·
“Lupa dengan tanggung jawabmu di Perusahaan ini?” desis Reynand dengan tajam
Callista menggeleng dengan wajah kesakitan. Mana mungkin ia lupa akan tanggung jawabnya. Ia hanya ingin mengisi perut sebelum mulai bekerja. “Awss.. sakit, Pak!”
Tiba-tiba…
Brugh
“Aaakhhh..” pekik Callista
Dengan tiba-tiba Reynand mendorong tubuh Callista sampai punggung wania itu terbentur dinding. Reynand mengukungnya tubuh Callista agar wanita itu tidak bisa pergi kemana-mana.
Keduanya saling menatap. Nafas Reynand tidak beraturan karena menahan amarah. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Tiba-tiba terbesit rasa tidak suka melihat kedekatan Callista dengan Deva, sekretarisnya.
Callista mencoba mendorong tubuh Reynand menjauh, namun sayangng laki-laki itu diam di tempat. Reynand menahan tubuhnya agar tetap stay di tempat. “Awas, Pak! Saya ingin bekerja.”
“—“
Bukannya menjawab tatapan Reynand justru tertuju pada bibir Callista. Bibir yang pernah ia rasakan, dan sekarang ia menginginkannya lagi. Reynand menelan ludahnya kasar. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.
“Pak…”
Cup
“Hmmptt..” Callista tidak melanjutkan perkataannya karena ciuman Reynand yang tiba-tiba.
Serangan Reynand begitu cepat tanpa aba-aba membuat Callista tidak bisa menghindar. “Emhh,” lenguh Callista
“Pak… emhh,”
“Lewpasin!” berontak Callista
Reynand menggenggam kedua tangan Callista agar tidak bisa memberontak. Bibir keduanya menyatu semakin dalam. Bahkan Reynand tidak memberikan ruang bagi Callista untuk mengambil nafas walaupun sejenak.
“Enghh,” lenguh Callista
Jantung Callista berdebar kencang. Bukan karena merasa bahagia, melainkan takut Reynand melakukan hal lebih dari ini. Ketakutan yang ia rasakan benar terjadi. Apa yang sebenarnya Reynand inginkan?
“Apa yang dia lakukan padaku?” batin Callista berucap
“Dia sudah berjanji untuk tidak melakukan apapun padaku. Tapi ini?”
“Huhh..”
Reynand melepas ciumannya karena membutuhkan pernafasan. Keduanya terengah. Callista menghirup udara sebanyak mungkin karena nafasnya benar-benar habis.
Ibu jari Reynand mengusap bibir Callista yang basah karena perbutannya. Ia tersenyum manis. “Aku menyukainya. Sepertinya bibir ini akan menjadi candu bagiku.”
PLAK
Tamparan keras melayang di pipi Reynand. Callista reflek melakukan itu setelah mendengar perkataan Reynand. Kedua tangannya terkepal kuat. Nafasnya memburu menahan amarah. Dadanya bergemuruh hebat seolah ingin menghajar Reynand sampai dirinya merasa puas.
Reynand mengelus pipinya yang terasa sakit dan panas. Meskipun tangan Callista terlihat mungil namun tamparannya tidak main-main. “Pembohong! Kau bilang tidak akan melakukan apapun padaku. Bahkan tidak akan tergoda denganku. Tapi sekarang?” ujar Callista
“Kau menyentuhku.” desis Callista dengan tajam
Callista mendorong tubuh Reynand membuatnya mundur beberapa langkah. Callista pergi meninggalkan pantry dengan perasaan hancur. Ia marah, kecewa, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
Bugh
Reynand memukul dinding dengan tangan kanannya. Ia menghiraukan rasa sakitnya. Pelampiasan yang membuatnya sedikit tenang. “s**t! Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri?” gumamnya
“Di luar sana masih banyak wanita cantik, tapi kenapa harus wanita itu? Berada di dekatnya membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.”
“Sialan!” umpat Reynand
“Ini semua karena Deva!”
Bugh
“Aarrgghhh..” teriaknya
BRAK
“Astaga.” Seorang pegawai terkejut ketika mendengar suara keras dari dalam pantry. Ketika ingin masuk dikejutkan dengan keberadaan Reynand yang tengah melangkah keluar.
“Pagi, Pak!” sapanya sembari tersenyum
“—“
Reynand mengabaikan sapaan pegawainya. Wajahnya terlihat penuh emosi membuat pegawainya merasa takut, apalagi setelah mendengar suara keras dari dalam pantry. Pantry terlihat berantakan. Kursi yang sebelumnya tersusun rapi sekarang terlihat kacau. “Pak Reynand kenapa? Ini masih pagi loh.” ujar salah satu pegawai
“Mungkin sedang ada masalah dengan wanitanya.”
“Sepertinya.”
“Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum Pak Reynand melampiaskan kemarahannya pada kita.”
Mereka menjauh dari pantry sebelum Reynand semakin marah dan melampiaskan semuanya kepada pegawainya. Mereka sering mendapat pelampiasan, bahkan sampai muak melihatnya.
Reynand membuka pintu ruangannya dengan kasar sampai menimbulkan bunyi yang cukup kencang.
BRAK
“Astagaa.”
“Huhh.. sabar!” Deva mengelus dadanya karena terkejut.
“Bisa nggak biasa aja bukanya, ha!?” ujar Deva
“—“
“Huhh..” Deva menghela nafas kasar. Ia harus bisa bersabar menghadapi sikap atasannya itu.
“Maaf, tadi…”
“Ck, nggak usah dibilang!”
Deva menautkan kedua alisnya bingung. Ia merasa heran dengan perubahan sikap Reynand yang begitu tiba-tiba. Sebelumnya Reynand tidak pernah marah mengenai pekerjaan padanya. Bahkan jam kerja belum dimulai tapi Reynand terlihat kesal dan marah padanya.
Deva duduk tepat di depan Reynand. Ia menatap wajah atasannya dengan mata menyipit. Ia ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan Reynand. “Lo kenapa, bos?” tanya Deva
“Kenapa?” Reynand menautkan kedua alisnya kesal. Melihat wajah Deva membuatnya ingin memukul laki-laki itu. Entahlah.
“Lo kenapa marah-marah? Bahkan jam kerja belum dimulai.”
“Kerja sama gue harus disiplin!”
“What? Sejak kapan?”
Apa Deva tidak salah dengar? Sejak apan Reynand menerapkan kedisplinan padanya? Bahkan Reynand sering datang terlambat hanya untuk menemani para wanitanya di luar sana.
Deva menyentuh kening Reynand untuk memastikan kondisinya. “CK, APASIH!?” sentak Reynand sembari menepis tangan Deva dengan kasar
“Nggak panas kok.”
“Sejak kapan lo berubah? Gue nggak lagi mimpi kan?”
“Ck.” decak Reynand
“Lo kenapa? Ada masalah?” tanya Deva dengan tatapan serius
“Nggak ada.”
“Terus kenapa marah-marah? Ini masih bagi, Rey.”
“Ini semua karena lo, b******k! Lo seharusnya jauh-jauh dari Callista.” batin Reynand menjawab
Reynand hanya berani mengatakan kalimat tersebut dari dalam hati. Ia tidak berani mengatakannya langsung di hadapan Deva. Ia yakin Deva akan menertawakan dirinya jika dia tahu apa yang ia rasakan saat ini.
“Gue tanya, Rey.”
“Ck, udahlah! Lebih baik lo urus pekerjaan lo biar cepat selesai.”
“Tapi…”
“Gue pergi dulu!” belum selesai Deva bicara Reynand melangkah keluar. Baru saja Reynand duduk dan dalam hitungan menit laki-laki itu kembali pergi.
"Untung gue sabar orangnya." gumam Deva sembari mengelus dadanya
"Lebih baik gue melanjutkan pekerjaan gue biar cepat selesai. Terserah Reynand kemana perginya. Gue nggak mau ikut campur." Deva kembali sibuk dengan laptop di hadapannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Next