BAB 1. Dijebak Bibi Sendiri

880 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya Dara Renata Atmaja binti Andriawan Atmaja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Kalimat itu meluncur dari bibir Garda dengan satu tarikan napas yang sangat tegas, dingin, dan tanpa keraguan. Tidak ada getaran emosi, tidak ada nada kebahagiaan. Bagi Garda, kata-kata itu hanyalah sebuah mantra hukum untuk meresmikan kepemilikannya atas rahim yang ia beli dengan harga yang tidaklah murah. "Sah?" "Sah!" Kata "Sah" yang diteriakkan para saksi menggema di dalam ruangan, namun bagi Dara, itu terdengar seperti vonis hakim yang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Saat ia mencium punggung tangan Garda, tangan yang terasa asing dan kaku itu, ia tidak merasakan kehangatan seorang suami. Ia hanya merasakan kulit yang dingin, seolah ia baru saja menyentuh batu nisan bagi masa depannya sendiri. Beberapa jam kemudian, keriuhan sandiwara itu pun usai juga dan menyisakan Dara, yang kini terkurung dalam kesunyian kamar yang mencekam. Dara, dia duduk mematung di tepi sebuah ranjang yang besar, jemarinya meremas kain kebaya putih dengan tenaga yang sanggup merobek seratnya. Kerah kebaya itu terasa mencekik, seolah-olah seutas tali tak kasat mata sedang perlahan menarik napas dari tenggorokannya. ​Hari ini seharusnya menjadi gerbang menuju kebahagiaan, namun di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat ini, Dara justru sedang menunggu vonis untuk sebuah kontrak biologis yang kejam. ​Klek. ​Suara kunci diputar terdengar seperti pelatuk pistol yang ditarik. Pintu terbuka perlahan, menyisakan derap langkah kaki di atas lantai marmer yang bergema dingin, sebuah lonceng kematian bagi masa muda Dara yang baru saja menginjak usia sembilan belas tahun. ​Ia mendongak. Sosok itu melangkah masuk dengan aura yang begitu pekat dan mengintimidasi, seolah oksigen di ruangan itu terserap habis ke arahnya. ​Garda Jayanegara. Pria itu berhenti tepat di hadapan Dara. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Ia bahkan tidak melepas jas atau melonggarkan dasinya, seolah kehadirannya di kamar pengantin ini hanyalah mampir sebentar untuk menyelesaikan urusan bisnis yang mendesak. Tatapannya sedingin es, memandangi Dara bukan sebagai seorang istri, melainkan sebagai aset berharga yang baru saja ia beli di pelelangan. ​Sebelum Dara sempat membasahi bibirnya yang kering untuk bicara, suara bariton Garda memecah keheningan, menghempaskan kalimat yang seketika menghancurkan sisa-sisa harga diri gadis itu ke dasar bumi. ​"Jangan mencintaiku, Dara!" cetusnya tajam, matanya yang tajam mengunci manik mata Dara yang bergetar. "Jangan pernah mengharapkan apa pun dari pernikahan ini. Tugasmu di sini hanyalah satu, mengabdikan seluruh hidupmu sampai benihku tertanam di rahimmu. Lalu, setelah anak itu lahir, berikan dia kepada istriku dan pergilah sejauh mungkin dari hidup kami." Dara tertegun dengan perasaan yang linglung dan juga bingung. Bahkan kata-kata itu saja masih mengiang di dalam kepalanya dan tumpang tindih dengan memori prosesi akad nikah yang baru saja lewat beberapa jam lalu. Ia teringat bagaimana Garda yang mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas yang tegas. Bukan karena cinta, tapi karena urgensi sebuah tujuan. Dara belum sepenuhnya mencerna tapi Garda kemudian melemparkan sebuah map cokelat ke atas sprei sutra di sisi Dara persis. "Tandatangani ini. Isinya detail mengenai apa yang kukatakan tadi. Hak asuh anak sepenuhnya jatuh padaku dan istriku, Rissa." Dara menatap map itu dengan dahi berkerut. Tangannya yang dingin meraih benda tersebut, membukanya dengan gerakan perlahan seolah-olah isi di dalamnya adalah hal yang menakutkan. Matanya mulai menyisir barisan kalimat formal yang tertulis di atas kertas putih bersih dengan kop surat keluarga Garda. Setiap poin yang ia baca membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa menipis. Pihak Kedua (Dara Renata Atmaja): Setuju untuk melepaskan segala bentuk hak asuh, hak perwalian, dan hak kunjung secara permanen segera setelah proses persalinan selesai. Pihak Kedua dilarang untuk mencari tahu keberadaan anak maupun menghubungi anak di masa depan dengan alasan apa pun. Tubuh Dara seketika terasa lemas, seolah seluruh tulang penyangganya baru saja dicabut. Map itu terlepas dari genggamannya, jatuh miring di atas ranjang. Ia terduduk merosot, tangannya bertumpu pada kasur agar ia tidak jatuh sepenuhnya ke lantai. "Jadi... Bibi suruh aku menikah karena..." Dara tak lagi sanggup berkata-kata, apa lagi isi dari surat perjanjian itu seperti sebuah vonis hukuman mati untuknya. "Pelepasan... hak kunjung?" suara Dara tercekat di tenggorokan. "Tuan, saya pikir saya masih boleh melihatnya sesekali. Ini bukan sekadar perjanjian uang, ini tentang nyawa yang akan tumbuh di dalam diri saya kan?" ucap Dara lemas. Ini adalah pukulan bertubi-tubi bagi Dara. Setelah tahu bila sang bibi malah menjerumuskannya ke dalam lembah hitam ini, ia juga harus menerima kenyataan, bila sosok yang belum ada pada dirinya saja sudah diklaim dan ia tidak memiliki sedikit pun hak atas sebuah nyawa baru itu. Garda bergeming. Ia berdiri menjulang di depan Dara, bayangannya menutupi tubuh mungil gadis itu. "Jangan naif. Kamu dibayar mahal untuk menjadi 'wadah', bukan untuk menjadi ibu. Rissa tidak ingin ada bayang-bayang wanita lain dalam hidup anak kami nanti. Begitu kamu menyerahkannya, kamu dianggap tidak pernah ada." Dara mendongak dengan wajah pucat pasi. Dunianya yang tadi sudah runtuh, kini terasa hancur menjadi debu. "Jadi, saya benar-benar hanya sebuah mesin?" Garda berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Dara, lalu mencengkeram dagu gadis itu dengan kekuatan yang pas namun mengintimidasii. "Rahimmu hanyalah perantara, Dara. Jangan biarkan hormon atau perasaan picikmu merusak rencana ini. Rissa sedang menungguku di rumah utama, dia yang seharusnya berada di sini jika rahimnya tidak bermasalah. Jadi, jangan buat aku mengulanginya lagi. Jangan ada cinta, jangan ada ikatan. Berikan aku seorang anak dan setelahnya kita selesai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD