Satu bulan kemudian.
Callista tidak menyangka sudah lebih dari satu bulan ia bekerja di Perusahaan Mahendra Company. Sampai saat ini semuanya baik-baik saja, dan ia berharap akan terus seperti itu.
“Callista!” panggil rekan kerjanya
“Iya. Ada apa?”
“Em.. boleh aku minta tolong?”
Callista mengangguk sebagai jawaban. Ia dikenal pegawai yang sangat ramah pada rekan kerjanya yang lain. Bukan hanya itu, Callista juga sosok wanita yang ramah, cantik dan murah senyum. Dan karena hal itu rekan kerjanya banyak yang menyukainya.
“Tentu. Kamu mau minta tolong apa?”
“Sebentar lagi aku mau meeting dengan beberapa rekan kerja Pak Reynand. Tolong antarkan berkas ini ke ruang kerja beliau ya!”
“—“
Callista terdiam. Yang tadinya terlihat excited membantu seketika responnya sedikit berubah. Seharusnya ia bertanya lebih dulu apa yang bisa dibantu. Callista bisa ribuan kali berpikir jika masuk ke dalam ruangan Reynand.
“Callista, kamu mau kan?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan
“Em.. memangnya kamu buru-buru banget ya?”
“Iya. Ada beberapa hal yang harus aku siapkan sebelum meeting. Karena itu aku minta tolong sama kamu.”
“Ooh.. gitu, ya! Yaudah, nggak papa.”
“Beneran?” Callista mengangguk sembari tersenyum kecil
“Oke. Thank you, Callista.”
“Aku meeting dulu, ya!” dan setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan Callista.
“Huhh..” Callista menghela nafas kasar
Callista merasa ragu ketika ingin menemui Reynand. Rasa takut masih menghantui dirinya. Ia takut Reynand melakukan sesuatu padanya. Ia tidak bisa menebak mood laki-laki itu. Reynand bisa saja melakukan sesuatu tanpa disangka-sangka.
“Nggak papa. Lagipula hanya mengantar berkas ini dan setelahnya aku langsung pergi.” gumam Callista
Callista mengambil berkas itu lalu melangkah menuju ruangan Reynand. Ia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif. Callista menautkan kedua alisnya ketika melihat pintu ruangan Reynand tidak tertutup rapat. Ada celah sedikit yang siapapun bisa mengintip.
“Tumben laki-laki itu tidak menutup rapat pintu ruang kerjanya?” gumam Callista
Callista mengangkat bahunya acuh. Lagipula untuk apa dirinya peduli!
Tok.. tok.. tok
Callista mengetuk pintu ruangan Reynand namun sayangnya tidak ada jawaban apapun. “Ck, kemana laki-laki itu?”
“Apa dia tidak ada di ruangannya?”
“Lebih baik aku langsung masuk saja dan setelah itu menaruh berkas-berkas ini. Aku tidak ingin berada di sini terlalu lama.”
Callista membuka pintu tersebut, dan…
Deg
Tubuh Callista mematung di ambang pintu. Ia melihat Reynand melakukan hubungan bersama seorang wanita yang tidak ia kenal. Reynand dan wanita itu belum menyadari kedatangannya. Dan tiba-tiba…
BRAK
Reflek Reynand dan wanita itu menoleh ke sumber suara setelah mendengar barang jatuh. Mereka terkejut melihat keberadaan Callista di ambang pintu. Callista diam mematung seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat saat ini.
Callista menutup mulutnya tidak percaya menyaksikan adegan di hadapannya. Kaki dan tangannya bergetar menyaksikan hal itu. “Astaga, apa yang telah mereka perbuat?” batinnya berucap
Buru-buru Reynand menjauh dari wanita itu. Ia kembali merapikan pakaiannya. “s**t! Kenapa wanita itu bisa masuk ke dalam ruanganku?” batinnya berucap
“M-maaf, telah mengganggu waktunya.” dan setelah itu Callista pergi meninggalkan ruangan Reynand dengan berkas yang masih berserakan di lantai.
“Rapikan pakaianmu dan setelah itu keluar dari ruanganku!” ujar Reynand dengan tegas
“Tapi…”
Tanpa menunggu wanita itu menyelesaikan pembicarannya Reynand pergi begitu saja dari ruangannya. Reynand mengejar Callista untuk menghukumnya. Wanita itu telah mengganggu kesenangannya.
“Aarrggghh..” teriak wanita itu frustasi
“Sialan! Semua ini karena wanita itu.”
“Bisa-bisanya dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.” padahal Callista sudah mengetuk pintu, namun karena aktivitasnya membuat mereka tidak mendengar suara itu.
Wanita itu memakai pakaiannya. Ia gagal bersenang-senang dengan Reynand. Setelah rapi ia pergi meninggalkan ruangan Reynand. “Aku akan kembali ke sini nanti.” gumamnya
Di sisi lain, Reynand melangkah menuju ruangan Callista. Ia akan memberikan hukuman pada wanita itu. Reynand tersenyum smirk. “Kamu yang akan menerima
akibatnya karena telah berani mengganggu kesenanganku. Kamu telah masuk ke kandang buaya.” ucapnya dalam hati
Callista menghentikan langkahnya ketika dari kejauhan melihat Reynand ingin membuka pintu ruang kerjanya. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Rasa takut kembali menghantui dirinya.
“Apa yang ingin dilakukan laki-laki itu ke ruanganku?” gumam Callista
“Reynand!” panggil Deva
Reynand mengurungkan niatnya membuka pintu ruang kerja Callista karena Deva tiba-tiba memanggilnya. “Kenapa?”
Deva menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?”
“Hei, ayolah! Kita sebentar lagi ada meeting dengan Perusahaan xxx, apa lo lupa?”
“Sial! Gue melupakan itu.” batin Reynand berucap
“Rey!” panggil Deva
“Kita ke ruang meeting sekarang!”
Reynand berjalan lebih dulu meninggalkan Deva. Untung saja bukan Deva langsung yang menemuinya di ruang kerja. Jika hal itu terjadi reputasinya sebagai seorang Ceo hancur. Wibawanya akan hilang.
“Ternyata wanita itu penyelamat bagiku.”
“Tapi dia tidak akan aku biarkan lolos begitu saja.” ujar Reynand dalam hati
“Ck,” decak Deva
Bisa-bisanya Reynand pergi begitu saja. Ia menatap punggung Reynand yang semakin jauh sembari mengelus d**a. “Sabar, Rey! Kayak baru pertama kali lihat aja.” gumamnya
Dan setelahnya Deva menyusul langkah Reynand sebelum semakin jauh. Melihat kepergian Reynand dan Deva membuat Callista menghela nafas lega. Akhirnya ada suatu hal yang membuat mereka pergi meninggalkan ruang kerjanya. Entah apa yang akan terjadi jika Reynand berhasil menemuinya.
“Lalu bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Dewi Fortuna tidak selalu berpihak padaku.” gumam Callista
“Huhh..” Callista menghela nafas kasar
“Akan aku pikirkan nanti.”
Buru-buru Callista masuk ke dalam ruangannya sebelum Reynand kembali. Meskipun ia tahu Reynand tidak akan kembali karena laki-laki itu disibukkan dengan meeting dengan klien kerjanya. Callista menyandarkan tubuhnya dibalik pintu. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang.
"Huhh.. syukurlah, laki-laki itu tidak berhasil menemuiku. Entah apa yang akan dia lakukan jika bertemu denganku."
Callista menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali agar hati dan pikirannya bisa lebih tenang. Untung saja hari ini Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Deva tiba-tiba datang sebagai penyelamat baginya. "Terima kasih atas pertolonganmu hari ini, Tuhan." gumamnya
Next