·
Sore harinya
Krekk.. krekk
Reynand merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Setelah makan siang ia menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk, dan akhirnya selesai juga. “Huhh..” Reynand menghela nafas lega
“Akhirnya selesai juga.” gumamnya
“Dev, gue butuh kopi!”
“Hmm,”
Deva pergi ke pantry untuk meminta seseorang membuatkan kopi. “Eh, Pak Deva!” ujar Callista
“Kamu ngapain di sini?”
“Em.. saya mengembalikan gelas ini, Pak.”
“Ooh.. boleh saya minta tolong?”
Callista mengangguk tanpa berpikir dua kali. “Boleh. Pak Deva mau minta tolong apa?”
“Tolong buatkan kopi, dan antarkan ke ruangan Ceo!”
“Baik, Pak.”
“Oh ya, jangan terlalu manis. Beliau tidak suka terlalu manis.” Callista mengangguk sebagai jawaban.
Callista memenuhi semua permintaan Deva karena laki-laki itu yang menerima kerja di Perusahaan ini. Sebisa mungkin ia melakukan yang terbaik. Ia tidak ingin membuat kecewa orang-orang yang telah berbuat baik padanya.
Setelah selesai Deva pergi meninggalkan Callista. Ia tidak kembali ke ruangan Reynand, melainkan pergi ke ruangan lain karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
Callista berdiri di depan ruangan Ceo dengan membawa secangkir kopi seperti permintaan Deva. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. “Ada apa dengan jantungku? Kenapa tiba-tiba berdebar seperti ini?” ucapnya dalam hati
“Huhh..”
“Nggak papa. Lagipula Pak Deva yang menyuruhku.”
Tok.. tok.. tok
Callista mengetuk pintu terlebih dulu dan setelahnya membuka pintu secara perlahan. Ia takut sekaligus merasa segan karena masih pegawai baru. “Permisi! Ini kopinya, Pak!” ucapnya dengan pelan dan hati-hati
Deg
“Suara itu?” ucap Reynand dalam hati
Reynand berbalik badan untuk memastikannya. Dan…
“Laki-laki itu!” gumam Callista
Tubuh keduanya mematung di tempat. Reynand dan Callista sama-sama terkejut dengan keberadaan masing-masing. Callista tidak menyangka laki-laki yang pernah bermalam dengannya adalah CEO dari Perusahaan tempat ia bekerja saat ini.
“Apa dunia sesempit ini?” batin Callista berucap
Reynand mendekat membuat jantung Callista berdetak cepat. Ia takut laki-laki itu kembali melakukan sesuatu padaya. “T-tolong jangan mendekat!” ujar Callista dengan nada gugup
Reynand berdiri sedikit jauh dari Callista. Ia menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Penampilan elegan menambah kesan cantik bagi wanita itu. Wajah cantiknya masih sama seperti malam itu.
“Untuk apa kamu di kantorku?” tanya Reynand
“—“
“Jawab!”
“S-saya pegawai baru di sini.”
Bahkan Callista tidak menyangka ia akan dipertemukan kembali dengan Reynand, laki-laki yang telah merusak masa depannya. Bahkan Reynand adalah atasannya . “Tuhan, kenapa Engkau kembali mempertemukanku dengannya? Aku membencinya.” ucapnya dalam hati
Reynand tersenyum smirk lalu mendekat ke arah Callista. Ia berdiri tepat di depan wanita itu lalu mengambil kopi miliknya. “Eh,” ujar Callista karena terkejut
“Masuk!” perintah Reynand
Deg
Callista terdiam setelah mendengar perintah dari Reynand. “Nggak dengar perkataanku?” ujar Reynand
“D-dengar.”
“Yaudah, masuk!”
“Tapi…”
“Mau membantah perintahku?”
Callista menggeleng pelan. Ia tidak bisa berkutik sedikitpun karena Reynand adalah Ceo Perusahaan tempat ia bekerja. Ingin menolak namun Callista tidak memiliki keberanian. Mau bagaimanapun ia tetap bawahan.
“Untuk apa saya masuk?” tanya Callista
“Pegawai barukan?” Callista mengangguk sebagai jawaban.
“Yaudah, masuk!”
Callista mengikuti langkah Reynand dari belakang. Ia harap Reynand tidak melakukan seperti di malam itu. “Duduk!” ujar Reynand
Callista duduk sesuai perintah Reynand. Ia terus menunduk karena takut bertatapan dengan laki-laki itu. Callista meremas jemarinya dengan gugup. Hati dan pikirannya berkecamuk karena rasa takut dan trauma.
Tiba-tiba Reynand memberikan sebuah berkas pada Callista. “I-ini apa?”
“Baca!”
Callista menurut. Ia membaca berkas tersebut dengan seksama. Berkas tersebut menunjukkan perjanjian kontrak kerjanya. Callista sedikit lega setelah membacanya. Namun ia merasa bimbang setelah mengetahui siapa atasannya.
“Tanda tangani!” ujar Reynand
“Untuk apa?”
“Tidak mau bekerja di sini?”
“—“
Callista terdiam sejenak. Ia merasa bimbang ketika ingin melanjutkan pekerajaannya, namun di satu sisi ia sangat membutuhkan pekerjaannya saat ini. Apalagi tidak semua orang bisa merasakan bekerja di Perusahaan Mahendra Group.
“Kenapa diam saja? Tidak mau menandatangani berkas itu?” tanya Reynand
“Saya…”
“Tidak perlu takut karena saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Kamu adalah bawahan saya, dan selamanya akan tetap seperti itu.”
“Lagipula selera saya bukan kamu.” lanjutnya
Deg
Perkataan Reynand begitu kejam membuat d**a Callista terasa sesak. Namun dengan perkataan tersebut meyakinkan Callista jika Reynand tidak akan lagi berbuat macam-macam dengannya. Lagipula ia bukan lagi seleranya. Setelah dipakai Reynand membuangnya begitu saja seperti sampah.
“B-baik. Saya akan menandatanganinya.”
Reynand tersenyum smirk. Callista tidak membaca keseluruhan. Di belakang kertas tersebut masih ada tulisan yang tidak dibaca olehnya. Callista wanita polos yang tidak tahu apa-apa. Ia terjebak dalam situasi sulit yang tidak bosa membuatnya berpikir jernih. Ia bertahan sejauh ini demi dirinya sendiri.