BAB 3. Bertemu Istri Sah Garda

753 Words
Cahaya fajar yang merayap masuk melalui celah gorden beludru tetapi bukan membawa harapan, melainkan sebuah vonis yang nyata. Dara membuka matanya perlahan, namun beban di dadanya terasa seberat batu karang. Ia tidak berani bergerak, seolah-olah gerakan sekecil apa pun itu akan menghancurkan sisa-sisa dirinya yang sudah retak. Dengan gerakan yang pelan, ia menoleh ke samping dan kekosongan itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun. Sisi ranjang di sebelahnya sudah mendingin dan hanya menyisakan cekungan yang mulai rata kembali. Sebuah bukti bisu bahwa keberadaan Garda di sana hanyalah persinggahan mekanis. Seprai sutra yang tadinya rapi kini tampak seperti medan perang yang kacau. Kain itu kusut masai, terpilin di antara tungkai kakinya, meninggalkan noda-noda yang merendahkan martabatnya. Bantal yang semalam digunakan Garda masih menyisakan aroma parfum maskulin yang tajam dan dingin, bau yang kini membuat perut Dara bergejolak mual. Tak ada kehangatan yang tertinggal, tak ada bekas pelukan dan yang ada hanya aroma dominasii yang seolah sengaja ditinggalkan untuk mengingatkan Dara, bahwa tubuhnya baru saja digunakan demi sebuah "tujuan." Dara menghela napas berat dan mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa remuk dan di setiap sendinya memprotes sisa-sisa pergumulan yang tak melibatkan hati itu. Ia duduk di atas ranjang, lalu memeluk lututnya sendiri di tengah kamar yang luas namun terasa seperti penjara bawah tanah itu. 'Apa aku benar-benar cuma sebidang tanah?' bisik batinnya pedih. Pikirannya berkecamuk antara rasa benci yang meluap dan kepasrahan yang pahit. Di satu sisi, ia ingin menjerit, mencaci-maki Garda yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar inkubator bernyawa. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa ia telah terjual oleh nasib membuatnya bungkam. Setiap sentuhan Garda semalam terasa seperti stempel kepemilikan pada sebuah barang, bukan belaian seorang suami yang mencintai istrinya. Dara mulai bergeser dan menurunkan kakinya satu persatu dari atas tempat tidur yang nampak berantakan itu. Lalu, ia pun berjalan menuju cermin besar di sudut kamar dengan langkah gemetar. Di sana, di balik pantulan kaca yang jernih, ia melihat seorang wanita yang tak lagi ia kenali. Rambutnya berantakan, bibirnya pucat, dan di lehernya terdapat tanda merah keunguan. Sebuah tanda "sewa" yang ditinggalkan pria itu serta sebuah selimut putih yang melilit tubuhnya kini. 'Kamu bukan istri, Dara. Kamu hanya perantara. Jangan pernah bermimpi tentang cinta di rumah ini.' bisik suara Garda, yang masih terngiang-ngiang di dalam kepala Dara. Dara menyentuh perutnya yang masih rata. Ada ketakutan hebat yang menjalar di nadinya. Jika nanti ada nyawa yang tumbuh di sana, bagaimana ia bisa mencintai sesuatu yang sejak awal sudah direncanakan untuk dirampas darinya? Bagaimana ia bisa memberikan napas pada makhluk yang kehadirannya hanya diinginkan sebagai komoditas semata? Keheningan itu serta lamunan Dara yang semu, pecah oleh ketukan dari arah pintu. Seorang wanita paruh baya berseragam rapi masuk, membawa nampan perak yang berkilau menyakitkan mata. Wajahnya datar, seolah sudah terbiasa melihat wanita-wanita hancur di atas ranjang itu. "Selamat pagi, Nyonya Dara. Tuan Garda meminta saya mengantarkan sarapan dan juga ini," ucapnya tanpa nada. Dara menatap sepiring buah dan juga sepiring sandwich telur di atas nampan tersebut dan dengan tambahan lain, yaitu sebuah kotak kecil diantara kedua piring tersebut. Di dalamnya, sebuah kalung berlian melingkar dengan angkuh. Bagi orang lain, itu mungkin perhiasan mewah, tapi bagi Dara, itu adalah rantai yang dipercantik. Di bawahnya, selembar kartu kecil dengan tulisan tangan Garda yang tajam dan tegas terbaca: 'Pakai ini saat makan malam nanti. Istriku ingin bertemu denganmu. Pastikan kamu tampil sempurna dan jangan memalukan.' Dara merasa dunianya runtuh seketika. Bertemu istrinya? Istri sah yang akan merampas darah dagingnya? Mual yang tadi ia rasakan kini memuncak menjadi sesak napas. Ia menyadari satu hal, bahwa pertempurannya baru saja akan dimulai, dan ia harus berdiri di antara dua orang yang memandangnya sebagai benda, sementara ia harus tetap menjaga jantungnya agar tidak berhenti berdetak karena duka. "Iya. Terima kasih. Taruh aja disitu," ucap Dara lemas. "Baik, Nyonya Dara," ucap si pelayan yang kemudian meletakkan nampannya di atas nakas. Menjelang malam harinya, dengan langkah yang berat, Dara dituntun menuju ruang makan utama. Di sana, Garda sudah duduk di kepala meja. Namun yang membuat napas Dara tertahan adalah sosok wanita yang duduk di samping Garda itu sendiri. Seorang wanita yang sangat cantik, dengan wajah pucat yang anggun namun tatapan matanya begitu tajam, seolah sedang membedah isi perut Dara. Rissa namanya. "Jadi, ini wanita yang terpilih?" suara Rissa terdengar merdu namun dingin, memecah keheningan ruangan. Rissa berdiri, lalu berjalan perlahan mengitari Dara, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki seperti seorang kolektor yang sedang memeriksa barang antik yang baru dibelinya. Ia berhenti tepat di depan Dara, lalu tangannya yang dingin mulai menyentuh perut rata yang Dara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD