Bab 04

869 Words
Callista mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup menatap wajah Reynand. Apa yang ia jaga belasan tahun dilihat oleh laki-laki b******k sepertinya. Hari pertama ia bekerja justru mendatangkan musibah padanya. “Benar-benar indah!” kata Reynand “Tutup mulutmu! Aku…” “Aakkhh..” “Sshh..” teriakan Callista berubah menjadi suara indah karena sentuhan Reynand. “Akan aku pastikan setelah ini kamu akan mengeluarkan suara indah, bahkan memohon padaku untuk melakukan hal lebih.” bisik Reynand “Enghh..” “A-ada apa denganku? Kenapa tubuhku bergetar seperti ini?” batin Callista bertanya-tanya Reynand bergerak semakin tidak karuan. Bukan hanya Reynand yang menikmati, begitupun dengan Callista mulai menikmati. Perkataan Callista memang menolak namun tidak dengan hatinya. Tubuhnya mulai menikmati sentuhan Reynand. “Aku akan memulainya!” ujar Reynand dengan suara beratnya “A-aku mohon jangan! Aku…” “Bukankah kau ikut menikmatinya, hm? Mulutmu memang berkata tidak, tapi respon tubuhmu tidak bisa berbohong, cantik.” “Aku…” Jleb “Akkhhh..” ringis Callista bersamaan dengan alunan suara indah Reynand yang panjang. Reynand benar-benar melakukannya. d**a Callista terasa sesak. Tepat di malam ini laki-laki yang tidak dikenalinya menghancurkan masa depan yang telah dijaga belasan tahun. Callista merasa kotor, jijik, sekaligus kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tidak bisa menjaga kehormatannya. “Hikss..” isak tangisnya “Tuhan, kenapa jadi seperti ini?” ucapnya dalam hati “Apa salahku?” “Kau masih gadis?” tanya Reynand dengan tatapan tidak percayanya Reynand tidak menyangka ia telah mengambil kehormatan seorang perempuan. Ia pikir Callista sama dengan perempuan lain di luar sana. Callista tidak mampu bersuara. Ia mengalihkan pandangannya enggan menatap wajah Reynand. Namun, nasi telah menjadi bubur. Reynand tetap melanjutkan kesenangannya karena sudah terlanjur terjadi. Keduanya melakukan hubungan terlarang tanpa mengenal satu sama lain. Mereka baru bertemu. Reynand berpikir Callista yang mencampurkan minumannya dengan sebuah obat, namun tanpa ia ketahui dibalik semua itu ada seseorang yang telah merencanakan dalam diam. “Hikss..” isak tangis Callista “Hidupnya telah hancur di tangan laki-laki b******k ini.” “Aku tidak sudi mengenalnya lagi. Bahkan hanya untuk sekedar bertemu dengannya.” Meskipun tubuh Callista menerima sentuhan Reynand namun ia menahan suaranya agar laki-laki itu tidak berbesar hati. Cengkraman kuat di sprei tempat tidur menjadi bukti betapa hancurnya Callista saat ini. Di hari pertamanya bekerja bukannya mendapat pengalaman ia justru mendapat kehancuran. Seharusnya sejak awal Callista menolak tawaran kerja di tempat ini. Dan sekarang ia baru menyesalinya. “Ma, Pa, maafin Callista! Callista tidak tahu semuanya akan terjadi seperti ini.” ucapnya dalam hati “Sekalipun Callista menyesal hal itu tidak akan merubah keadaan. Semuanya telah terjadi, dan kehormatan Callista telah direnggut paksa olehnya.” Brugh Reynand menjatuhkan dirinya di atas tubuh Callista. Tanpa keduanya sadari Reynand mengeluarkannya di dalam. “Hmm.. aku sudah puas melakukannya. Kita istirahat sekarang!” Perlahan mata Reynand tertutup. Namun berbeda dengan Callista, dadanya terasa sesak, perasaannya hancur, air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. “Laki-laki b******k!” “Aku bersumpah tidak sudi bertemu denganmu lagi.” ucapnya dalam hati Pagi harinya. “Enghh..” lenguh Reynand Reynand berpindah posisi menjadi miring dan ia merasa ada yang aneh. Perlahan ia membuka mata dan hanya kekosongan yang dilihat. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul membuat ia tidak menyadari kejadian semalam. “Sial!” umpat Reynand tiba-tiba Reynand seketika menegakkan tubuhnya saat teringat dengan kejadian semalam. Ia mencari keberadaan Callista karena dirinya hanya sendirian. “Di mana wanita itu?” gumamnya “Sialan! Berani-beraninya dia pergi tanpa mengatakan apapun.” Brak “Aarrgghh..” terikanya sembari melempar sesuatu ke arah lantai Reynand tidak mengetahui siapa perempuan tadi malam. Ia tidak sempat bertanya apapun padanya. “Siapa wanita tadi? Dan kenapa dia tiba-tiba pergi meninggalkanku? Apa dia tidak ingin pertanggung jawaban dariku?” gumamnya Selama bermalam dengan seorang wanita mereka selalu menuntut pertanggung jawaban darinya, namun sayangnya ia tidak peduli. Dan baru pertama kali ia berlamam dengan seorang perempuan dan wanita itu lebih dulu pergi meninggalkannya. Reynand tersenyum smirk. “Siapa sebenarnya wanita itu? Aku harus mencari tahunya.” Di sisi lain, Callista duduk tepat di bawah shower. Ia belum keluar dari kamar mandi sejak semalaman. Ia terus menghukum dirinya sendiri membasahi tubuhnya dengan air, berharap dengan hal itu bisa menghilangkan bekas kepemilikan dari Reynand. “Hikss.. aku sudah kotor!” “Aku kotor!” “Hikss..” isak tangisnya Bahkan kantung mata Callista terlihat menghitam karena terlalu lama menangis. “AKU BENCI SAMA DIRIKU SENDIRI!” teriaknya Bugh Bugh “AKU SUDAH KOTOR!” Callista memukuli dirinya sendiri. Ingatan tentang kejadian semalam terus berputar di kepalanya, hal itu membuat dirinya merasa kotor. Callista merasa dirinya begitu rendah karena kehormatannya telah direnggut oleh laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal. “Kenapa ini semua terjadi padaku? Hikss..” “KENAPA?” teriaknya Callista menelungkupkan wajahnya di tekukkan kakinya. Punggungnya bergetar hebat karena tangisnya. Di saat seperti ini ia membutuhkan seseorang sebagai tempat bersendar dan menceritakan keluh kesahnya. Lagi-lagi takdir membawanya pada keterpurukan. “Apa aku tidak berhak bahagia, Tuhan? Aku tidak ingin seperti ini.” “Aku benci dengan diriku yang sekarang.” “Hikss..” (Hidup adalah sebuah pilihan. Keterpurukan ataupun kebahagiaan bukanlah Takdir yang sesungguhnya. Allah akan merubah takdir bagi siapa yang mau berusaha dan berdoa, karena keterpurukan bukanlah akhir dari segalanya.) Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD