Callista mengangguk pelan. Ia tidak berani banyak membantah, apalagi nada suara Luna terdengar dingin dan tajam. Bahkan Callista tidak berani menatap wajah beliau. “Sekali lagi saya minta maaf, Bu.” cicitnya Callista membersihkan pecahan gelas tersebut dengan tangan kosong. “Kamu pegawai bari di sini?” tanya Luna karena beliau belum pernah melihat keberadaannya di Perusahaan Mahendra. “I-iya, Bu. Saya pegawai baru di sini.” “Lain kali jangan ceroboh!” “Maaf, Bu!” Reynand menatap Callista dengan tatapan sulit diartikan. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin membantu Callista. Entahlah, perasaannya campur aduk saat ini. “Rey, duduklah!” ujar Pradibta “Iya, Pa.” Mereka membiarkan Callista dengan pekerjaannya. Pradibta dan Luna benar-benar tidak peduli dengan kebera

