Beberapa hari kemudian.
Setelah kejadian di club Callista mengasingkan diri dari dunia luar. Beberapa hari terakhir ia tidak keluar dari rumah, bahkan menon-aktifkan ponselnya. Ia ingin sendiri terlebih dulu agar bisa lebih tenang.
Kantung mata tercetak jelas di wajah Callista. Sejak kejadian malam itu ia sering bergadang menyesali perbuatannya. Perbuatannya malam itu terus berputar di kepalanya padahal ia sudah berusaha keras untuk melupakannya.
Callista membuka lemari es untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan, namun sayangnya kekosongan yang ia lihat. Hanya ada air putih di dalam lemari es tersebut.
“Astaga, bahkan aku tidak membeli makanan apapun.” gumamnya
“Huhh..” Callista menghela nafas kasar
Callista masuk ke dalam kamar berniat mengambil dompetnya untuk membeli suatu. Ketika membuka dompet tersebut hanya ada beberapa lembar uang berwarna ungu. Dan tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
“Tuhan, kenapa Engkau memberikan cobaan seberat ini padaku? Aku tidak sanggup menghadapinya.” lirihnya sembari terisak
“Huhh.. sabar, Callista! Kamu harus yakin ada sesuatu yang indah di depan sana.”
“Lebih baik aku mandi dan setelah itu mencari pekerjaan.”
Beberapa menit kemudian.
Callista berdiri di depan cermin yang ada di kamar. Ia menatap penampilannya sendiri. Wajah pucat, kantung mata yang tebal, itulah yang menggambarkan penampilan Callista hari ini.
“It’s, oke. Kita jalani hari seperti biasa seolah tidak pernah terjadi sesuatu.” gumamnya
Callista melangkah keluar. Pagi ini ia berniat mencari pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ia harap ada hal-hal baik menanti di depan sana. Langkah demi langkah yang Callista lalui tidak ada keluhan di dalamnya. Ia menjalani dengan ikhlas dan penuh ketegaran, walaupun setiap malam ia harus menangis karena cobaan hidupnya yang begitu berat.
Callista memberanikan diri memasuki sebuah Perusahaan yang cukup besar di Pusat Kota. Seorang security menghalangi Callista ketika ia ingin masuk ke dalam lobby Perusahaan.
“Ada keperluan apa mbak ke Perusahaan ini?” tanya security tersebut
“Em.. saya ingin menaruh Cv kerja di Perusahaan ini, Pak.”
“Tapi di Perusahaan ini tidak ada lowongan kerja.”
“Tapi…”
“Pak, ada apa ini?” tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri mereka
“Perempuan ini ingin menaruh Cv kerja, sedangkan Perusahaan saat ini sedang tidak membuka lowongan.”
“Ah, kebetulan sekali.”
“Izinkan dia masuk!” ujar seseorang tersebut
“Baik, Pak.” Security tersebut memberikan izin masuk pada Callista atas perintah langsung dari bawahan pimpinan.
“Kamu yakin ingin menaruh Cv kerja di sini?” tanya seseorang tersebut
Callista mengangguk yakin. Ia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya. “Saya sangat yakin, Pak. Bapak boleh uji kemampuan saya sebagai pertimbangan.”
Laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya. “Oh ya, perkenalkan nama saya Deva Emerson! Saya sekretaris pribadi pimpinan dari Perusahaan ini.”
“Saya Callista!”
“Ikut saya ke ruangan!”
“Baik, Pak.”
Deva yang akan menerima langsung Callista di perusahaan ini. Kebetulan dua hari yang lalu pihak keuangan mengundurkan diri karena ada suatu hal. Deva bisa melihat jika Callista memiliki kemampuan besar untuk Perusahaan. “Kamu saya terima di Perusahaan ini.”
“Ha?” Callista mengerjapkan matanya berulang kali. Apa ia tidak salah dengar? Semudah itu?
“S-saya diterima, Pak? Apa tidak ada tes khusus?”
“Tidak ada. Saya yakin dengan kemampuan kamu.”
“Setelah saya melihat Cv kerja kamu, saya yakin kamu bisa memberikan yang terbaik untuk Perusahaan.” lanjutnya
“Alhamdulillah. Terima kasih, Pak.”
“Untuk saat ini kamu pelajari saja semua pekerjaan kamu. Jika ada yang tidak mengerti kamu bisa tanya langsung ke saya.”
“Ruangan saya di sebelah sana!” ujar Deva sembari menunjuk ke arah ruangannya
Callista mengangguk sembari tersenyum bahagia. Akhirnya ia mendapat pekerjaan yang diinginkan. “Sekali lagi terima kasih, Pak.”
“Sama-sama. Kalau gitu saya pergi dulu!”
Senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya. Ia sangat bersyukur dengan rezeki hari ini. “Aku akan berikan yang terbaik untuk Perusahaan ini.” gumamnya
Pukul 10.00
BRAK
“Astaga..” ucap Deva
“Huhh..” Deva menghela nafas kasar setelah melihat siapa yang datang
“Baru datang?” sindirnya
“Hmm,”
“Tidak mencerminkan pemimpin yang baik.”
“Ck,”
Laki-laki yang baru saja datang adalah Reynand Mahendra! Reynand adalah Ceo Perusahaan yang saat ini di bawah kekuasaannya. Deva adalah sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaannya. Mereka bukan hanya sekedar atasan dan bawahan, melainkan seperti sahabat sendiri.
Reynand menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. “Tadi aku menerima pekerja baru di bagian keuangan.” ujar Deva
“Hmm..” Reynand hanya bergumam tidak jelas, seolah tidak peduli dengan urusan kantor.
“Dengar nggak, Rey?”
“Gue denger.”
“Ngapain aja si baru datang?”
“Ketiduran.”
“Ck, alesan.”
“Gue keluar dulu!” ujar Reynand dan berlalu pergi begitu saja.
Deva menggelengkan kepalanya pelan. Ia berdecak kesal melihat tingkah ajaib atasannya itu. Jika Reynand bukanlah Ceo ia sudah memecatnya detik itu juga. Bisa-bisanya baru datang dan langsung pergi lagi. Bahkan hanya hitungan detik Reynand duduk di kursinya.
“Anak itu.” ujar Deva sembari menghela nafas lelah
Di satu sisi, Reynand berjalan menuju pantry untuk mengambil air minum. Tenggorkannya terasa begitu kering. Hari ini ia sedikit malas untuk masuk kantor. Karena hal itu ia ingin bermalas-malasan. Sekalipun Reynand tidak masuk kantor tidak akan ada yang berani menegurnya.
Di saat berjalan menuju pantry ia tidak sengaja melihat dua pegawainya sedang bicara. Ia menyipitkan mata karena merasa ada yang aneh. “Siapa perempuan itu? Sepertinya dia bukan pegawaiku.” gumamnya dengan rasa penasaran
Tiba-tiba Callista berbalik badan, dan…
Deg
Keduanya mematung di tempat ketika tanpa sengaja saling menatap. Jantung Callista berdetak cepat melihat keberadaan Reynand. “Laki-laki itu!” ucap Callista dalam hati
“Apa penglihatanku salah?” gumam Reynand
“Rey!” panggil Deva
“Iya!” reflek Reynand langsung menoleh ketika mendengar suaranya dipanggil.
“Ck, udah mulai nggak bisa dengar, ha? Dari tadi dipanggil nggak jawab-jawab.”
“Ada apa?”
“Ada telepon dari cabang.”
Reynand menerima telepon tersebut lalu kembali memalingkan wajahnya. Ia terkejut ketika tidak melihat keberadaan Callista. “Di mana wanita itu? Kenapa cepat sekali dia menghilang?” batinnya berucap
“Siapa dia?” ujar Reynand tiba-tiba
Deva mengikuti arah pandangan Reynand untuk melihat siapa yang dimaksud atasannya itu. “Siapa? Yang mana?” Deva tidak melihat satu orangpun di dekat mereka.
“Ha?”
"Siapa yang kamu maksud? Perasaan dari tadi nggak ada orang di sini."
"Nggak ada orang?" Deva mengangguk sebagai jawaban
"Apa aku halusiniasi?" batin Reynand berucap
Next