Vania berbaring di atas handuk pantai, kacamata hitam menutupi matanya, kulitnya hangat terkena sinar matahari sore. Angin laut mengibaskan rambutnya yang terurai, membuat beberapa helai menempel di pipinya. Ia tampak tenang, walau di dalam dadanya perasaan masih bergejolak sejak pagi tadi. Devan berdiri di sampingnya, menatap Vania cukup lama. Ia melihat keringat tipis di pelipis gadis itu, refleks tangannya terangkat. Dengan lembut Devan mengusap keringat di dahi Vania menggunakan sapu tangan kecil yang ia bawa. “Vania, kamu kepanasan,” ujar Devan pelan. Vania sedikit terkejut, menurunkan kacamata hitamnya. “Eh… Devan?” suaranya lirih, lalu ia tersenyum kecil. “Aku nggak apa-apa. Cuma berjemur sebentar.” Devan tersenyum balik. “Kulitmu bisa iritasi kalau terlalu lama. Mau aku ambilka

