BAB 5

1367 Words
Garda baru tersadar dari lamunannya saat ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama asisten pribadinya berkedip di layar, mengingatkannya pada briefing pagi yang seharusnya ia pimpin tiga puluh menit lagi. Dengan helaan napas berat, ia merapikan jasnya dan lantas berusaha mengembalikan raut wajah dingin dan otoriter yang menjadi topeng hariannya. Namun, sebelum benar-benar beranjak, Garda melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Ia memanggil kepala pelayan melalui interkom kamar. "Bi Sumi," ucap Garda saat sambungan terhubung. "Siapkan minuman dingin dan camilan untuk Dara di taman. Pastikan dia tidak terlalu lama di bawah terik matahari. Dan... jangan katakan itu perintah dariku. Bilang saja itu inisiatif Bibi sendiri." "Baik, Tuan," sahut Bi Sumi di seberang sana dengan nada heran yang tertahan. Garda memutus sambungan, lalu melangkah keluar kamar. Saat melewati ruang tengah yang sunyi, ia sempat melirik ke arah foto pernikahannya dengan Rissa yang terpajang besar di dinding. Mata Rissa yang ambisius seolah sedang mengawasinya, mengingatkannya pada kesepakatan dingin yang mereka buat. Tapi tidak Garda indahkan karena ia yang sudah terlambat untuk pergi ke kantornya. Sementara itu di taman, Dara baru saja selesai menyiram barisan bibit mawar, saat Bi Sumi datang membawa nampan berisi segelas jus jeruk segar dan beberapa potongan kue tradisional. "Non Dara, istirahat dulu sebentar. Ini Bibi bawakan minuman," ujar Bi Sumi ramah. Dara mendongak, matanya berkedip heran. "Eh, Bibi kok repot-repot banget. Padahal Dara baru mau cuci tangan," ujar Dara. "Nggak repot kok, Non. Sayang kulitnya kalau kelamaan kena panas, nanti pusing," imbuh Bi Sumi sambil meletakkan nampan di kursi taman terdekat. Dara tersenyum manis, senyum yang begitu tulus hingga membuat Bi Sumi merasa sedikit iba sebab tahu juga untuk apa gadis polos ini berada di rumah ini. "Terima kasih banyak ya, Bi. Rasanya seneng banget bisa pegang tanah lagi. Di sini udaranya jadi terasa lebih segar nanti." Dara meminum jus jeruk itu dengan nikmat. Rasa dingin yang menjalar di tenggorokannya terasa sangat mewah baginya. Ia tidak tahu bahwa dari kejauhan, sebelum masuk ke dalam mobilnya, Garda sempat berhenti sejenak di balik jendela kaca mobil yang gelap, hanya untuk memastikan bahwa gadis itu meminum pemberiannya. Begitu mobil Garda meluncur keluar dari gerbang rumah Jayanegara, suasana kembali sunyi. Dara kembali pada kesibukannya, yang kini beralih menanam benih sayuran di sudut lain. Ia merasa hari ini adalah hari terbaiknya sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Namun, di tengah keriangannya, sebuah ingatan pahit melintas. Ia menatap perutnya yang masih rata. Kalimat Rissa pagi tadi kembali terngiang-ngiang di dalam benaknya lagi. 'Aku harap dia bisa segera hamil dan melahirkan anak untuk kita.' Seketika, sekop di tangan Dara terhenti. Kegembiraan di matanya meredup, digantikan oleh awan yang kelabu. Ia sadar, kebebasan di taman ini hanyalah jeda singkat. Pada akhirnya, ia tetaplah sebuah "wadah" yang nasibnya ditentukan oleh hasil tes kehamilan di masa depan. Jika tugasnya selesai, apakah ia masih diizinkan merawat tanaman-tanaman ini? Ataukah ia akan dicabut paksa seperti gulma yang tak lagi dibutuhkan? Dara menghela napas panjang, mencoba mengusir pikiran buruk itu. Ia memaksakan diri untuk kembali fokus pada tanah di hadapannya. Ia tidak ingin merusak momen langka ini dengan kesedihan yang sudah menjadi "makanan" sehari-harinya. "Nggak apa-apa, Dara. Seenggaknya hari ini kamu bahagia," gumamnya untuk menyemangati dirinya sendiri. Tanpa ia sadari, waktu berlalu begitu cepat. Matahari kini tepat berada di atas kepala, menyengat kulit pundaknya yang hanya tertutup kain tipis. Saat itulah, ia mendengar suara mesin mobil memasuki gerbang. Dara tersentak, mengira Garda pulang lebih awal karena ada yang tertinggal. Jantungnya berdegup kencang dengan setengah berharap, setengah takut. Namun, yang turun dari mobil bukan Garda. Itu adalah asisten pribadi Rissa yang datang untuk mengambil beberapa barang milik nyonyanya yang tertinggal untuk dibawa ke Surabaya. Asisten itu, seorang wanita bernama Maya, dia berjalan melewati koridor kaca yang menghadap langsung ke taman belakang. Langkah Maya terhenti. Ia melihat Dara yang kotor dengan tanah, tampak begitu asyik dengan dunianya sendiri. Maya segera mengeluarkan ponselnya, memotret pemandangan itu secara diam-diam, lalu mengirimkannya kepada Rissa dengan pesan singkat. [Nyonya, sepertinya selama Anda pergi, dia merasa rumah ini adalah miliknya. Dia bahkan mengubah sudut taman belakang tanpa izin Anda] -Maya. Di Surabaya, Rissa yang baru saja tiba di hotel mewah itupun sedang duduk di depan cermin besar. Ponselnya berdenting. Begitu melihat foto yang dikirimkan Maya, rahangnya tiba-tiba saja mengeras. Matanya yang tajam menatap gambar Dara yang tampak tersenyum riang di antara pot-pot bunga. Sungguh pemandangan yang membuat matanya terasa sakit. Dan tentu saja, Rissa tidak menyukai itu. Baginya, Dara hanyalah sebuah instrumen, sebuah alat yang seharusnya tetap berada di dalam kotak sampai dibutuhkan. Melihat Dara tampak "bahagia" dan "berkuasa" di rumahnya sendiri menimbulkan rasa terancam yang tidak masuk akal. "Berani-beraninya dia bersikap seolah dia nyonya di sana," gumam Rissa. Ia segera melakukan panggilan pasa nomor telepon rumah. Saat Bi Sumi yang mengangkat, suara Rissa terdengar sangat dingin dan menusuk. "Bi Sumi, siapa yang mengizinkan perempuan itu mengacak-acak taman belakang?" tanya Rissa tanpa basa-basi. Bi Sumi tergapuk, "E-itu... Tadi Tuan Garda yang meminta pelayan menyiapkan..." Kalimat itu terputus karena Rissa langsung menutup telepon dengan kasar. Napasnya memburu. 'Garda? Garda yang memesannya?' Pria yang biasanya tidak peduli pada detail rumah tangga, kini memberikan perhatian khusus pada "gadis sewaan" itu? Rissa menatap pantulannya di cermin. Rasa was-was yang ia rasakan tadi pagi kini berubah menjadi kecemburuan yang membakar. Ia mengambil lipstik merah menyalanya, memoleskannya dengan gerakan kasar. "Aku harus memastikan dia tahu posisinya sebelum dia lupa diri," gumam Rissa dengan senyum miring yang penuh rencana. "Garda tidak boleh kasihan padanya, apa lagi sampai tertarik!" cetus Rissa sambil menggenggam erat lipstik berwarna merah itu. Sementara itu, Dara yang tidak mengetahui badai yang tengah mengintai dari Surabaya, baru saja selesai membersihkan peralatan berkebunnya. Ia berdiri sejenak, memandangi hasil kerjanya dengan perasaan bangga. Barisan tanah yang tadinya gersang kini telah terisi kehidupan baru yang tertata rapi. Namun, ketenangan itu terusik saat Bi Sumi menghampirinya dengan wajah pucat pasi. "Non Dara... sebaiknya Non masuk ke dalam sekarang," bisik Bi Sumi dengan suara gemetar. "Ada apa, Bi? Apa ada masalah?" tanya Dara, seketika rasa riangnya menguap melihat raut wajah wanita tua itu. "Nyonya Rissa baru saja menelepon. Beliau... beliau sepertinya sangat marah karena tahu Non ada di taman," jawab Bi Sumi sambil melirik cemas ke arah ponsel rumah yang baru saja ia letakkan. Dara merasakan seolah seluruh darahnya turun ke kaki. Rasa dingin menjalar di punggungnya. Baru beberapa jam ia merasakan sedikit kebahagiaan, kenyataan pahit kembali menamparnya. "Tapi... Tuan Garda yang mengizinkan saya, Bi." "Saya tahu, Non. Tapi di rumah ini, amarah Nyonya adalah hukum yang menyeramkan," sahut Bi Sumi iba. "Masuklah, bersihkan diri Non sebelum Tuan Garda pulang. Jangan sampai ada jejak tanah yang terlihat di lantai." Dara segera berlari masuk ke kamarnya dengan perasaan was-was yang luar biasa. Di bawah pancuran air, ia menggosok tangannya yang kotor dengan terburu-buru, namun aroma tanah dan pupuk seolah masih melekat, mengingatkannya pada momen indah yang baru saja dihancurkan oleh ketakutan. Sore harinya, Garda pulang dengan wajah yang tampak lebih lelah dari biasanya. Briefing di kantor tadi sangat menguras energinya, namun anehnya, ada secercah keinginan di sudut hatinya untuk segera sampai di rumah dan melihat kembali taman kecil itu. Begitu ia melangkah masuk ke ruang utama, suasana terasa sangat sunyi, lebih mencekam daripada biasanya. Garda menghentikan langkahnya saat melihat Bi Sumi berdiri kaku di dekat meja makan. "Mana Dara?" tanya Garda pendek. "Non Dara ada di kamarnya, Tuan. Dia tidak keluar sejak siang tadi," jawab Bi Sumi ragu-ragu. "Tuan... tadi Nyonya Rissa menelepon. Beliau menanyakan soal taman itu." Garda mengernyitkan dahi. Rahangnya menegang seketika. Ia bisa langsung membayangkan bagaimana reaksi Rissa. Tanpa membalas ucapan Bi Sumi, Garda melangkah lebar menuju kamar Dara. Ia tidak mengetuk, melainkan langsung membuka pintu. Di dalam, ia menemukan Dara sedang duduk di tepi ranjang dengan mata yang sembab. Gadis itu terlonjak kaget saat melihat Garda. "Tuan... maafkan saya. Saya seharusnya tidak lancang berada di taman itu," ucap Dara dengan suara parau, kepalanya tertunduk dalam. Garda berdiri di ambang pintu, menatap gadis yang kini kembali tampak rapuh itu. Amarahnya memuncak, bukan kepada Dara, melainkan kepada tekanan tak kasat mata yang diberikan istrinya dari jarak jauh. Ia mendekat, lalu berdiri tepat di depan Dara. "Kenapa kamu harus minta maaf?" suara Garda berat dan dalam. "Aku yang memerintahkannya. Di rumah ini, aku yang berkuasa, bukan orang lain yang sedang tidak ada di sini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD