Ruby berdiri gemetar di tepi distrik bisnis, dia kedinginan tidak hanya fisik tapi juga hatinya. Tangannya mencoba menyeka wajah, tapi dia tak tahu lagi mana yang air hujan dan mana yang air mata.
Dia memegang ponsel canggihnya dengan jemari yang nyaris mati rasa. Matanya fokus menatap satu pesan dari Maya, "Pojok jalan Gatot Subroto. Cari mobil hitam. Dia satu-satunya yang bisa menolongmu keluar dari neraka ini."
Cahaya lampu xenon tiba-tiba membelah tirai hujan, nyaris membutakan mata Ruby yang malah tidak menghindar. Dia justru terpaku, menantang moncong mobil mewah itu seolah nyawanya hanyalah koin seribuan yang siap dia buang kapan saja.
Baginya, nyawa sudah tak ada harganya sejak menonton video 47 detik itu, sejak Alan mencampakannya demi Lumia, adik tirinya, dan rumah warisan ayahnya dirampas oleh Indri.
Citttt!
Ban mobil itu berhenti tepat satu inci dari lutut Ruby yang seketika lemas gemetaran. Pintu bagian supir terbuka. Seorang pria keluar tanpa payung, membiarkan hujan mengenai jas custom-made yang membungkus bahu tegapnya.
Anehnya, dia tidak terlihat panik, malah lebih terlihat merasa terganggu oleh pemandangan di depannya.
Dia tidak mendekat dengan cara seorang pahlawan penyelamat yang ada di dongeng pengantar mimpi. Malah dia berdiri tegak dan menatap Ruby. Sepasang mata gelap yang liar, dalam dan tampak mampu menelanjangi rahasia terdalam Ruby.
"Jika ingin mati, jangan gunakan mobilku sebagai senjatanya," suara pria itu terdengar rendah, berwibawa dan sangat dingin, “itu akan mengotori laporan asuransiku."
Ruby mendongak, mencoba menemukan sisa keberaniannya di tengah badai, “ha…?” tanyanya bak orang bodoh.
Alis pria itu bertaut, semakin menelisik penampilan Ruby, "atau hanya terlalu bodoh untuk melihat jalan?"
"Hei…, aku tidak... haah, sudahlah, aku minta maaf." Balas Ruby walau dengan nada kesal.
"Kamu menangis," sebuah pernyataan, bukan sebagai pertanyaan. Jemari si pria misterius itu menyodorkan selembar sapu tangan linen putih dari sakunya. Sapu tangan itu bahkan tidak basah terkena air hujan.
"Hapus wajahmu yang kacau itu. Kamu terlihat menyedihkan."
Seharusnya Ruby menolaknya tapi entah kenapa seolah ada magnet dari si Dewa Yunani ini yang mampu menggerakkan tangannya tanpa izin dari otaknya untuk mengambil sapu tangan itu.
Saat Ruby mengambilnya, ujung jari mereka bersentuhan. Zapp. Sebuah sengatan listrik statis, atau entah apa itu, meledak di sana. Ruby berjengit kaget dan segera menarik tangannya, walau matanya terkunci pada rahang tegas pria itu yang mengeras.
"Alaric," ucapnya singkat, menyebutkan namanya yang terdengar seperti mantra kuno di telinga Ruby yang mampu menghipnotisnya. "Kafe di ujung jalan. Sekarang. Atau aku akan membiarkanmu membeku di sini sebagai hiasan jalanan."
Pria itu berbalik, masuk ke mobilnya, dan melaju pergi, meninggalkan aroma woody dan amber yang sangat maskulin di tengah bau hujan.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan Ruby yang masih berdiri terbengong di bawah guyuran hujan dengan memegang sapu tangan Alaric plus berjuta pertanyaan.
Kepala Ruby mengikuti perginya mobil Alaric, “hah? Tuh orang ngomong apa sih? Macam jaelani aja, datang gak diundang, pulang gak diantar.” Tapi mau tidak mau, Ruby menyeret kopernya menuju ujung jalan, ke sebuah kafe sekalian untuk berteduh.
Kafe L'Obscurité, 15 Menit Kemudian
Kafe itu bernama L'Obscurité, nama yang cocok untuk suasana hati Ruby saat ini, gelap. Senada dengan namanya, suasana di dalam kafe juga gelap.
Ruby masuk ke kafe itu dengan langkah terseret, meninggalkan jejak air di lantai kayu yang mahal. Matanya berkeliling mencari satu sosok pria yang tadi mengenalkan diri sebagai Alaric.
Dia melihatnya di sudut paling gelap. Alaric Mahesa duduk di sana, menyesap kopi hitam tanpa gula, lengannya yang kekar tampak menyembul dari gulungan kemeja putihnya yang basah di bagian bahu.
Di seberangnya, sudah ada secangkir cokelat panas yang masih mengepulkan uap.
Ruby duduk dengan tubuh menggigil. Tanpa banyak bicara, dia langsung mengambil cangkir hangat itu agar tangannya bisa ditempelkan ke dinding cangkir untuk mendapatkan sedikit kehangatan.
Seolah-olah Alaric tahu pasti Ruby akan datang ke kafe menemuinya. Seolah-olah pertemuan mereka di tengah hujan tadi bukan sebuah kesengajaan tapi memang sudah direncanakan.
Ruby menggeleng, mengusir pikirannya yang liar. Paranoia! Itu yang terjadi ketika hatimu hancur dan kamu mulai melihat konspirasi di mana-mana, mulai meragukan niat baik bahkan sebelum niat itu diungkapkan.
"Kamu tahu aku akan datang atau kamu menguntitku?" tanya Ruby.
Alaric tidak mau repot mendongak dari tablet di tangannya. "Aku tidak menebak, Ruby. Aku menghitung. Dan perhitunganku jarang salah. Lagipula Ada perbedaan antara mengikuti dan menghitung."
"Terserah saja, tapi kamu tahu aku akan ke sini," kata Ruby lagi, jari-jarinya masih gemetaran membungkus cangkir keramik yang hangat, berusaha menyerap panasnya, “kalau gitu kenapa tadi gak ngajak aku sekalian naik mobilmu, sih? Kenapa malah sengaja seperti ini?” rutuknya.
Alaric akhirnya meletakkan tabletnya, menatap Ruby dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.
"Aku tahu banyak hal, Ruby," Alaric menyesap kopi hitamnya tanpa mengalihkan pandangannya dari bibir Ruby yang pucat, “aku tahu tentang video 47 detik itu. Aku juga tahu tentang rumah yang dirampas Indri. Dan aku tahu Alan Hadiputra, sampah yang bekerja di perusahaanku, sedang merayakan pengkhianatannya di atas ranjang yang bukan miliknya, bersama adik tirimu."
Ruby tersedak cokelat panasnya. "Alan…, dia bekerja untukmu?"
"Dia hanya butiran debu di divisiku, tapi cukup mengganggu sehingga harus dibersihkan," tubuh Alaric condong ke depan, mengikis ruang di antara mereka. Cahaya redup kafe menyoroti luka lama yang tersembunyi di matanya.
"Indri bukan hanya musuhmu, Ruby Kecil. Dia adalah hutang darah yang harus kuselesaikan sejak lama. Dan kamu? Kamu adalah senjata paling indah yang pernah dia ‘ciptakan’ sendiri untuk menghancurkannya." Kata Alaric dengan tangan membuat tanda kutip saat berkata ciptakan.
Yah, mungkin itu berlebihan tapi itu menunjukkan bahwa Alaric ternyata bersinggungan dengannya.
Tapi wait, Ruby kecil? Sejak kapan namaku berubah jadi Ruby kecil sih?
Seketika Ruby merasa bingung, coba merangkai kepingan puzzle. Dia sibuk memroses informasi yang baru dia dengar. Ternyata, pria di depannya ini, pria misterius sesempurna Dewa Yunani yang nyasar, yang menawarkan sapu tangan, adalah bos Alan, si CEO, si pemilik perusahaan.
Hebatnya lagi, dia tahu tentang dirinya, tahu tentang apa yang terjadi padanya.
"Kamu..." suara Ruby tercekat, "kamu orang yang dibilang Maya ya?" tanyanya setelah mampu menyatukan kepingan puzzle.
Alaric mengangguk, "Maya adalah sepupu jauhku.”
Ruby menahan napas, “apa maumu?"
"Aku butuh partner untuk menjatuhkan Indri tanpa tanganku terlihat kotor. Kamu butuh perlindungan, martabat dan... tempat tinggal. Kita bisa bekerja sama." Jawab Alaric, tegas.
"Kamu ingin membalas dendam," kata Ruby, bukan bertanya walau juga tidak terdengar tuduhan.
"Aku ingin keadilan," Alaric menggeleng, walau di nadanya menunjukkan kedua hal itu adalah sama, “dan aku melihat peluang. Aku melihatmu, Ruby. Kamu adalah peluang emas yang tidak bisa aku lewatkan. Kamu sempurna, kamu tunangan Alan yang direbut oleh adik tirimu, Lumia, yang adalah anak Indri. Kamu memiliki akses ke mereka dan aku membutuhkan itu.”
"Kamu ingin aku menjadi apa? Mata-mata? Alat?" suara Ruby terdengar tajam dan ada sedikit emosi sebagai pertahanan terakhir dari seseorang yang telah terlalu sering ditindas.
Alaric tersenyum lagi tapi kali ini senyumnya berbeda, lebih terlihat culas.
"Aku ingin kamu menjadi partnerku," jawabnya, “partner yang akan berbagi segalanya denganku," Alaric menurunkan pandangannya ke arah d**a Ruby, di mana gaun putih yang basah itu mencetak jelas siluet tubuhnya termasuk bra warna cokelat yang Ruby kenakan. Alaric bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan rasa lapar di matanya. "Termasuk tempat tinggal. Apartemenku di pusat kota kosong, kamu bisa tinggal di sana."
Alaric mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna emas dari dompet kulitnya. Kartu itu berkilat mewah.
"Apartemenku. Penthouse ternyaman," kata Alaric datar.
Ruby ternganga. "Maksudmu... tinggal bersamamu, di apartemenmu?” Ruby menahan napas. Atmosfer di meja itu mendadak berubah menjadi berat dan penuh muatan seksual. Pikiran paranoia Ruby sudah melanglang buana kemana-mana.
Alaric menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya, begitu tipis tapi sangat menggoda, “jangan terlalu percaya diri. Kamu bisa berada di sayap kiri tanpa pernah melihat bayanganku jika itu yang kamu mau. Tapi bayangkan wajah Alan saat dia tahu mantan tunangannya tinggal di puncak gedung yang bahkan tidak bisa dia masuki lewat pintu belakang."
Tensi di antara mereka mendadak berubah menjadi sesuatu yang lebih pekat dari kopi Alaric. Ruby bisa melihat ibu jari Alaric mengusap pinggiran cangkirnya, sebuah gerakan yang sangat halus namun terasa seperti godaan yang tersembunyi.
"Tinggal di sana, Ruby," bisik Alaric, “jadilah penguasa di tempat yang tidak akan pernah bisa dijangkau para pengkhianatmu. Jadilah tamengku di depan Eyang dan aku akan memberimu bahan bakar untuk membakar mereka."
Ruby menatap kartu emas itu, lalu menatap mata Alaric yang menantang. "Kenapa harus aku?"
Alaric berdiri, mengambil jasnya, lalu membungkuk sedikit hingga napasnya yang beraroma kopi dan mint menyentuh telinga Ruby. "Karena di tengah hujan tadi, kamu tidak terlihat seperti korban. Kamu terlihat seperti badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak. Dan aku selalu suka bermain dengan api." Kedipnya.
“Ingatlah Ruby, menangis tidak akan mengembalikan rumahmu atau pria b******k itu," suara Alaric rendah namun berwibawa.
Alaric melangkah pergi, meninggalkan kunci penthouse itu berkilau di atas meja, sebuah undangan menuju surga yang mungkin akan terasa seperti neraka, atau sebaliknya.