BAB 2. Transaksi Rahim

646 Words
Dara melipat erat bibirnya sendiri. Ia pikir ini adalah awal pembebasan dari segala perilaku kasar bibinya selama ini. Tapi ternyata, ini adalah neraka baru, yang sengaja sang bibi ciptakan untuknya. "Ayo cepat tandatangani, sebelum kita memulai inti dari acara siang tadi!" perintah Garda dengan tegas. Dara mulai mengambil pulpen yang terselip di dalam map dengan tangan yang bergetar hebat. Ia teringat wajah bibinya yang menangis karena teror rentenir, teringat ijazah SMA-nya yang hanya tersimpan di dalam lemari tua. Dan sekarang, dengan satu goresan tinta yang dipaksakan, ia resmi menjual masa depannya sebagai seorang ibu. "Apa saya benar-benar nggak punya hak sedikit pun untuk melihatnya nanti? Dia akan tumbuh dari rahim saya, Tuan," bisik Dara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu sudah membaca setiap pointnya bukan? Jadi, aku rasa kamu sudah tidak perlu lagi menanyakan hal itu" Garda berdiri dan menatap Dara tanpa adanya sedikit pun kelembutan. "Cepat hapus riasan wajahmu yang tebal itu. Aku ingin segera menyelesaikan bagianku agar aku bisa segera pergi dari sini." Suasana di dalam kamar pengantin yang luas itu terasa mencekam, pengap oleh aroma bunga sedap malam yang justru tercium seperti bau kematian bagi kebebasan Dara. Kapas di tangan Dara jatuh dan terabaikan di atas lantai marmer yang dingin. Di dalam pantulan cermin, Garda tampak seperti pemangsa yang sedang memojokkan mangsanya. Tangan pria itu, yang besar dan kasar, merayap di atas bahu polos Dara. Sentuhannya tidak memiliki kehangatan. Melainkan sebuah sentuhan mutlak atas kepemilikan sebuah barang. "Jangan kaku begitu. Santai saja," bisik Garda. Suaranya rendah, bergetar di ceruk leher Dara, membawa hawa dingin yang memuakkan. "Anggap saja ini sebagai sebuah transaksi. Aku membeli waktumu, rahimmu, dan kepatuhanmu. Bukankah uang itu sudah mengalir ke rekening bibimu? Setelah semuanya tuntas hingga akhir, kamu pun masih akan mendapatkan uang lagi benar-benar menyenangkan, bukan?" Jari-jemari Garda tidak membelai, melainkan mencengkeram. Ia menarik tali tipis kamisol Dara hingga merosot, mengekspos kulit yang gemetar hebat. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Garda memutar tubuh Dara dengan kasar, memaksa d**a mungil gadis itu bertabrakan dengan otot dadanya yang keras di balik kemeja yang terbuka. "Tatap aku, Dara," perintahnya, jemarinya kini mencengkeram rahang Dara, memaksa gadis itu melihat kegelapan di matanya. "Malam ini, aku tidak butuh cintamu. Aku hanya butuh kepatuhanmu untuk memastikan pewarisku lahir. Apa kamu mengerti?" Dara terengah, air matanya tertahan di pelupuk, mengaburkan sosok pria yang kini menjadi tuan atas hidupnya. Saat Garda merengkuh pinggangnya dan menyatukan tubuh mereka tanpa celah, Dara merasakan kehancuran yang nyata. Garda tidak menciumnya dengan kelembutan, akan tetapi ia mengklaim bibir Dara dengan agresi yang dingin, seolah ingin menghapus setiap sisa identitas yang dimiliki gadis itu. Garda mulai merengkuh tubuh Dara yang kaku dan mengembangkannya ke atas ranjang king-size yang terasa seperti altar pengorbanan. Kemudian, Garda mulai merangkak naik ke atas ranjang itu juga, bagai seekor aligator yang naik ke daratan. Di bawah remang lampu kristal, dia menindihnya dan meniadakan jarak serta oksigen yang tengah Dara hirup dengan tersengal-sengal. Tangan Garda yang besar dan lebar itu pun perlahan mulai bergerak dengan liar dan menuntut haknya sebagai "pembeli" atas kontrak yang mereka tandatangani di atas materai. Setiap sentuhan Garda terasa seperti torehan luka baru. Saat pria itu mulai melucuti sisa pertahanannya, Dara hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia membiarkan tubuhnya menjadi benda mati, sebuah bejana kosong yang siap diisi tanpa perasaan. 'Ibu... tolong, Dara!' jerit batin Dara. Di balik dinding kamar yang kedap suara itu, suara isak tangis Dara teredam oleh deru napas Garda yang memburu. Malam itu, di atas seprei sutra yang mewah, Dara tidak sedang bercinta. Tapi melainkan sedang 'dijajah'. Ia menyerahkan raganya pada takdir yang brutal, sementara jiwanya melayang pergi, mencari celah di antara langit-langit kamar untuk melarikan diri dari kenyataan yang teramat pahit ini. Dalam kegelapan itu juga, satu pertanyaan terus terngiang di benak Dara. 'Setelah rahimnya penuh dan anak itu lahir, apakah masih ada sisa dari dirinya yang bisa ia selamatkan? Masihkah ada secercah harapan untuk meraih kebahagiaannya sendiri?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD