Langit perlahan berubah warna. Jingga, keemasan, lalu semburat merah muda membentang luas di ufuk barat. Ombak bergerak pelan, seolah ikut menikmati senja yang turun dengan tenang. Vania berdiri di tepi pantai, kedua kakinya terbenam pasir basah. Matanya menatap matahari yang hampir tenggelam, napasnya terasa lebih ringan setiap kali hembusan angin laut menyentuh wajahnya. “Indah sekali,” gumam Vania pelan. Di belakangnya, Devan berdiri beberapa langkah. Ia memperhatikan siluet Vania yang tersorot cahaya senja. Tanpa banyak pikir, kakinya melangkah mendekat. “Vania,” panggilnya lembut. Vania menoleh sedikit. “Kenapa?” Devan berdiri tepat di belakangnya. Tangannya terangkat ragu, lalu perlahan melingkar di pinggang Vania, memeluk dari belakang. Tidak erat, tidak kasar, tapi cukup untu

