Wajah Dara memanas seketika. Posisi Garda yang mengurungnya dengan kedua tangan di sisi ranjang membuat memori tentang penyatuan mereka semalam berputar kembali tanpa ampun. Ia menarik selimut lebih tinggi, mencoba menyembunyikan kulitnya yang masih terasa sensitif akibat sentuhan Garda.
"B-bukan begitu, Tuan... maksud saya, Anda biasanya selalu pergi sebelum benar-benar terang," gumam Dara, suaranya masih serak khas orang bangun tidur.
Garda tidak segera menjawab. Ia justru memajukan wajahnya, menipiskan jarak hingga Dara bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan sisa kehangatan tubuh mereka. Sudut bibir pria itu terangkat sedikit dan sebuah senyum tipis yang jarang sekali terlihat, malah ia tunjukkan di depan Dara.
"Aku sudah bilang semalam, jangan panggil aku 'Tuan' jika kita hanya berdua," koreksi Garda lembut, namun dengan nada perintah yang tak terbantahkan. Ia mengulurkan satu tangan dan menyelipkan helaian rambut yang menutupi mata Dara ke belakang telinganya.
Garda tertegun sejenak. Tangannya yang masih berada di helai rambut Dara mendadak kaku. Gerakan sederhana itu, yaitu menyelipkan rambut ke belakang telinga, kini terasa begitu domestik, begitu intim, dan begitu... salah.
Ia menatap Dara, lalu menatap tangannya sendiri. Kilas balik malam tadi menghantamnya tanpa ampun. Ia ingat bagaimana ia memohon, bagaimana ia menyesap rintihan gadis itu seolah itu adalah udara yang ia butuhkan untuk bernapas, dan bagaimana ia secara sadar meminta Dara melupakan kontrak serta istrinya sendiri, Rissa.
"T-Tuan? Ada apa?" Dara bertanya pelan, menyadari perubahan drastis pada raut wajah Garda.
Garda menarik tangannya secepat mungkin, seolah baru saja menyentuh bara api. Ia berdiri tegak, mundur satu langkah hingga bayangannya yang jangkung menutupi tubuh mungil Dara. Kehangatan yang tadi menyelimuti ruangan itu mendadak lenyap tanpa sisa dan kini digantikan oleh hawa dingin yang mencekam.
"Aku..." Garda menggantung kalimatnya. Suaranya tidak lagi berat karena gairah, melainkan karena getaran aneh yang ia sendiri tak pahami artinya.
Garda menoleh ke arah cermin besar di sudut kamar. Di sana, ia melihat bayangan seorang pria dengan kemeja tak terkancing, rambut berantakan, dan mata yang tampak liar. Ia tidak mengenali pria itu. Pria di cermin itu bukan Garda Jayanegara yang rasional, bukan pengusaha dingin yang selalu memegang kendali. Pria itu tampak seperti seorang pecandu yang baru saja mendapatkan dosisnya, hancur dan ketergantungan.
'Apa yang baru saja aku lakukan?' batinnya yang tiba-tiba saja berteriak.
"Tuan Garda?" Dara mencoba bangkit, tangannya terjulur ingin menyentuh lengan Garda. "Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Dara sudah dengan suara yang lebih rendah.
"Jangan sentuh aku!" bentak Garda secara tiba-tiba.
Dara terlonjak, bahunya bergetar karena kaget. Matanya yang polos menatap Garda dengan penuh kebingungan dan luka yang mulai terasa perih.
Garda memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. "Ini gila," bisiknya pada diri sendiri. "Aku sudah tidak waras."
Ia mulai berjalan mondar-mandir di ruang sempit itu seperti singa yang terkurung. Logikanya mulai bekerja kembali dengan cara yang kejam. Ia mengingat Rissa istrinya yang hari ini pulang dari acara gala amalnya itu. Ia mengingat kontrak hitam di atas putih yang menyatakan Dara hanyalah sebuah 'rahim'. Namun, perasaan posesif yang ia rasakan semalam, rasa ingin memiliki Dara sepenuhnya, bukan hanya tubuhnya tapi juga jiwanya, adalah anomali yang sangat berbahaya.
"Semalam itu..." Garda berhenti, menatap Dara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Semalam itu hanyalah kesalahan. Efek hujan, efek suasana. Jadi... jangan kamu berpikiran terlalu jauh. Anggap saja, bila semalam aku sedang mabuk."
Dara terdiam, jemarinya meremas selimut erat-erat hingga kuku jarinya memutih. "Tetapi Tuan sendiri yang bilang..."
"Aku bilang aku tidak waras semalam!" potong Garda dengan suara yang cukup lantang. "Aku memintamu melakukan hal-hal yang di luar kesepakatan karena aku sedang kehilangan akal sehatku. Kamu harusnya tahu itu, Dara! Kamu harusnya mengingatkanku, bukan malah... bukan malah membalasnya dengan cara seperti itu!"
Garda tahu ia sedang memindahkan kesalahannya pada Dara. Ia tahu ia sedang bertindak pengecut. Namun, menghadapi kenyataan bahwa ia telah merasakan getaran aneh pada 'alat' yang ia beli sendiri adalah horor yang lebih mengerikan daripada apa pun itu.
"Aku adalah Tuanmu," Garda berkata lagi, kali ini suaranya dingin membeku, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari ia meyakinkan Dara. "Dan kau tetaplah Dara. Gadis yang dibayar untuk memberikan ahli waris. Tidak lebih. Jangan pernah berharap sentuhan semalam akan terulang dengan rasa yang sama."
Garda segera mengancingkan kemejanya dengan tangan gemetar. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan yang masih berbau harum tubuh Dara itu. Ia merasa seolah dinding-dinding kamar itu sedang menertawakannya, mengejek ketidakberdayaannya di depan seorang gadis polos macam Dara.
Tanpa menoleh lagi, Garda melangkah lebar keluar dari kamar dan meninggalkan Dara yang terisak dalam diam di atas ranjang yang masih berantakan. Saat ia menutup pintu dengan dentuman keras, Garda bersandar pada kayu jati itu, memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berpacu liar dan ia baru saja menyadari satu hal yang paling menakutkan. Ia tidak hanya sedang menghancurkan hidup Dara, ia sedang menghancurkan kewarasannya sendiri sedikit demi sedikit. Dan yang paling gila? Jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, ia tahu ia akan kembali lagi ke kamar ini malam nanti, meski ia harus mengutuk dirinya sendiri sebagai pria paling tidak waras di dunia.
Garda menuruni tangga dengan langkah serampangan, hampir terhuyung saat kakinya menginjak lantai marmer ruang tengah yang dingin. Ia butuh udara. Ia butuh realita yang tidak melibatkan aroma kulit Dara atau tatapan matanya yang menghancurkan.
Di dapur, ia menuangkan air es ke gelas hingga tumpah ke tangannya, namun ia tidak peduli. Ia menenggak air itu seolah bisa memadamkan api yang membakar isi kepalanya.
“Apa yang sudah kau lakukan, Garda?” bisiknya pada pantulan dirinya di pintu lemari es yang mengilat. “Kau memperlakukan dia seolah dia adalah segalanya. Kau memohon padanya.”
Garda mencengkeram pinggiran meja dapur hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ketidakwarasan ini terasa seperti penyakit yang menggerogoti logika, yang selama ini ia banggakan. Selama bertahun-tahun, hidupnya adalah tentang struktur. Strategi bisnis, protokol keluarga Jayanegara, dan pernikahany dengan Rissa. Semuanya berada dalam kotak-kotak yang terkendali.
Namun Dara... Dara adalah kekacauan. Dan yang membuat Garda merasa gila adalah kenyataan bahwa ia menikmati kekacauan itu.
Langkah kaki ringan terdengar dari arah tangga. Garda membeku. Ia tahu itu bukan Dara. Dara tidak akan berani keluar secepat ini setelah bentakannya tadi.
"Sayang? Ternyata kamu di sini. Aku mencari-cari kamu tadi."
Itu Rissa. Istrinya berdiri di sana dengan gaun sutra mewahnya, tampak sempurna meski di pagi buta. Rissa mendekat, mencoba merapikan kerah kemeja Garda yang masih berantakan.
"Semalam hujan deras sekali. Aku mencarimu semalam. Apa setelah menyelesaikan 'urusan'mu dengan gadis itu, kamu tertidur di ruang kerja?" tanya Rissa, matanya menyelidik, mencoba menemukan celah di wajah suaminya.
Garda merasa tenggorokannya tersumbat. Sentuhan Rissa terasa asing, bahkan hampir menjijikkan. Ironis, mengingat Rissa adalah wanita yang secara hukum dan kasta seharusnya berada di sampingnya. Namun, bayangan Dara yang meringkuk ketakutan di atas ranjang tadi terus menghantuinya.
"Ya, begitulah," jawab Garda pendek, suaranya parau. Ia menjauhkan diri dari sentuhan Rissa dengan dalih mengambil ponsel di saku. "Banyak dokumen yang harus kuselesaikan. Oh iya, kapan kamu kembali?? Kenapa aku tidak tahu itu??" Dahi Garda mengerut, ia memang diberitahu bila istrinya akan pergi sampai hari ini. Tapi tidak tahu bila dia sudah pulang dari semalam.
"Semalam, Sayang. Aku sengaja tidak memberitahu kamu, karena tadinya aku mau memberikan kejutan. Jadi, aku tunggu saja di kamar sampai kamu selesai. Tapi... setelah aku tunggu-tunggu sampai semalaman, kamu malah tidak kunjung kembali ke kamar. Kamu tidak mungkin tidur semalaman bersamanya, bukan?" tanya Rissa dengan penuh selidik seperti orang yang sudah tahu siapa pelaku, tapi berpura-pura tidak tahu.
Garda menyunggingkan bibirnya. "Tentu saja tidak. Untuk apa aku tidur di sana semalaman? Iya, 'kan?" ucap Garda yang seolah-olah percaya, bila kebohongannya telah sempurna.
"Kamu tampak kacau, Sayang. Matamu merah," Rissa mengernyit. "Apa gadis di bawah itu membuat masalah? Kalau dia tidak bisa bekerja dengan benar, kita bisa cari penggantinya. Masih banyak wanita yang mengantre untuk posisi ini."
Mendengar kata 'pengganti', sesuatu di dalam d**a Garda meledak. Ia menoleh dengan tatapan yang begitu tajam hingga Rissa mundur selangkah.
"Jangan pernah bicara soal menggantinya," ujar Garda, suaranya rendah dan mengancam secara mendadak.
"Sayang... aku hanya..."
"Dia bukan barang, Rissa! Dia..." Garda berhenti. Napasnya memburu dan lidahnya pun mendadak kelu. Bahkan nada bicaranya berubah rendah dan seperti orang gugup.
"Dia bukan apa-apa. Dia tidak lah sepenting itu. Tapi mungkin saja, yang kali ini berhasil. Makanya, kita tidak bisa gegabah. Setidaknya, kita harus menunggu dan melihat hasilnya nanti," ujar Garda yang suaranya terdengar semakin rendah.
"Hahh... Ya sudah. Baiklah. Kita tunggu. Kalau sampai bulan depan dia tidak hamil juga, mungkin kita harus mengganti dengan yang lebih baik. Karena itu hanya membuang-buang waktu saja. Benar 'kan?"
"Aku harus ke kamar mandi," ucap Garda yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan Rissa, tanpa membalas kata-katanya terlebih dahulu.
Rissa menyilangkan kedua tangan di depan dadanya sendiri lalu seringai itu pun muncul dari bibirnya.
"Gadis itu... apa sebenarnya dia tidak sepolos kelihatannya dan malah menggoda kamu, Mas?" ucap Rissa bermonolog sebelum akhirnya ia menurunkan kedua tangannya dan pergi menyusul Garda ke dalam kamar mereka.