Part 2. Video Syur 47 Detik

2531 Words
Tiba di vila dengan napas terengah, Maya disambut satu sosok lelaki tampan sempurna yang melihatnya penuh curiga. “Dari mana kamu, May? Kenapa wajahmu merah gitu dan napas tersengal? Dikejar setan?” “Minum! Air dingin!” Maya nyaris menabrak pintu kulkas. Dia meneguk air mineral sampai airnya menetes dari sudut bibirnya, mengabaikan tatapan tajam Alaric, si lelaki tampan itu, yang berdiri bersedekap di ambang pintu. Alaric tidak bergerak sedikit pun saat Maya menyerbu masuk, hanya melirik malas ke arah Maya. Dia tetap berdiri menghadap jendela besar vila, menyesap espresso pahitnya dengan tenang, seolah napas terengah-engah sepupunya itu hanyalah gangguan kecil seperti lalat yang mengerubungi makanan sisa. “Kamu terlihat seperti baru saja melihat pembunuhan, May,” suara Alaric terdengar rendah dan dingin. Maya abaikan pertanyaan itu dan segera menegak habis air mineral dinginnya dengan terengah. “Bantu gue, Al! Elu harus bantu gue!” Pekik Maya sambil mencengkeram kerah kemeja custom-made milik Alaric sampai membuat tubuh kekar lelaki itu sempat bergoyang karena kuda-kuda yang tidak siap. Alaric menurunkan cangkirnya perlahan. Dia melirik tajam tangan Maya di kerahnya dengan tatapan yang sanggup membekukan air mineral di botol, "satu kerutan di baju ini sebanding dengan jatah belanja tasmu bulan depan, Maya. Lepaskan!" Suaranya datar dan rendah, tanpa emosi, tapi sangat mengintimidasi. Maya segera melepaskan cengkeramannya dan meringis lebar, menepuk-nepuk kerah kemeja yang tadi dia tarik. Alaric menghela napas, jemarinya yang panjang memijat pangkal hidungnya. "Jangan nambah runyam hidup gue deh, May. Eyang sudah mengirim tiga profil anak kolega pagi ini dan kalau gue gak bawa satu nama saat pulang nanti, bisa dipastikan Eyang akan membekukan aset gue di Singapura. Jadi, kalau elu gak membawa solusi, silakan keluar lewat pintu yang tadi elu banting!" Desisnya tajam. Yap, inilah titik lemah seorang Alaric Mahesa. Di balik setelan jas mahal dan korporasi yang dia kelola, dia tetaplah seorang cucu yang sedang "dilelang" oleh tradisi keluarga. Istri! Dia harus segera punya pewaris agar eyang tercinta tidak lagi berisik bertanya. Mata Maya membola, ide brilian itu seketika muncul, “yes! Gue tahu elu orang yang tepat buat ini, Al! Sekali tepuk, dua lalat mati. Sini deh, gue punya ide yang akan membereskan masalah jodoh elu sekaligus sobat gue.” Alaric tidak langsung antusias. Dia justru menyipitkan mata, penuh curiga. "Somehow, gue gak suka kata 'ide' yang keluar dari mulut elu, May. Biasanya itu berakhir dengan kerugian saham atau skandal media." “Kali ini beda, Al. Beneran beda. Ini soal Ruby. Rubyana Ardhana.” Maya menyodorkan ponselnya, dengan layar aktif yang ada foto seorang gadis manis. Alaric mengambil ponsel itu dengan gerakan malas, namun saat matanya menangkap foto Ruby, seorang gadis dengan tatapan cerdas tapi matanya nampak menyimpan kesedihan yang dalam, gerakan tangannya terhenti. Dia memerbesar foto itu. Menilai wajah sendu Ruby, ketegasan garis bibirnya, bola mata indahnya dan yang paling penting, sorot mata yang tidak tampak memuja harta. Sepertinya gadis ini bukanlah seorang gold digger. “Dia memenuhi kriteria Eyang?” tanya Alaric, suaranya masih datar, tapi Maya tahu kali ini ada ketertarikan. Maya mengangguk dengan semangat, “lebih dari cukup malahan. Dia seorang arsitek, cerdas, dari keluarga baik-baik dan sekarang...” Maya menjeda dengan dramatis, “dia sedang dikhianati. Dia butuh pelindung dan elu butuh tameng dari Eyang. Gimana, brilian kan ide gue ini?” tanya Maya dengan bangganya, menepuk d**a beberapa kali. Alaric terdiam cukup lama, keningnya berkerut, kebiasaannya saat sedang menghitung untung rugi sebuah transaksi besar. “Ruby ya,” Alaric mengangguk kecil dan menyebut nama itu dengan pelan, “oke. Gue akan bantu dia. Tapi pastikan dia tahu satu hal, gue gak menerima pengkhianatan dalam bentuk apa pun. Sekali dia masuk dalam rencana gue, gak ada jalan keluar sampai gue sendiri yang berkata selesai.” “Beres, gue bakal bilang itu ke Ruby.” Pekik Maya, gembira, merasa masalah sang sahabat terselesaikan tanpa pernah tahu dia menjerumuskan Ruby ke jurang yang lebih dalam. “Ruby. Rubyana Ardhana, nama yang indah. Semoga dia juga penurut.” * Saat ini - Ruby di London Ruby menatap layar laptop yang sedari tadi menampilkan halaman yang sama. Kursor berkedip-kedip di tempat, menantangnya untuk memindahkannya. Tesis arsitekturnya stuck, padahal seharusnya sudah selesai dua hari lalu. Tapi pikirannya melayang-layang ke Jakarta, ke kota kelahirannya di mana sang tunangan, Alan, menunggunya. Ruby tersenyum kecil. Dia mengusap cincin pertunangan di jari manisnya, berlian kecil yang mereka pilih bersama. Sebenarnya Alan ingin yang lebih besar, katanya untuk menunjukkan bahwa cintanya juga besar. Tapi Ruby bilang ini cukup, yang penting kan cinta mereka, bukan berliannya! Tiba-tiba ponselnya bergetar dan tertera nama Maya di layar, mengirimkan pesan. “Bee, buka video ini. SEKARANG. Tapi jangan ditonton di tempat umum, jangan juga ditonton dengan orang lain. Harus kamu sendirian. Dan... maafkan aku, Bee." Ruby mengerutkan dahi. Kenapa sang sahabat harus minta maaf? Emangnya dia bikin salah apa? Ruby merasa aneh dengan pesan yang dikirim Maya. Mereka biasanya berkirim meme dan foto kucing juga jokes garing. Akhirnya Ruby mengklik video yang dikirim Maya. Layar ponselnya menyala dengan video amatir 47 detik. Kualitas gambarnya bagus karena ponsel Maya yang canggih. Tapi gambarnya goyang walau cukup jelas. Layar ponsel itu menampilkan uap yang membubung dari jacuzzi. Lalu, sebuah punggung yang sangat Ruby kenali muncul. Punggung dengan tanda lahir kecil di bahu kiri punggung Alan. Ruby terkekeh pelan. Maya, kamu keterlaluan banget deh seniat itu ngintip orang mandi. Tapi tidak sampai satu detik kemudian, tawa Ruby mati di tenggorokan saat sepasang lengan mungil dengan kuku merah menyala muncul dari uap dan menarik tubuh Alan untuk masuk. Perlahan, wajah si pemilik lengan itu muncul dan napas Ruby tercekat saat melihat siapa. Itu Lumia! Adiknya. Memakai bikini merah yang tampak terlalu kecil di tubuh sintalnya. Ruby membeku. Jantungnya berhenti, tidak hanya jantungnya tapi dunianya juga berhenti. "Kamu lebih nikmat dari Ruby. Dia… dia..." suara Alan terdengar jelas, tidak bisa disangkal. "Kakak perempuanku itu tidak tahu apa-apa soal memuaskan laki-laki, terutama memuaskanmu, Alan. Hanya aku yang bisa melayanimu sampai puas." Balas Lumia, suaranya manis seperti biasa, tapi sekarang dipenuhi nafsu yang Ruby tidak pernah tahu bisa keluar dari mulut berbisa itu. Suara desahan samar keduanya, suara erangan penuh kenikmatan dari Alan, suara percintaan itu bukan lagi suara manusia di telinga Ruby, melainkan pengkhianatan. Seketika dingin menjalar dari ujung jari kakinya hingga ke jantung. Cincin pertunangan di jarinya mendadak terasa seperti besi panas yang membakar jari manisnya. Video berakhir di detik ke-48. Ruby menatap layar ponselnya yang hitam hingga menampilkan wajahnya, pucat, mata melebar, mulut terbuka tanpa suara. Ini tidak mungkin! Alan tidak mungkin menyelingkuhinya! Ponselnya berdering. Maya. "Bee..." suara Maya terdengar, menangis, “gue sengaja gak kirimi elu video full-nya. Gue sendiri sampai mual pas ngerekam itu. Sori banget baru berani ngirim ini ke elu. Gue gak tahu harus ngomong apa. Tapi dua orang itu memang pengkhianat, mereka…" "Di mana?" suara Ruby terdengar, anehnya terlalu tenang, tanpa emosi. Beberapa kali Maya memang memberitahunya kalau Alan bukanlah lelaki yang setia, tapi Ruby anggap itu hanya bercandaan Maya saja. Hingga satu menit tadi akhirnya dia percaya setelah melihat video yang dikirim Maya. "Villa, di pegunungan. Tempat yang seharusnya untuk…" "Bukan itu, May,” Ruby memotong tidak sabar, "di mana mereka sekarang?" Maya terdiam sejenak mengambil napas dan berkata lirih, "rumah elu. Gue sempet mikir bakalan ngirim video setelah elu beres ama kuliah, tapi sori banget, Bee, itu bakalan terlambat. Info yang gue dapat, Indri bahkan udah bayar notaris untuk palsuin sertipikat rumah peninggalan papa elu. Indri bahkan udah koar-koar, bilang rumah itu resmi miliknya sekarang. Sedangkan Alan dan Lumia, mereka di kamar utama, kamar elu, Bee." Ada yang hancur di dalam d**a Ruby. Tidak, bukan hati karena hatinya seketika mati dalam 47 detik sesuai durasi video syur tadi, melainkan sesuatu yang lebih berbahaya, kebencian dan dendam. "Gue bakal pulang secepatnya setelah visa beres." Kata Rubyi, sudah membuka aplikasi travel. "Bee, tunggu, gimana ama kuliah lu? Sayang, Bee!" teriak Maya. “Siapkan pengacara, atau ambulans, May,” suara Ruby terdengar datar, namun ada nada membunuh yang belum pernah Maya dengar sebelumnya. Ruby menutup telepon, lalu dengan kesal dia melepaskan cincin berliannya. “Nikmati kamar itu selagi bisa, Lumia,” bisiknya pada layar ponsel yang sudah gelap. “Karena saat aku sampai, aku pastikan kalian bahkan tidak punya lantai untuk dipijak.” * Di dalam burung besi yang membelah samudera selama tujuh belas jam, Ruby merasa seperti mayat yang dipaksa bernapas. Setiap kali matanya terpejam, memori tentang Alan terputar bak rekaman rusak. Sekarang, kata-kata ‘I love you’ itu terasa seperti bangkai yang membusuk di mulutnya. "Kamu istimewa," bisik Alan lembut, "tidak seperti yang lain. Kamu adalah cinta sejatiku, Ruby.” Ruby percaya semua kata yang diucapkan Alan. Dia percayai itu dengan setiap saraf di tubuhnya. Nyatanya, saat ini di kursi pesawat kelas ekonomi yang sempit, dia terkekeh kecil. Suara yang keluar dari bibirnya terdengar aneh yang dia sendiri tidak mengenalinya. Pramugari menatapnya khawatir tapi Ruby tidak peduli. Cinta sejati! Cinta sejati dari Hongkong! Ruby mengumpat terus menerus. Ruby mencengkeram sandaran kursi pesawat hingga buku-buku jarinya memutih. Sprei merah marun itu… Pikiran Ruby beralih ke seprai sutera yang dia pesan khusus dari Italia, yang seharusnya menjadi saksi kesucian malam pertamanya. Seprai itu kini sedang menyerap peluh pengkhianatan adiknya sendiri. Dia pejamkan mata dan kali ini dia tidak melihat jacuzzi. Tapi melihat kamar tidurnya, ranjangnya, seprai suteranya. Bayangan-bayangan liar yang dibuat oleh pikirannya atau mungkin intuisi, membuat darahnya mendidih. Lumia ada di atas ranjangnya dengan Alan di atas Lumia. Tubuh mereka berkeringat, bergerak, berhimpitan dan bertukar lendir. Menjijikkan! * Jelang malam, Ruby tiba di rumah yang penuh kenangan. Berbekal kunci yang dia bawa, dia menaiki tangga ke lantai dua, ke kamarnya. Tiga anak tangga pertama, dia mencoba meyakinkan diri bahwa suara-suara yang terdengar dari lantai atas hanyalah televisi yang menyala atau mungkin Lumia menonton film biru atau apa pun itu. Nyatanya, suara tubuh berbenturan dengan ritme yang teratur, diiringi desahan dan erangan, memaksa Ruby melangkah lebih cepat. Memaksa denyut nadinya berdegup lebih cepat. Dua anak tangga lagi dan desahan serta erangan kenikmatan itu semakin jelas, bukan suara kesakitan melainkan suara kenikmatan yang disengaja untuk didengar. Ruby berhenti di ambang pintu, jari-jarinya yang gemetar menempel di kusen kayu yang diukir ayahnya. Dari balik celah, terdengar suara yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Ruby, irama ranjang yang berderit, deru napas yang memburu dan lenguhan yang sengaja dikeraskan. Dunia seolah melambat. Di atas ranjang ukir peninggalan Ibunya, Lumia sedang membusungkan d**a, rambutnya lepek karena keringat, terserak di atas sprei merah marun yang kini berkerut kacau. Tapi yang membuat napas Ruby tercekat bukanlah tubuh Lumia yang polos tanpa sehelai benang pun. Bukan pula pakaian dalam warna merah menyala yang tergeletak di lantai, bukan pula bau parfum menyengat bercampur bau maskulin yang terasa amis. Yang membuat napas Ruby tertahan adalah Alan. Tunangannya itu... Alan, pria yang pernah berlutut memohon cintanya, kini sedang membenamkan wajah di antara pangkal paha Lumia dengan rakus. Gerakan Alan terlalu mahir, terlalu biasa. Suara jilatan yang basah itu bagai petir yang menulikan telinga Ruby. Suara lidah yang menelusuri, suara yang pernah Ruby bayangkan akan menjadi miliknya di malam pengantin, kini menjadi soundtrack pengkhianatan yang paling menyakitkan. Ruby yakin tentu saja ini bukan yang pertama kalinya karena dia meninggalkan Jakarta sudah lebih dari satu tahun! Lumia mengerang penih kenikmatan, suaranya melengking manja dengan nada yang direkayasa, saat tadi ekor matanya sempat melirik ke arah pintu dan melihat ada seseorang termangu melihat mereka. Mata mereka bertemu, Ruby dan Lumia, si kakak dan pengkhianat! Lumia berikan senyum pada Ruby. Bukan senyum kaget, bukan pula senyum malu, melainkan senyum puas yang melengkung sempurna di bibirnya yang merah dab membengkak. Senyum kemenangan yang sudah dia rencanakan sejak mereka berbagi atap yang sama, sejak Lumia melihat sang kakak, Ruby, hidup bahagia dan memutuskan bahwa kebahagiaan itu harus menjadi miliknya. Lumia sengaja melengkungkan punggungnya lebih tinggi, mencengkeram rambut Alan agar pria itu semakin dalam ‘melayaninya’. "Alan... ahhh… lebih dalam, Sayang, iya begitu… Katakan... aku satu-satunya milikmu..." Serignai tipis muncul di bibir Lumia. Posisi tubuh Alan yang membelakangi pintu, tentu membuatnya tidak menyadari kehadiran Ruby. Apalagi dia sedang sibuk menikmati inti tubuh Lumia. BRAKKK! Pintu menghantam dinding dengan dentuman yang seolah bisa meruntuhkan fondasi rumah. Alan terlonjak, kepalanya terangkat dengan wajah yang basah dan mata yang liar karena terkejut. Semakin terkejut saat melihat sosok wanita yang membanting pintu kamar itu, "Ruby? I-ini... ini tidak seperti yang…" Seperti biasa, karena merasa bersalah, Alan mengeluarkan kalimat paling klise dalam sejarah pengkhianatan yang keluar dari bibir seorang pria yang pernah Ruby cintai. Siapa yang tidak terkejut setengah mati saat melihat tunangan berdiri dengan wajah merah padam penuh amarah ketika kamu sedang ada di posisi yang ‘tidak wajar’. Matanya yang tadinya terpejam penuh kenikmatan kini melebar penuh kengerian. "Jangan selesaikan kalimat itu, Alan," suara Ruby terdengar ingin dan mematikan. Matanya tidak menatap Alan, melainkan menatap bercak cairan putih di atas seprai suteranya. "Kalian mengotori tempat tidur Ibuku dengan cairan menjijikkan itu." Wajah Alan pucat seperti mayat, bibirnya gemetaran tanpa suara dengan juniornya yang masih siap, masih tegak berdiri, dengan tubuh berkeringat. Lumia bangkit dengan santai. Tanpa sehelai benang pun berjalan mendekati Ruby dengan gerakan yang provokatif, membiarkan tubuhnya yang berkilau keringat terpampang jelas.Mata Ruby memerah marah saat melihat Lumia yang tanpa rasa bersalah, tanpa seheleai benang pun di depannya, tanpa rasa malu, tanpa rasa apa pun selain kemenangan. "Hai, Kak. Selamat datang di dunia nyata," bisik Lumia tepat di telinga Ruby. Bau keringat dan gairah pengkhianatan mereka menyerang penciuman Ruby, membuatnya ingin muntah tepat di wajah adiknya. "Alan tuh hanya butuh kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh perempuan kaku sepertimu. Tubuhmu itu cuma hiasan, Kak. Tidak berguna. Alan membutuhkan kehangatan tubuhku. Tubuh yang tahu cara memuaskan. Tubuh yang…" PLAAKKK Tamparan datang begitu cepat sehingga Lumia tidak sempat menghindar. Begitu keras sampai membuat lengan Ruby yang memukul terasa mati rasa juga menyisakan suara napas Ruby yang memburu. Dasar tidak waras, Lumia malah tertawa, tawa yang sama dengan Indri, tawa yang telah Ruby dengar selama bertahun-tahun, tawa penindas yang tahu mereka menang. Lumia mengusap pipinya yang memerah dan ada bekas jari Ruby yang menamparnya. "Kau berani menamparku?" tanya Lumia, seolah-olah dirinya adalah korban, seolah-olah Ruby yang bersalah, “di rumahku? Di depan calon suamiku?" "Ini rumahku," desis Ruby tajam, “ayahku yang membangunnya. Sedangkan kau dan ibumu…" "Ayahmu sudah mati," potong Lumia, senyumnya melengkung sempurna penuh kemenangan, “dia tenggelam. Ingat? Dan sekarang, semuanya milikku. Rumah ini, juga Alan. Segalanya yang ada di sini adalah milikku! Lihatlah di meja nakas itu adalah sertipikat rumah ini atas nama mamaku!” Tangan Ruby kembali terangkat tapi Lumia malah sengaja menantangnya, “kamu ingin menamparku lagi? Lakukan saja, Kak Ruby yang baik hati! Jadi Alan akhirnya bisa tahu sejahat apa kamu sebenarnya!” Kali ini seringai yang muncul di bibir Lumia. Ruby menoleh ke arah Alan yang masih mematung, menutupi tubuhnya dengan selimut seperti pecundang. "Kalian berdua memang serasi," ucap Ruby, suaranya sudah tenang tapi penuh kebencian, “sampah memang harus bertemu dengan tempat sampah. Nikmati rumah ini selagi kalian bisa, karena aku tidak akan hanya mengambil kembali sertipikat itu. Aku akan memastikan kalian semua merangkak di kakiku hanya untuk meminta satu hirupan napas." Ruby berbalik, membiarkan pintu itu terbuka lebar. Dia melangkah keluar ke bawah guyuran hujan Jakarta yang deras, membiarkan air menghapus bau pengkhianatan dari kulitnya, sementara di kepalanya, sebuah rencana gelap mulai tersusun rapi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD