Part 1. Para Pengkhianat
Seminggu Sebelumnya - Maya di Sebuah Vila di Malam Hari
Uap mengepul dari permukaan air berbuih, meliuk-liuk ke udara malam yang sejuk di pegunungan. Maya pepetkan tubuhnya rapat-rapat di balik pagar kaca villa, memengang ponsel canggihnya dengan tangan gemetar.
Dia seharusnya tidak ada di sini. Dia seharusnya percaya pada instingnya yang mengatakan ada sesuatu yang sangat salah dengan Alan, calon tunangan Ruby, sahabatnya.
“Sial, kalau gak demi Ruby, gak mau gue ngendap-ngendap macam maling gini!” rutuknya pada diri sendiri.
Tapi dia tidak boleh berhenti. Dia harus tahu dan merekam semua pengkhianatan yang dilakukan Alan dengan Lumia, adik tiri Ruby. Tanpa bukti video ini, Ruby tidak akan percaya. Toh, dia sering memberitahu Ruby tapi sahabatnya yang baik hari itu terlalu percaya pada Alan!
Dari celah tirai yang tidak tertutup sempurna, Maya bisa melihat cukup jelas sosok para pengkhianat itu.
Alan.
Tunangan Ruby, laki-laki yang menangis tersedu saat Ruby berangkat ke London, yang berjanji akan setia menunggu, yang setiap minggunya mengirim pesan ‘Aku mencintaimu, aku akan setia menunggumu’, sedang berdiri di tepi jacuzzi dengan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun! Postur tampak belakangnya memerlihatkan b****g yang sempurna. Membuat Maya yakin Alan sengaja lakukan itu untuk menampakkan sesuatu miliknya yang menjuntai di depan.
Memangnya apa dan pada siapa Alan memamerkannya?
Maya menelan ludah. Bukan karena melihat sempurnanya tubuh Alan. Tapi karena pria itu tidak sendiri. Ada satu sosok yang menunggunya di dalam kolam jacuzzi.
Air berbuih bergerak. Sebuah tangan muncul dari dalam, jari-jari panjang dengan kuku merah menyala meraih pinggang Alan dan menariknya masuk.
Lumia.
Maya bahkan bisa mengenali rambut panjang yang diwarnai pirang itu sebelum wajah ularnya menyembul dari kepulan uap. Adik tiri Ruby, wanita yang selalu menatap Ruby dengan senyum manis penuh kepalsuan, senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
"Kenapa kamu lama sekali, Sayang?" suara Lumia terdengar, penuh godaan, “aku kan udah gak tahan sejak tadi."
Alan tertawa, suara yang pernah Maya dengar saat dia menelepon Ruby, suara yang berkata ‘aku di sini baik-baik saja, Sayang,’ tapi sekarang dipenuhi nafsu. Alan masuk ke dalam jacuzzi dan air naik sampai pinggangnya.
Lumia segera berdiri setelah Alan masuk, bulir air mengucur dari tubuhnya yang hanya ditutupi bikini merah transparan, bahan super tipis menempel seperti kulit kedua di payudaranya yang besar, hingga menampilkan lingkaran hitam kecil di tengah dengan jelas. Maya tahu, sepertinya Lumia sengaja membeli ukuran yang terlalu kecil, untuk memamerkan apa yang seharusnya ditutupi rapat.
"Kau yakin Ruby tidak akan tahu?" Tanya Alan, tapi tangannya sudah meremas pinggul Lumia dan memberi kecupan-kecupan penanda di perut Lumia.
Lumia terkikik manja, suara yang membuat Maya bergidik karena kesal luar biasa.
"Ruby? Dia terlalu sibuk dengan buku-bukunya di London. Dia tidak pernah tahu apa yang kau butuhkan, Alan. Beda denganku, aku tahu apa yang kamu butuhkan, kehangatan!” Jawab Lumia sembari memelorotkan underwear yang tersisa dari bokongnya hingga sekarang tubuh bagian bawahnya tanpa perlindungan sehelai benang pun, membuat mata Alan melotot dan menelan ludah.
Lumia melangkah mendekati Alan, tubuh mereka bertemu di tengah jacuzzi. Lumia mengangkat satu kaki, menekuknya di atas tepi bak, memosisikan diri dengan sengaja sangat v****r hingga nampaklah area paling pribadinya yang membuat napas Alan kembang kempis dan matanya semakin membola.
“Beda denganku, Alan. Lihat apa yang kuberikan untukmu," bisik Lumia, melihat ke Alan dengan mata penuh gairah, “ini untukmu, Sayangku. Semuanya, tubuhku hanya untukmu."
Alan mengerang pelan. Tangannya menarik paksa pinggul Lumia untuk mendekat ke arahnya dan segera menikmati apa yang sudah tersaji. Toh sudah dipersilakan oleh si pemilik tubuh untuk dia melakukan apapun yang diinginkan oleh syahwatnya, syahwat mereka lebih tepatnya.
Dengan rakus, Alan melahap dan menciumi tubuh bagian bawah Lumia yang sudah sangat siap untuknya.
Maya melihat itu semua walaupun dia mengutuk dalam hatinya. Segala sumpah serapah dia ucapkan dalam hati. Tentu saja dia tidak ingin melihat agedan film biru di malam hari ini, mana dia jomlo akut! Dia tidak punya suami yang bisa dia ajak untuk mandi bersama di jacuzzi atau bertukar lendir. Tapi dia tidak bisa memalingkan mata, dia melihat Alan kemudian berdiri dengan satu bagian tubuhnya yang keras, sudah tegak berdiri dan siap untuk Lumia.
Alan menerobos masuk ke inti tubuh Lumia membuat gadis itu mengerang, mendesah dan tubuhnya meliuk seperti ular. Kepalanya terlempar ke belakang, rambut panjangnya terkena permukaan air.
"Ya... Alan... begitu…uughh…” pekikan dan desahan lolos dari bibir Lumia karena gerakan liar Alan.
Alan menggerakkan pinggulnya dengan cepat, tanpa ampun, membuat air jacuzzi jadi berombak liar. Tangannya meraih ke depan, meremas d**a Lumia dengan kasar, menarik bikini ke atas hingga lingkaran cokelat itu terpapar bebas sehingga jemarinya bisa mencubit dan memutarnya, membuat Lumia mendesah merasakan kenikmatan yang melanda tubuhnya.
"Bagaimana aku? Lebih enak dari Ruby, kan?" tanya Lumia terengah, sengaja dengan suara keras, sengaja untuk didengar oleh orang lain.
Ya, Lumia memang sengaja melakukan penyatuannya kali ini dengan Alan di tempat yang cukup terbuka. Saat tiba di vila ini tadi siang sempat melihat Maya di vila sebelah. Dia tahu bahwa Maya pasti akan memberi tahu Ruby tentang hal ini dan itu memermudah rencananya segera tercapai.
"K-kamu…aaghh…” Alan mendesah, wajahnya terdistorsi kenikmatan, "Ruby, dia… dia…” Alan tidak mampu selesaikan kalimatnya karena Lumia membuatnya gila. Gadis yang sedang beradu syahwat dengannya ini benar-benar mampu membuatnya terbang ke langit ke tujuh.
Mereka bergerak seperti hewan. Alan menekan tubuh Lumia ke dinding jacuzzi dan bergerak semakin liar. Lumia mendesah, mengerang tidak keruan, tubuhnya bergetar, dia mencapai puncak dan menjeritkan nama Alan. Maya sampai merasakan perutnya mual tapi kakinya seperti terpaku di tempat.
Tapi Alan belum selesai. Sekarang posisinya duduk dan menarik Lumia ke pangkuannya. Lumia menghadapnya sekarang, kakinya mengangkang di kedua sisi tubuh Alan, menurunkan dirinya dengan perlahan, ekspresi wajahnya berubah-ubah antara nikmat, kesakitan juga kemenangan.
"Katakan kau milikku," kata Alan memerintah, tangannya berada di belakang leher Lumia, menariknya untuk ciuman yang dalam dan liar.
"Aku milikmu, Alan," Lumia mendesah dengan suara yang terdengar seksi menggoda di telinga Alan. Dia bergerak naik turun, pinggulnya bergoyang membuat Alan merem melek, "seperti kamu yang hanya milikku, Alan. Bukan Ruby, hanya aku."
Maya merekam semuanya. Tangannya gemetar dan air mata mengalir. Tapi dia tetap merekam dan bersumpah serapah mengeluarkan kosa kata kebun binatangnya untuk dua pengkhianat itu. Bukti ini akan dia berikan pada Ruby agar mata sahabatnya itu terbuka dan tahu siapa sebenarnya Alan. Lelaki itu tidak pantas untuk gadis sebaik Ruby!
Alan terengah-engah, seketika tenaganya menghilang saat mereka mencapai puncak bersama. Dia sudah tidak mampu berpikir dan mendengar apa yang dikatakan Lumia, "aku akan hamil anakmu, Alan," bisik Lumia tepat saat Alan mengerang keras dan tubuhnya bergetar, mencapai puncaknya di dalam Lumia.
"Kau akan meninggalkan Ruby untukku. Rumah itu akan jadi milikku. Semuanya akan jadi milikku, milik kita."
Alan menatapnya dengan mata setengah terpejam karena kabut nafsu hingga tidak melihat senyum licik Lumia, "apa saja untukmu, Lumia."
Maya berbalik dan pergi dari situ secepat yang dia bisa. Sepanjang jalan menuju ke vila yang dia tempati, penuh dengan sumpah serapah untuk Alan dan Lumia. Dia harus segera memberitahu Ruby tentang hal ini.
Tapi apakah Ruby tidak akan hancur setelah ini?