Malam harinya. Sesuai perintah Pradibta dan Luna dengan terpaksa Reynand menemui perempuan yang akan dijodohkan kedua Orang Tuanya padanya. Jika bukan paksaan dari kedua Orang Tuanya ia tidak akan mau menemui perempuan itu. “Gue dijodohkan? Hei, banyak perempuan di luar sana yang mati-matian nunggu gue. Bahkan gue bisa sesukanya memilih di antara mereka.” gumam Reynand di depan cermin Rasanya begitu memuakkan melihat kedua Orang Tuanya. Zaman sudah berubah tapi perbuatan mereka seolah masih di zaman dahulu. Setelah siap Reynand keluar dari kamar mandi. Langkahnya begitu malas menemui kedua Orang Tuanya. “Lama sekali kamu, Rey.” ujar Luna “Pa, Ma, putra kalian ini tampan kenapa harus dijodohkan segala? Reynand pasti bakal nikah kok. Kalian nggak perlu khawatir.” “Ck, jangan bany

