Malam harinya.
Ceklek
Callista membuka pintu rumahnya dan ketika ingin melangkah tiba-tiba tubuhnya terdorong ke belakang, sontak hal itu membuatnya terkejut sekaligus panik. Dan…
BRAK
Callista terlonjak kaget tiba-tiba pintu rumahnya tertutup dengan cukup kasar. Ia berbalik badan dan betapa terkejutnya melihat keberadaan Reynand. Laki-laki itu tersenyum smirk menatap ke arah Callista.
“Kenapa kamu bisa ada di rumahku?” ucap Callista dengan tatapan tidak percaya
“See?” ujar Reynand sembari mengangkat kedua bahunya acuh
“KELUAR!” bentak Callista
“—“
Bukannya keluar Reynand justru berjalan maju mendekat ke arah Callista. “Keluar atau aku akan teriak!?” ancamnya
“Silahkan teriak sekencang mungkin karena tidak akan ada yang berani menolongmu.”
Jantung Callista berdetak cepat melihat Reynand semakin dekat dengannya. Ia mencari celah untuk bisa kabur dari laki-laki itu.“Kenapa aku tidak sadar jika ada orang yang mengikutiku?” ucapnya dalam hati
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?”
“KELUAR KAMU DARI RUMAHKU!” bentak Callista
“Setelah menghukum’mu aku akan keluar dari rumah ini.”
“Apa maksudmu?”
“Memberikan sedikit pelajaran karena telah berani mengganggu kesenanganku di kantor.”
Deg
Callista tidak bermaksud mengganggu kesenangan Reynand dengan wanita itu. Jika sebelumnya ia tahu tidak mungkin dirinya masuk ke dalam ruang kerja Reynand. Kejadian tadi tanpa ia sengaja.
“M-maaf, aku tidak tahu. Aku ke ruanganmu hanya berniat mengantar berkas, tidak ada maksud apapun.” ujar Callista dengan nada gugup
“Tapi sayangnya aku tidak peduli.”
“Apa maksudmu?”
“Aku menuntut pertanggung jawabanmu dengan menggantikan wanita tadi.”
Callista melebarkan matanya. Ia menggelang tidak mau. Siapa Reynand berani-beraninya mengancam dan menuntutnya tanpa alasan yang jelas. “Keluar kamu dari rumahku!” desisnya dengan tajam
“—“
Callista berlari masuk ke dalam kamar. Namun belum sempat menutup pintu dengan rapat Reynand menahan pintu tersebut. Keduanya saling menahan pintu namun tenaga Callista tidak cukup kuat melawannya.
“Kau tidak bisa kabur dariku!” ujar Reynand
“PERGI KAMU!” teriak Callista
“Tuhan, bantu aku!” doa Callista dalam hati
BRAK
“Aarrgghhh..”
Karena tenaga Reynand cukup kuat membuat Callista kalah. Tubuh Callista terdorong ke belakang membuat pintu kamarnya terbuka lebar. Kesempatan itu Reynand gunakan sebaik mungkin. Ia masuk ke dalam dan langsung menutup pintu kamar, bahkan menguncinya. Reynand tidak membiarkan Callista lari darinya.
“Aku mohon jangan melakukan apapun padaku!” mohon Callista dengan suara bergetar menahan tangis
“—“
Sekalipun Callista memohon sampai menangis darah Reynand tidak akan mendengarkan permintaannya. Yang terpenting bagi Reynand adalah kepuasan dirinya. Callista telah menggagalkan kesenangannya dan wanita itu sebagai gantinya.
Ketika Callista ingin berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat Reynand menahannya. Reynand memeluknya dari belakang. Callista memberontak meminta dilepaskan. Bahkan lengannya mendapat pukulan dan cakaran berulang kali dari Callista.
“LEPASIN AKU!” teriak Callista
“TOLONG!”
“Teriak sekencang mungkin karena tidak akan ada yang menolongmu. Kau harus bertanggung jawab.”
“Aku tidak mau!”
“Aku tidak peduli.”
Cengkraman yang dilakukan Callista sama sekali tidak berefek apapun pada Reynand. Rasa sakit itu tidak ada apa-apanya di tubuhnya. Reynand menggendong Callista seperti karung beras lalu melemparnya di atas tempat tidur.
Brugh
“Aakkhh..” pekik Callista
Reynand buru-buru melepas pakaian kantornya. Ia benar-benar ingin menghukum Callista. Wanita itu terlihat ketakutan, bahkan hanya dengan tatapan Reynand. “A-aku mohon jangan lakukan apapun!” pinta Callista dengan nada memohon
Dengan cepat Reynand menindih tubuh Callista ketika wanita itu ingin kabur. Kedua tangannya ia ikat dengan dasi kantornya. “Lepasin tangan aku!” pekik Callista
“Sstt.. diamlah! Jika kau terus memberontak aku akan berbuat kasar.”
Callista menggelengkan kepalanya tidak mau. Ia tidak tinggal diam. Sebisa mungkin ia melepaskan diri dari Reynand. Callista terus berusaha melepaskan diri dari jeratan Reynand.
Reynand tersenyum smirk. Tidak terbesit rasa kasihan sedikitpun di hatinya. Yang terpenting bagi Reynand adalah keinginannya terpenuhi. Callista mengalihkan pandangannya ketika Reynand mengelus pipinya.
“Aku tidak menyangka kita dipertemukan kembali.” bisik Reynand
“Itulah yang aku sesali. Aku menyesal kenapa dipertemukan dengan laki-laki b******k sepertimu.”
Bukannya tersinggung Reynand justru terkekeh. Kemarahan Callista justru terlihat menantang di matanya. “Terserah apa katamu karena aku tidak peduli. Yang aku butuhkan saat ini adalah tanggung jawab darimu.”
“Cih, lepaskan aku!”
“Aku tidak bersalah dan tidak berhak bertanggung jawab apapun itu.” ujar Callista dengan tegas
“Apa aku terlihat peduli, hm?”
“Sialan! Dasar laki-laki breng…”
Cup
“Hmppt..” belum selesai Callista bicara Reynand tiba-tiba mencium wanita itu.
Dengan kedua tangan yang terikat membuat Callista tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya ditindih oleh badan kekar Reynand membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas.
Reynand tersenyum menikmati perbuatannya. Ia merasa senang karena Callista tidak bisa melakukan apa-apa, hal itu membuatnya bebas melakukan sesukanya. Tangan kekar Reynand mulai bergerak menyusuri tubuh Callista.
“Hmppt..”
“Lewpasinn!” ujar Callista dengan nada suara yang tidak jelas
Reynand melepas bibir keduanya dan detik itu juga Callista menghirup udara sebanyak mungkin. “Huhh..” d**a Callista naik turun karena kehabisan oksigen.
“Huhh..”
“Jangan terus memberontak atau aku akan berbuat kasar.” bisik Reynand dengan tajam
“Aku tidak mau.”
“Mau atau tidak aku akan tetap melakukannya.”
Callista menitihkan air matanya. Ia tidak ingin mengulang kejadian malam itu. Sungguh menyakitkan, bahkan ia malu dengan dirinya sendiri. Sejak saat itu Callista berusaha untuk melupakannya namun Takdir justru kembali mempertemukan dirinya dengan Reynand.
“Lepaskan aku! Aku mohon.” pinta Callista dengan suara bergetar
“Sstt.. jangan terus memohon karena aku tidak akan memenuhinya. Lebih baik kita nikmati malam panjang hari ini. Malam yang akan memberikan kenikmatan.”
“b******k!”
“Aku tidak mau melakukannya. Lepasin!” desis Callista dengan tajam
Karena Callista terus memberontak membuat Reynand kesal. Reynand sudah berusaha untuk berkata lembut namun Callista terus memancing kemarahannya. “LEPASIN!” teriak Callista
“LAKI-LAKI b******k! AKU TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB!”
“TOLONG!”
Callista terus memberontak dan berteriak berharap dengan hal itu ada yang mendengar dan menolongnya. Ia tidak bisa menyerah begitu saja sebelum ada yang menolong.
“DIAM!” bentak Reynand
“AKU TIDAK AKAN DIAM SEBELUM KAU MELEPASKANKU.”
PLAK
“Aakkhh..”
Reynand menampar Callista membuat wanita itu diam seketika. Jika dengan cara baik-baik tidak membuat Callista dia maka dengan cara kekerasan ia lakukan. “Diam atau aku akan melakukan lebih dari ini!” desisnya dengan tajam
"Lebih baik kau diam dan nikmati permainanku!"
Reynand mengelus bekas tamparannya. "Aku tidak akan berbuat kasar jika kau menurut denganku. Jika kau tidak menggangguku tadi pagi mungkin hal ini tidak akan terjadi. Namun sepertinya takdir menyuruhku untuk menyentuhmu kembali." ucapnya sembari tersenyum smirk
Next