aku pulang lusa ya, Mas? Boleh 'kan?" tanya Rissa.
"Ya sudah. Yang terpenting kamu jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa juga untuk selalu memberikan kabar dan sepertinya aku tidak bisa antar kamu, karena pagi ini jadwal briefing pagi di kantor," ujar Garda.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Kan masih ada supir. Oh iya, jangan lupa juga jadwal berikutnya lusa ya, Mas? Aku harap dia bisa segera hamil dan melahirkan anak untuk kita," pesan Rissa sambil membuat lengkung senyuman.
Sebenarnya Rissa bukanlah wanita yang seluas itu hatinya, dengan membiarkan suaminya ini menikah lagi. Tapi, berkat ia yang sulit memiliki keturunan karena masalah pada rahimnya sendiri, terpaksa ia melakukan hal yang demikian. Tentu saja hal tersebut demi mengamankan posisinya sebagai menantu dari keluarga Jayanegara. Ia tak mau diceraikan karena suaminya, yang tak kunjung bisa memberikan ahli waris bagi keluarganya ini. Maka dari itu, sebelum ia didepak karena tidak bisa memberikan apa yang keluarga suaminya ini inginkan, ia sudah lebih dulu mencari wanita yang hanya bertugas untuk memberikan mereka anak. Sengaja ia cari yang masih lugu dan polos, agar suaminya tidak digoda ataupun tergoda pada wanita itu. Hingga pilihannya jatuh pada Dara, wanita yang ditawarkan langsung oleh bibinya yang gila uang itu melalui pesan yang dia kirimkan melalui akun jejaring sosial. Penawaran yang cukup menarik, karena melihat latar belakang gadis itu. Garis keturunan tetap bisa berlanjut dan posisinya di sini pun tidak akan tergantikan juga.
"Tapi Mas jangan nakal pas aku tinggal pergi ya?" ucap Rissa yang kini baru merasakan was-was sendiri. Padahal sudah sengaja meminta untuk tinggal serumah agar bisa memantau suaminya. Tapi sekarang, ia harus pergi dalam waktu beberapa hari dan sudah cukup untuk membuatnya merasa harus waspada, ya meskipun biasanya suaminya ini sama sekali tidak melirik gadis sewaan mereka itu. Dan berinteraksi pun hanya ketika proses reproduksi maupun ketika makan malam saja. Itupun sang suami langsung kembali ke kamar setelah menyelesaikan 'urusan'nya.
Garda menyunggingkan senyumnya sambil memijat ruang diantara kedua matanya itu. "Nakal yang bagaimana maksudnya?" tanya Garda tak habis pikir. Menikah lagi saja pun itu adalah ide dari istrinya ini dan sekarang malah mengatakan kata-kata yang tidak masuk akal begitu, seolah-olah ia akan main belakang. Ya padahal di depan mata kepalanya sendiri dia sudah mengirimkan wanita lain itu.
"Ya... nakal aja, Mas. Ya pokoknya begitu deh! Selesaikan secepatnya dan hidup kita akan tentram bersama. Aku benar kan, Mas?" ucap Rissa sambil mengoleskan foundation di wajahnya lagi tapi dia malah melihat dari arah kaca, sang suami yang kini kembali berbaring di atas ranjang.
"Mas? Kok malah tidur lagi?" tanya Rissa.
"Iya. Aku masih agak mengantuk sedikit. Nanti kamu bangunkan aku satu jam lagi ya?" pesan Garda.
"Hah... Dasar kamu tuh. Iya, ya udah. Tidur lagi deh, Mas. Aku juga masih dandan dulu. Nanti aku bangunin pas aku udah selesai siap-siapnya," ucap Rissa yang kemudian terdiam dan mendengar suara dengkuran halus suaminya itu.
"Ck. Baru juga sebentar, udah pules lagi aja!" cetus Rissa sembari meratakan foundation di wajahnya.
Malam harinya. Garda duduk dengan gelisah di atas ranjang. Kemudian, dia lirik sisi ranjangnya yang kosong ini dan mulai menutup laptopnya. Helaan napas dilakukan dan Garda perlahan turun dari atas tempat tidurnya, lalu pergi keluar dari kamar. Ia melangkah berapa meter dari kamar utama, lalu masuk ke kamar Dara, tetapi bukan untuk menjalankan "tugas" reproduksinya. Ia datang dengan membawa sebuah buku tua tentang botani karena ia tahu dari catatan latar belakang tentang Dara, bila dia menyukai segala hal yang berbau dengan alam dan sekaligus dengan tanamannya juga.
Dara yang sedang duduk melamun di ranjang terkejut melihat kehadiran suaminya tanpa instruksi dari Rissa.
"Tuan? Bukankah jadwalnya baru lusa?" tanya Dara gugup. Bahkan dia reflek menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri.
Garda tidak menjawab. Ia duduk di kursi kayu di sudut kamar, lalu meletakkan buku itu di atas meja. "Aku tidak ke sini untuk itu. Aku hanya ingin bekerja di sini. Kamarku sedang diperbaiki AC-nya."
Sebuah kebohongan yang sangat payah, dan Dara tahu itu.
Dara hanya diam, namun ia memperhatikan Garda yang mulai membuka laptop. Setelah setengah jam hening, Garda tiba-tiba bersuara tanpa menoleh.
"Syal itu... rajutan ibumu?"
Dara tersentak. Suaranya bergetar saat menjawab, "Iya. Itu satu-satunya peninggalan dari ibu yang masih tersisa."
Garda menghentikan jemarinya di atas keyboard. Ia teringat ibunya sendiri yang juga dingin dan hanya peduli pada citra keluarga, sangat mirip dengan Rissa. "Setidaknya, kamu punya kenangan yang hangat tentang orang tuamu. Tidak semua orang seberuntung itu."
Dara menatap punggung tegap Garda. Ada nada kesepian yang serupa dalam suara pria itu. Untuk pertama kalinya, atmosfir di antara mereka tidak lagi terasa seperti majikan dan pelayan, melainkan seperti dua jiwa yang sama-sama terperangkap dalam tuntutan hidup.
"Tuan..." panggil Dara pelan.
"Hm?"
"Terima kasih karena tidak membentak saya semalam di balkon," ucap Dara yang menyadari kelancangannya semalam dan malah jadi kepikiran. Takutnya, dia datang untuk menghakiminya juga karena hal tersebut.
Garda tidak menyahut, tapi ia menutup laptopnya. Lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah ranjang. Dara menahan napas, mengira pria itu akan meminta haknya malam ini juga. Namun ternyata Garda hanya menarik selimut yang melorot dari bahu Dara, merapikannya dengan gerakan yang sangat kaku namun anehnya terasa lembut.
"Tidurlah. Besok aku akan meminta pelayan menyiapkan taman kecil di belakang balkon ini. Kamu bisa menanam apa saja yang kamu suka di sana. Anggap saja... agar kamu tidak bosan."
Garda bergegas keluar seolah takut sisi manusiawinya akan terlihat lebih jauh lagi. Sementara Dara terpaku, lantas menyentuh bekas sentuhan tangan Garda di selimutnya. Di balik topeng kaku pria itu, Dara baru saja menemukan sesuatu yang lebih menakutkan sekaligus menenangkan daripada kebencian yaitu... 'Rasa Iba.'
Keesokan harinya. Dara yang tahu bila Nyonya rumah sedang tidak ada, kini merasa bebas bernapas. Setelah sarapan paginya ia habiskan, Dara segera berlari ke halaman belakang dan melihat taman kecil yang sudah Garda siapkan untuknya. Sinar matahari pagi yang hangat jatuh menyentuh hamparan rumput hijau di halaman belakang, namun pandangan Dara langsung tertambat pada sudut kanan taman yang tampak berbeda dari biasanya. Di sana, di samping rumpun melati yang rapi, terdapat sebidang tanah kosong berukuran sekitar tiga kali tiga meter yang telah digemburkan dengan apik.
Di sisi tanah itu, berjejer rapi beberapa karung kecil pupuk organik, sebuah sekop mini dengan gagang kayu yang halus, serta deretan pot-pot semai yang berisi berbagai macam bibit. Ada label-label kecil yang menyembul dari plastik bening itu yang bertuliskan, bibit mawar, bunga matahari, lavender, hingga benih sayuran hijau.
Dara terpaku sejenak, matanya berbinar tak percaya. Dengan langkah ringan yang hampir menyerupai tarian kecil, ia menghampiri bidang tanah itu. Ia berlutut tanpa peduli dress katunnya akan kotor terkena tanah. Jemarinya yang lentur menyentuh permukaan tanah yang lembap dan gembur dan merasakan sensasi yang sudah sangat lama ia rindukan sejak meninggalkan rumah yang ia tinggali.
"Terima kasih, Tuan..." bisiknya lirih, meski Garda tidak ada di sana.
Antusiasme yang meluap membuat Dara segera beraksi. Ia mulai mencampur tanah tersebut dengan pupuk menggunakan sekop kecilnya. Gerakannya begitu terampil dan ia bahkan tidak tampak seperti wanita kota yang takut kotor, melainkan seperti seorang ahli botani yang sedang meracik kehidupan. Sesekali, ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan tanah tipis di kulit wajahnya yang putih, namun senyumnya tidak luntur sedikit pun.
Ia mulai melubangi tanah satu per satu untuk menanam bibit mawar. Dengan sangat hati-hati, ia memindahkan bibit itu dari plastik semai, memastikan akarnya tidak rusak, lalu menutupnya kembali dengan tanah sambil menepuk-nepuknya lembut seolah sedang menidurkan seorang bayi.
"Tumbuh yang subur ya, Sayang," gumamnya ceria.
Tawa kecil sesekali lolos dari bibirnya saat seekor kupu-kupu hinggap di dekat tangannya. Di bawah langit pagi yang cerah, Dara terlihat begitu hidup. Rona merah di pipinya bukan lagi karena rasa malu atau takut, melainkan karena energi murni dari kegembiraan yang sederhana. Baginya, sebidang tanah ini bukan sekadar taman, tetapi ini adalah ruang napas, sepotong kebebasan yang diberikan Garda di tengah kesunyian rumah yang megah namun dingin ini.
Dara kemudian beralih ke bibit lavender. Ia menatanya di pinggir agar nanti aromanya bisa tercium hingga ke teras. Ia bekerja dengan ritme yang stabil, bersenandung pelan sebuah lagu pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan ibunya, seolah sedang menyalurkan seluruh kasih sayangnya ke dalam akar-akar tanaman yang baru saja menemukan rumah barunya tersebut. Di sudut taman itu, Dara bukan lagi sekadar "wanita sewaan", ia adalah penguasa atas kebahagiaannya sendiri.
Sementara itu, Garda berdiri mematung di balik pintu kaca balkon kamarnya yang sedikit terbuka. Niat awalnya untuk mengambil berkas yang tertinggal di meja kerja lantai atas, sebelum akhirnya teralihkan sepenuhnya oleh sebuah suara yang asing di telinganya, suara senandung yang jernih dan penuh kehidupan.
Ia melangkah perlahan ke tepi balkon, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik pilar agar tidak terlihat dari bawah. Dari ketinggian itu, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit didefinisikan.
Dara, gadis yang selama ini hanya ia lihat menunduk ketakutan atau diam membisu, kini tampak seperti orang yang berbeda. Gadis itu sedang berjongkok di atas tanah, kedua tangannya berlumuran lumpur cokelat, namun wajahnya bersinar terang disiram cahaya matahari pagi. Senyumnya lebar dan tulus saat ia menatap bibit-bibit kecil yang baru saja ia tanami ini.
Garda memperhatikan bagaimana jemari Dara bergerak dengan begitu telaten, merapikan tanah dan sesekali mengajak bicara tanaman-tanaman itu dengan bisikan halus yang diselingi tawa kecil. Senandung yang keluar dari bibir Dara adalah melodi sederhana, namun terdengar begitu damai hingga mampu meredam kebisingan pikiran Garda yang kacau sejak semalam.
'Seberapa besar beban yang ia pikul sampai-sampai sebidang tanah dan pupuk bisa membuatnya sebahagia ini?' batin Garda.
Ia jadi teringat Rissa. Istrinya itu hanya akan tersenyum lebar jika mendapatkan tas baru atau perhiasan mahal. Kebahagiaan di rumah ini selalu diukur dengan angka dan status. Namun di bawah sana, Dara menunjukkan padanya bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari sesuatu yang serendah tanah di bawah kaki.
Tanpa sadar, sudut bibir Garda terangkat tipis. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat pemandangan itu. Rasa iba yang ia rasakan semalam perlahan mulai bergeser menjadi rasa kagum akan ketabahan gadis itu. Ia terus berdiri di sana, mengabaikan jam dinding yang menunjukkan jadwal briefing kantornya sudah dekat, hanya demi mencuri waktu lebih lama untuk melihat sisi manusiawi Dara yang selama ini tersembunyi di balik statusnya sebagai "penerus garis keturunan".
Garda tahu, ia seharusnya tidak boleh menatap terlalu lama. Ia tidak boleh peduli. Namun, melihat Dara yang begitu bebas dan riang di taman kecil buatannya, Garda merasa bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah ini benar-benar terasa memiliki 'nyawa'.