BAB 9

1102 Words
Tiga pekan telah berlalu sejak malam yang menghancurkan batasan antara pemilik modal dan subjek kontraknya itu. Sejak saat itu, Garda kembali menjadi sosok yang dingin, bahkan jauh lebih kaku dari sebelumnya. Ia seolah membangun tembok raksasa untuk menutupi rasa bersalah sekaligus debaran yang tak kunjung padam tiap kali melihat Dara, istri "sewaannya" yang berada di rumah itu. Pagi itu, meja makan kediaman Jayanegara terasa begitu sunyi. Rissa duduk dengan anggun di kursi utama, menyesap jus jeruknya sambil membolak-balik majalah mode, sementara Garda terpaku pada tablet di tangannya. Dara, yang secara status adalah istri kedua meski tanpa cinta, duduk di hadapan mereka dengan posisi yang selalu terasa canggung karena ia hanyalah tamu di tengah pernikahan orang lain. Dara menatap piringnya dengan pandangan kosong. Kepalanya terasa berat, dan setiap aroma yang tercium dari meja makan membuat dunianya seolah berputar. Pelayan baru saja menyajikan omelette telur dan selembar roti yang aromanya menyeruak ke seluruh ruangan. Bagi Rissa, itu adalah sarapan mewah, namun bagi Dara, aroma itu menghantam indra penciumannya seperti racun. Ugh... Dara meletakkan garpunya dengan tangan gemetar. Perutnya bergejolak hebat. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan rasa mual yang naik hingga ke pangkal tenggorokannya. "Dara, kenapa makanannya tidak kamu disentuh? Kamu harus menjaga kesehatan 'aset' itu, bukan?" suara Rissa terdengar tajam, meski ia tetap tersenyum di balik gelasnya. Dara tidak sempat menjawab. Aroma telur di depan matanya tiba-tiba terasa begitu amis dan menyengat. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi kehijauan. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak lebar. "Dara? Kamu kenapa?" Garda akhirnya mengangkat pandangan. Keningnya berkerut melihat istrinya yang satu itu tampak begitu tersiksa. "Saya... saya permisi... hoekk!" Dara tidak sanggup lagi bertahan. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru hingga kursinya berderit keras di atas lantai marmer. Ia berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi di dekat area ruang makan. Suara ia yang memuntahkan cairan bening terdengar jelas, memecah keheningan rumah mewah itu. Rissa tertegun di tempatnya, tangannya yang memegang gelas tertahan. Perlahan, ia pun mulai menoleh ke arah Garda yang kini duduk kaku, mencengkeram tepian meja hingga kuku jarinya memutih. Tatapan Rissa berubah, ada kilatan tajam penuh perhitungan kini terpancar dari matanya. "Mual di pagi hari?" Rissa bergumam pelan, suaranya mengandung nada yang sulit diartikan, antara harapan dingin untuk segera mendapatkan ahli waris dan rasa tidak suka yang terselubung. "Sudah berapa lama dia seperti itu, Mas?" Garda tidak segera menjawab. Jantungnya berpacu liar. Logikanya berteriak bahwa ini adalah keberhasilan, hasil dari transaksi mereka. Namun, melihat Dara yang tampak begitu rapuh dan menderita, ada rasa sakit yang menusuk di dadanya yang tak bisa ia jelaskan secara rasional. "Mungkin, dia hanya salah makan," ujar Garda dingin, mencoba menenangkan dirinya sendiri meski ia hampir saja berdiri untuk mengejar Dara. "Atau mungkin..." Rissa meletakkan gelasnya dengan dentingan halus yang terdengar mengancam. "Mungkin investasi kita akhirnya membuahkan hasil. Kalau benar dia hamil, kita harus segera memastikannya. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, kita harus selesaikan urusan kita dengannya." "Aku akan mengeceknya," ujar Garda singkat, suaranya datar namun langkah kakinya yang terburu-buru mengkhianati ketenangannya. "Biarkan saja, Mas," potong Rissa cepat, tangannya menahan lengan Garda. Seringai tipis muncul di bibirnya. "Kalau dia benar-benar 'berhasil', itu artinya rencana kita berjalan mulus. Tapi biarkan pelayan lain yang mengurusnya. Ingat posisi kita. Dan dia hanya wadah, bukan?" Suara siraman air dari kamar mandi terdengar berkali-kali, namun Dara tak kunjung keluar. Di meja makan, suasana berubah menjadi medan tempur yang sunyi. Garda masih terpaku, sementara Rissa mulai memanggil pelayan dengan nada memerintah yang tak sabar. "Bi Sumi! Cek dia di dalam! Pastikan dia tidak pingsan dan mengotori lantai," seru Rissa ketus. Garda tiba-tiba saja berdiri lagi dari kursinya. "Tidak perlu. Aku saja." Rissa mengerutkan kening, tangannya kembali menahan jas Garda. "Mas, biarkan pelayan saja. Kamu ada rapat pagi ini, bukan? Lagipula, kamu tidak perlu repot-repot mengurusi hal remeh seperti mual-mualnya." Garda melepaskan tangan Rissa dengan halus namun tegas. "Ini bukan hal remeh jika berkaitan dengan kontrak kita, Rissa. Aku harus memastikan semuanya sesuai rencana." Kalimat itu terdengar seperti alasan bisnis yang logis, namun hanya Garda yang tahu betapa dadanya bergemuruh hebat saat ia melangkah menuju kamar mandi. Saat ia membuka pintu, ia mendapati Dara sedang terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, bersandar pada wastafel dengan sisa air yang membasahi bibir dan dagunya. Wajah Dara sangat pucat, matanya berair, dan ia tampak begitu rapuh hingga Garda merasa seolah jantungnya diremas. "Dara..." Dara mendongak, matanya yang sayu menatap Garda dengan ketakutan. "M-mohon maaf, Tuan... saya tidak sengaja merusak suasana sarapan. Bau telurnya tadi itu... tiba-tiba saja membuat saya..." Garda berjongkok di hadapannya. Tanpa sadar, tangannya terjulur untuk menyeka butiran keringat dingin di dahi Dara. "Masih mual?" Dara menggeleng lemah, namun tubuhnya masih bergetar. "Sudah agak mendingan." "Kita ke dokter sekarang," ucap Garda pendek. "Tidak perlu, Mas," suara Rissa tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Ia berdiri di sana dengan tangan bersedekap, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan dingin yang menusuk. "Aku sudah menelepon dokter keluarga. Dia akan datang ke sini dalam tiga puluh menit. Lebih baik kita periksa di sini secara privat agar tidak ada rumor yang keluar ke media tentang... 'istri kedua'mu ini." Rissa menekankan kata 'istri kedua' dengan nada mengejek yang sangat jelas. Ia berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di samping Garda, seolah ingin menegaskan wilayah kekuasaannya. "Dara, kalau kamu benar-benar hamil, kamu harus mulai belajar cara membawa diri," ucap Rissa sambil menunduk menatap Dara yang masih di lantai. "Jangan bertingkah dramatis seolah kamu adalah korban. Ingat, kamu setuju untuk ini. Kamu dibayar mahal untuk rasa mual itu." Dara hanya bisa menunduk dalam, air matanya jatuh tanpa suara. Kata-kata Rissa seperti belati yang mengiris harga dirinya yang sudah tipis. Ia merasa seperti mesin yang baru saja menunjukkan tanda-tanda berfungsi, bukan manusia yang sedang mengandung kehidupan. Garda berdiri, wajahnya mengeras. Ia ingin membela Dara, ingin membentak Rissa agar diam, namun logika dan statusnya mengunci mulutnya. Ia hanya bisa menatap Dara dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa iba, posesif, dan ketakutan akan perasaan yang mulai tumbuh di luar kendalinya. "Masuklah ke kamar," perintah Garda pada Dara dengan nada yang dipaksakan dingin. "Tunggu dokter di sana. Bi Sumi akan membantumu." Saat Dara dipapah oleh pelayan keluar dari kamar mandi, Garda masih berdiri mematung. Rissa mendekat, menyentuh pundak suaminya sambil berbisik tepat di telinganya. "Selamat, Sayang. Sepertinya kamu akan segera mendapatkan apa yang kamu mau. Tapi ingat satu hal... begitu anak itu lahir, dia akan menjadi anakku. Dan gadis itu... dia akan menghilang dari hidup kita selamanya." Garda tidak menyahut. Ia hanya menatap tangannya yang tadi sempat menyentuh kulit Dara. Tangannya masih terasa dingin, sama dinginnya dengan hatinya yang kini mulai menyadari bahwa permainan ini akan berakhir dengan kehancuran salah satu dari mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD