Bab 07

1006 Words
Satu minggu kemudian. Sudah satu minggu Callista bekerja di Perusahaan Mahendra. Selama satu minggu semuanya berjalan dengan baik. Apa yang ia takutkan tidak terjadi. Bisa dihitung hari ia bertemu dengan Reynand. Callista berharap semuanya akan baik-baik saja sampai ke depannya. “Pagi, Pak!” sapa Callista sembari tersenyum “Pagi! Baru datang?” Callista mengangguk. “Pak Deva sudah sarapan?” Deva menyipitkan mata mendengar pertanyaan Callista. “Memangnya kenapa? Kamu mau mentraktir saya?” Callista terkekeh geli mendengarnya. “Tidak, Pak. Tapi saya bawa bekal lebih dari rumah. Kalau Pak Deva mau kita bisa makan sama-sama.” “Oh, ya?” Callista mengangguk sebagai jawaban “Apa kamu tidak keberatan?” “Tidak sama sekali, Pak. Justru saya yang menawarkan.” “Kebetulan sekali perut saya lagi lapar. Saya belum sarapan.” “Kalau gitu kita makan sekarang, Pak!” Reflek Callista menarik tangan Deva membawa laki-laki itu ikut bersamanya. Mereka menuju pantry untuk makan bersama. Masih ada waktu untuk sarapan. Callista dan Deva duduk bersebelahan. Callista membuka kotak makanan yang ia bawa, dan seketika harum masakan tercium di hidung Deva. “Waw.. harum sekali!” Deva memuji masakan Callista “Pak Deva bisa saja.” “Saya tidak berbohong, Callista. Harum masakan kamu tercium begitu lezat. Saya yakin rasanya pasti sangat enak.” “Pak Deva belum merasakannya. Sebaiknya kita makan terlebih dulu baru setelah itu Pak Deva boleh memuji masakan saya.” “Semoga Pak Deva suka.” ujar Callista sembari tersenyum manis Callista menghidangkan makanan untuk Deva, dan setelahnya mereka makan bersama. “Selamat makan, Pak!” “Selamat makan!” Deva menyuapkan satu suap sendok makanan itu ke dalam mulutnya. Dan benar, seperti dugaannya rasa masakan Callista begitu lezat. Ia merasakan masakan Callista jauh lebih enak daripada di restaurant. “Lezat sekali, Callista!” ujar Deva Callista terkekeh malu-malu. Menurutnya makanan yang ia buat rasanya biasa saja. Bahkan makanan yang ia bawa terlihat sederhana. Sedangkan Deva sering makan makanan mahal di luar sana. “Jangan terlalu berlebihan, Pak! Lagipula rasanya biasa saja. Saya memasak sebisanya.” “Ck, saya tidak berlebihan, Callista. Rasanya memang begitu lezat.” “Hm.. terima kasih, Pak.” “Ekhm.” dehem seseorang Callista dan Deva menoleh ke sumber suara ketika mendengar suara deheman seseorang. Mereka melihat Reynand berdiri di ambang pintu sembari menatap ke arah kedua manusia tersebut. “Eh, Pak bos! Sudah datang!?” ujar Deva sembari tersenyum “Asik sekali di sini. Lupa dengan pekerjaan?!” Deva menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada sisa waktu untuknya melanjutkan sarapan. Lagipula ia tidak terlambat. Jam kerja belum dimulai. “Gue dan Callista sarapan bersama. Lo mau ikut?” ujar Deva “Nggak.” jawab Reynand dengan nada ketus Entah kenapa Reynand tidak suka dengan kebersamaan Deva dengan Callista. Keduanya terlihat begitu dekat membuat hatinya serasa terbakar. “Gue juga nggak buta kalau kalian sedang makan berdua sampai lupa dengan pekerjaan.” sindirnya Callista menunduk menghindari tatapan Reynand. Ia tidak berani membantah seperti Deva. Ia hanyalah pegawai baru yang hanya bisa diam jika dimarahi oleh atasan, ataupun senior. Callista sangat menghargai rekan kerjanya. “Maaf, Pak!” cicit Callista “Hei, tidak perlu minta maaf, Cal! Masih ada waktu untuk melanjutkan sarapan kita. Reynand yang berlebihan.” Reynand melebarkan matanya mendengar perkataan Deva. Bisa-bisanya seorang sekretaris tidak ada takutnya sedikitpun dengan atasannya. Seperti perkataannya barusan Deva menghiraukan perintah Reynand untuk segera masuk ke dalam ruang kerja. Deva justru melanjutkan makannya. “Kita lanjutkan sarapannya!” ujar Deva pada Callista “Tapi, Pak…” “Nggak papa. Masih ada waktu, nggak perlu khawatir.” Merasa kesal Reynand menghampiri Deva dan langsung menarik kotak makanan milik Callista. Ia menatap keduanya dengan tatapan tajam. “Kok diambil?” ujar Deva “Nggak dengar apa yang gue bilang, ha?” desis Reynand dengan tajam “Rey, masih ada waktu kan? Lagipula makanan gue tinggal sedikit.” “Makanan ini?” Reynand melangkah ke tempat sampah lalu membuang sisa makanan Deva, hal itu membuat Callista melebarkan matanya. d**a Callista terasa sesak. Ia membuat makanan itu dengan penuh keikhlasan, namun tanpa hati Reynand membuangnya begitu saja. Callista buru-buru merapikan kotak bekalnya sebelum Reynand melakukan hal yang sama pada makanannya. Mata Callista memerah menahan tangis. Ia menahan air matanya agar tidak menetes. Kedua tangan Deva terkepal kuat. Ia marah bukan karena Reynand memintanya untuk segera ke ruang kerja, melainkan ia marah dan kecewa karena sikap laki-laki itu yang tidak bisa menghargai makanan. “Rey, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan. Tapi lo? Lo membuang makanan itu tanpa berpikir panjang. Lagipula makanan itu milik gue.” ujar Deva “Gue nggak peduli.” “Lo…” “Pak Deva, jangan!” ujar Callista dengan nada berbisik Callista mencoba menahan Deva ketika ingin membantah perkataan Reynand. Ia tidak ingin terjadinya pertengkaran di antara kedua laki-laki itu. Sebentar lagi jam kerja akan dimulai, karena hal itu lebih baik mereka mengalah. Karena mau bagaimanapun Reynand tetaplah atasan yang sudah seharusnya dihormati. “Callista, makanan kamu!” Callista tersenyum kecil. “Nggak papa, Pak. Besok pagi Callista buatkan yang lebih lezat dari hari ini. Besok Callista akan datang lebih pagi.” Mendengar perkataan Callista membuat d**a Reynand bergemuruh hebat. Bahkan tanpa sadar Reynand meremas kotak makanan tersebut. Ia tidak suka melihat kedekatan Callista dan Deva. “Baiklah. Kalau gitu saya duluan!” Callista mengangguk. “Iya, Pak.” Setelah Deva pergi meninggalkan pantry buru-buru Callista membereskan makanannya. Jantungnya berdetak cepat berduaan dengan Reynand. Bahkan ia terus menunduk karena takut bertatapan dengannya. “Aku harus segera keluar.” ujar Callista dalam hati Dan tiba-tiba…. BRAK “Astagaa.” Callista terlonjak kaget ketika Reynand tiba-tiba melempar kotak makanan miliknya. Reynand mendekat ke arah Callista membuat wanita itu semakin ketakutan. Tanpa menatap wajahnya sekalipun ia sudah tahu Reynand sedang diliputi amarah. “Awss..” ringis Callista Reynand mencengkram pergelangan tangan Callista membuat wanita itu meringis kesakitan. “S-sakit, Pak!” “Awss.. s-saya minta maaf, Pak! Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” “Tolong lepasin tangan saya!” pinta Callista dengan wajah kesakitan Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD